Media "Curhat" Islami

Islam is the way of my life

ADAB BERPUASA


 

Allah SWT, mewajibkan puasa ramadhan pada bulan sya’ban tahun ke2 H, yaitu dengan turunnya firman Allah SWT yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah : 183)

Rasulullah puasa ramadhan sebanyak 9 kali hingga beliau SAW meninggal dunia pada bulan rabi’ul awwal tahun ke 11 H.

Ayat diatas menjelaskan kepada kita, bahwa Allah mewajibkan puasa ramadhan bagi orang-orang yang beriman dengan tujuan mudah2x mereka menjadi orang-orang yang bertakwa.

Ulama berbeda pendapat tentang puasa yang di wajibkan atas umat islam sebelum turunnya firman allah dalam     surat al baqoroh ayat 183, pada dua pendapat:

Pertama: diwajibkan atas umat islam puasa asyura (10 Muharram) setelah itu di hapus dengan turunnya firman Allah surat al  baqoroh:  183

Kedua: diwajibkan atas umat islam berpuasa 3 hari setiap bulan  (puasa biid) setelah itu di hapus dengan turunnya firman Allah SWT dalam surat al baqoroh: 183

Yang paling rojih adalah pendapat pertama, dengan dalil hadits shahih yang diriwayatkan dari Mu’awiyyah ra, bahwa Rasulullah naik mimbar kemudian bersabada:

إن الله فرض عليكم صيام يومكم هذا في ساعتي هذه

Hikmah Terbesar dalam Puasa

Diantara hikmah puasa adalah pembiasan diri untuk ikhlas  karena Allah SWT.  Karena seseorang apabila terbiasa dengan sesuatu, maka ia akan terikat dengan apa yang ia biasakan, baik maupun buruk. Kalau ia terbiasa dengan kebaikan maka akan terus berada dalam kebaikan, dan jika terbiasa dengan kejahatan, maka ia akan berjalan pada jalan kesesatan.

Maka diantara tujuan utama puasa adalah membiasakan manusia bersifat ikhlas kepada Allah SWT, karena puasa adalah ibadah paling rahasia, seseorang bisa berpura-pura puasa di hadapan orang lain, kemudian ia berbuka di dalam rumahnya, ia makan dan minum ketika orang lain tidak ada yang melihat. Dengan demikian puasa mendidik kita untuk selalu ikhlas kepada Allah serta jujur pada diri sendiri, Oleh karena itu, didalam hadits qudsy Allah berfirman:”

قال رسول لله صلي لله عليه وسلم:” قال الله تعالي:” كل عمل ابن آدم له إلا الصيام, فإنه لي وأنا أجزي به (أخرجة البخاري)

Fainnahu li… artinya Ikhlas hanya karena allah semata.

Jika kita ingin melihat seseorang yang kuat, yang sanggup melaksanakan ketaatan kepada Allah, waktu senang ataupun susah, (dengan pertolongan Allah SWT tentunya) maka lihatlah orang menjadikan hawa nafsunya dibawah kendalinya, bukan malah dia yang dikendalikan oleh nafsu. Allah berfirman:

وأما من خاف مقام ربه ونهي النفس عن الهوي فإن الجنة هي المأوي

 

Jika kita bisa menaklukkan hawa nafsu dan bisa mengendalikannya sesuai dengan keinginan kita maka sesunggunya kita telah mendapatkan kebaikan. Tetapi jika yang terjadi malah sebaliknya maka itu bener2x sebuah musibah,

Maka ketika berpuasa, hawa nafsu berada di bawah kendali kita, karena nafsu menginginkan makan, minum, dan lain sebagainya, dengan demikian kekuasaan seseorang bertambah kuat atas hawa nafsunya. Dan ini terjadi pada banyak ibadah

Sebagai contoh, hawa nafsu ingin tidur, ketika subuh tiba, ia pun bangun dan ia paksa dirinya untuk mendirikan shalat. Jika itu dilakukan dengan terus-menerus insya Allah, subuh tidak akan terasa berat, karena nafsu telah berada dibawah kendali kita. Begitu juga pada ibadah2x lainnya.

Syahwat Makan, kita taklukkan dengan perintah puasa

Syahwat Harta, kita taklukkan dengan perintah Zakat

Syahwat istri dan anak serta keluarga, kita taklukkan dengan kewajiban haji

Jika manusia dapat mengkontrol hawa nafsunya maka ia akan bisa menyuruh hawa nafsu tersebut kepada kebaikan yang ia inginkan…

Oleh karena itulah, manusia terbagi pada 3 golongan:

Pertama: Yaitu orang yang hawa nafsunya di bawah kontrolnya sendiri, mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia sebagaimana firman Allah swt :

وأما من خاف مقام ربه ونهي النفس عن الهوي فإن الجنة هي المأوي

Kedua: Hawa nafsunya lebih mendominasi dirinya. Allah berfirman tentang golongan ini:

 

Artinya:” Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Al Jatsiah: 23)

Maka orang2x pada golongan ini, didunia manapun ia tinggal ia akan hancur dan akan mendapatkan hukuman dari Allah SWT. Maka kita sering milihat orang berbuat dosa, ketika kita larang, ia mengatakan,:”saya tahu ini haram, tetapi saya tidak bisa meninggalkannya”. Itu artinya hawa nafsunya telah menguasai dirinya, dan dirinya sendiri tidak lain adalah budak nafsunya.

Golongan ketiga adalah golongan yang mencampur aduk amal shaleh dan maksiat, orang2x ini kita serahkan kepada Allah. Mereka itu adalah orang2x yang kadang bisa menguasai hawa nafsunya dan kadang di kuasai oleh hawa nafsunya.

Puasa mendidik kita untuk bisa mengontrol hawa nafsu, Ulama kita mengatakan, jika seseorang sanggup menahan dirinya dari makan, minum, bercampur dengan istri yang semua itu halal baginya, maka tentu ia lebih sanggup menahan dirinya dari apa-apa yang Allah haramkan untuknya..

Adab Berpuasa

Adab saat berpuasa di bagi pada dua macam:

Pertama: hukumnya wajib

  • Seorang yang berpuasa harus benar-benar mengerjakan kewajibannya sebagai muslim, diantaranya dengan mendirikan shalat, berbakti pada orang tua, jujur dan sebagainya.
  • Menghindari hal-hal yang terlarang seperti berbohong, mengadu-domba, mencaci orang lain, ghibah, dan sebagainya. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

فعن ابي هريرة رضي الله عنة عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال((من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس

لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه)) (أخرجة البخاري)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.a dari Rasulullah SAW, Ia bersabda :” Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (bohong) dan beramal dengannya, maka Allah tidak butuh kepada usahanya dalam meninggalkan makan dan minumnya.” (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari: 4/116).

Juga wajib baginya menghindar dari segala sesuatu yang diharamkan, Tangannya tidak dipergunakan untuk mengambil sesuatu yang haram, kakinya tidak melangkah ketempat yang haram, ia tidak memakan kecuali yang halal.

Tujuan puasa bukanlah bukanlah menahal lapar dan dahaga, tetapi tujuannya adalah apa yang dihasilkan oleh keduanya, yaitu menaklukkan sahwat dan hawa nafsu. Oleh karena itulah Rasulullah SAW bersabda :

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ورب قائم لس له من قيامة إلي السهر (أخرجه أبن ماجة من حديث أبي هريرة)

Orang yang berpuasa adalah orang perutnya berpuasa dari makanan, panca indranya berpuasa dari dosa, dan lisannya dari kata-kata kotor, matanya dari hal-hal yang haram, pendengarannya dari hal-hal yang haram, kemaluannya dari hal-hal yang terlarang. Maka ketika ia berbicara, ia tidak berbicara dengan sesuatu yang dapat mengurangi nilai puasanya, ketika ia mengerjakan sesuatu, ia tidak mengerjakan sesuatu yang dapat merusak puasanya. Kata-katanya akan selau bermanfaat dan perbuatannya merupakan amal shaleh.

Kedua: hukumnya sunnah

* Menyambut ramadhan dengan senang dan gembira. Karena bulan ramadhan adalah merupakan salah satu kurnia yang Allah berikan pada umat ini. Allah SWT berfirman:

Artinya:” Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“. (QS. Yunus : 58)

* Berdoa ketika melihat hilal, sebagaimana disebutkan didalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar R.a, bahwa Rasulullah ketika melihat hilal berdoa:

الله أكـــبر, اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام والتوفيق لما تحب وترضي ربنا وربك الله

Rasulullah SAW bersabda”Robbuna warobbuka Alloh”. Artinya: Kamu dan saya adalah hamba Allah. Karena Bulan, matahari disembah. Maka Rasulullah SAW ingin memberitahukan kepada manusia bahwa seluruh makhluq adalah ciptaan Allah SWT. Maka Rasululullah mengatakan, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, maka tidak berhak bagi seseorang untuk menyembah selain Allah. Yang menciptakan kamu adalah allah, yang memunculkan kamu adalah Allah, yang menghiasai kamu adalah Allah, Maka sebagaimana saya ini ciptaan Allah, maka kamu juga ciptaan Allah, maka telah sesatlah orang yang menyembahmu dan telah sesatlah orang yang menyembah selain Allah.

* Memperbanyak Amal Ibadah terutama Membaca Al Qur’an

Ketika bulan ramadhan tiba, Rasulullah SAW berusaha sekuat tenanga untuk terus berbuat kebaikan, bersedekah, infak, hibah, bahkan pakaian yang ia pakai dan sangat butuhkan, ketika di minta akan diberikan.

Juga merupakan sunnah yang harus kita ambil pelajaran dari Rasulullah, yaitu kehidupan beliau bersama Al Qur’an. Rasulullah SAW mempelajari Al qur’an ketika bulan ramadhan bersama jibril. Bulan Ramadhan Adalah bulan Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT:

ãöky­ tb$ŸÒtBu‘ ü“Ï%©!$# tA̓Ré& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# ”W‰èd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3“y‰ßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4

Artinya:”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Bulan ini adalah bulan qur’an, dan perhatian rasulullah SAW terhadap al-quran adalah melebih dari segalanya. Karena Al Qur’an adalah mu’jizat abadi yang Allah turunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Dan pembeda antara yang haq dan yang bathil, yang kekal sampai hari kiamat. Rasulullah bersabda :

تركت فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا أبدا كتاب الله وسنتي

Rasulullah menjadikan sebaik2x waktunya di bulan ramadhan untuk Alqur’an, oleh karena itulah ketika Aisyah Ra.ditanya sebagaimana yang di sebutkan didalam hadits muslim…

كيف كانت خلقه صلي الله عليه وسلم؟ قالت : خلقه القرآن

Kehidupan rasulullah SAW dengan Al Qur’an bukan hanya membaca, tetapi lebih dari itu, dengan tafakkur, tadabbur, dan kemudian di di laksanakan didalam kehidupan sehari2x.

Didalam sebuah hadits (disebuktkan oleh banyak mufassirin didalam tafsir mereka) diriwayatkan bahwa Bilal bin Rabah datang kemesjid waktu subuh, ia mendengar Rasulullah membaca firman Allah SWT:

 

Artinya:” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran : 190-191).

Kemudian Rasulullah berkata kepada BIlal bin Rabah:” Telah turun kepadaku banyak ayat, celakalah orang-orang yang membacanya sedang ia tidak memikirkannya”.

Banyak diantara salaf as sholeh, menganggap bahwa ramadhan adalah bulan Al Qur’an, dan tidak bisa di ganggu oleh selainnya meski sebesar apapun derajat ilmu. Imam malik contohnya, ketika ramadhan tiba, beliau berhenti berfatwa, berhenti mengajar . Ia kemudian membaca Al Qur’an dan berkata:” ini adalah bulan al quran”.

Ibnu Hajar Al Asqolani ketika menulis profil Imam bukhori, ia mengatakan bahwa imam Bukhori menghatamkan al qur’an di bulan ramadhan 60 kali (1 kali di malam hari dan satu kali di siang hari).

Tetapi apakan ini sunnah? Disana banyak pendapat..

Tetapi yang jelas, sunnah rasulullah adalah tidak boleh mengkhatamkan al qur’an kurang dari 3 hari, sebagaimana sabda Rasulullah:

وقال: ” لم يفقه من قرأ القرآن في أقل من ثلاث (أخرجه أبو داود (1394)، والترمذي (2950) من حديث عبد الله بن عمرو، وإسناده صحيح)

يقول: (اقرؤوا القرآن في سبع ولا تقرؤوه في أقل من ثلاث)[1]

Saya menyebutkan kisah ini hanya sebagai bukti bahwa salaf as shaleh sangan memperhatikan bacaan al qur’an di bulan ramadhan.

* Tidak menyia-nyiakan makan sahur[2]. Nabi Muhammad bersabda:

اَلسَّحُوْرُ كُلُّهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ اْلمُتَسَحِّرِيْنَ

“Semua makan sahur adalah berkah maka janganlah kalian meninggalkannya sekalipun dengan meneguk air, sesungguhnya Allah dan para malaikatnya berdo’a bagi mereka yang makan sahur”.

Keberhakahan sahur kembali pada tiga factor:

  1. Menghipkan sunnah Rasulullah dan keberkahan sunnah tidak bisa ditandingi apapun.
  2. Waktu itu adalah waktu turunnya Allah ke langit dunia, Ia kemudian berfirman:” apa kaha ada yang memohon sesuatu niscaya akan aku kabulkan? Apakah ada orang yang minta ampun niscaya aku ampuni? Maka jika kita sahur, berzikir dan mohon ampun kepadanya, niscaya kita akan di ampuni oleh Allah SWT.
  3. Makan sahur akan membantu kita sewaktu puasa di siang hari,

Di antara keutamaan makan sahur adalah sebagaimana ditegaskan oleh Nabi r dalam sabdanya:

فَصْلُ مَابَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ اْلِكتَابِ أَكَلَةُ السَّحُوْرِ

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur”.

Bersahur dengan kurma sebagaimana sabda Rasulullah

نِعْمَ سَحُوْرِ اْلمُؤْمِنِ التَّمْرُ

“Sebaik-baik sahur seorang mu’min adalah kurma”.

Juga disunnahkan untuk menterakhirkan sahur sebagaimana sabda Rasululah:

إنا معشر الأنبياء أمرنا بتعجيل فطرنا وتأخير سحورنا وأن نضع أيماننا علي شمائلنا في الصلاة

* Menyegerakan berbuka puasa. Sesuai dengan hadits-hadits Rasulullah yang berbunyi:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ (أخرجه البخاري و سلم:من حديث سهل بن سعد رضي الله عنه)

لاَ تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُوم (أخرجه ابن خزيمة و ابن حبان من حديث سهل بن سعد رضي الله عنه وصححه الألباني في “السلسلة الصحيحة”: وفي صحيح موارد الظمآن: (738)، وصحيح الترغيب: (1074))

لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الفِطْرَ لأَنَّ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ»(أخرجه أبو داود: (2353)، وابن ماجه: (1698)، وابن خزيمة: (3/275)، وابن حبان: (889) من حديث أبي هريرة رضي الله عنه وحسنه الألباني في صحيح موارد الظمآن: (736)، وفي صحيح الترغيب: (1075)

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، -من جهة الشرق-  وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ»(٣٢-  أخرجه البخاري: (1954)، ومسلم: (1100)، من حديث عمر بن الخطاب رضي الله عنه).

* Shalat malam dan berusaha untuk terus berjama’ah

Rasulullah bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مع الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ»(٥٢- أخرجه أبو داود: (2/105)، والترمذي: (3/169)، والنسائي: (3/202، 203)، من حديث أبي ذر الغفاري رضي الله عنه، وصححه الألباني في صحيح أبي داود: (1375) وصحيح الترمذي: (806))

 


[1] ذكره ابن حجر في الفتح 9/ 97 وقال هو عند سعيد ابن منصور بإسناد صحيح

[2] Sahur di mulai sejak pertengahan malam hingga terbit fajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 10, 2009 by in Curhat.

Imam Malik berkata:

” Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawwuf tanpa fiqh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqh tanpa tasawwuf dia telah fasiq, dan siapa yang mempelari tasawwuf dan fiqh dia meraih kebenaran”.

Top Rated

Blog Stats

  • 74,998 hits
%d bloggers like this: