Media "Curhat" Islami

Islam is the way of my life

Benarkah Al-Quran lebih berpihak kepada laki-laki ?


Banyak diantara orang-orang yang tidak faham islam yang menuduh bahwa Al-Quran lebih berpihak kepada laki-laki dalam beberapa hal terutama dalam hal pembagian harta waris, dalam pernikahan, dan dalam kepemimpinan. Bahkan ada yang sampai menuduh bahwa Allah tidak adil (Na’udzu billahi). Kemudian dengan semboyan HAM (Hak Asasi Manusia) dan Emansipasi wanita, mereka meneriakkan persamaan dalam segala hal antara laki-laki dan perempuan. Apakah memang Al-Quran lebih berpihak kepada laki-laki?

Perlu dimengerti, bahwa segala ketentuan Allah itu dalam hukum-Nya tidaklah mengandung unsur keberpihakan atau berat sebelah kepada pihak tertentu. Kelebihan yang Allah berikan kepada satu pihak dalam ketentuan-Nya, tidak bisa diartikan sebagai keberpihakan. Misalnya, Allah wajibkan dalam hal mencari nafkah atas pria dan tidak atas wanita. Juga Allah wajibkan berperang melawan musuh atas pria dan tidak atas wanita. Allah wajibkan atas pria mempertanggungjawabkan dihadapan-Nya keselamatan anggota keluarganya dari api neraka, dan tidak ada kewajiban yang demikian ini atas wanita. Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam mewajibkan atas pria untuk shalat berjama’ah lima waktu dimasjid, dan tidak diwajibkan atas wanita. Perlu diketahui bahwa keadilan itu tidak mesti bermakna sama rata dan sama rasa. Keadilan dengan makna yang demikian tidak pernah ada dialam nyata dan hanya ada dialam khayal.

Keadilan itu sesungguhnya adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Maka adalah keadilan Allah yang Maha Sempurna ketika menciptakan perbedaan struktur tubuh pria dengan wanita. Adalah keadilan-Nya yang Maha Sempurna ketika wanita diciptakan dengan rahim untuk hamil dan melahirkan anak dengan penderitaan berbulan-bulan. Juga keadilan-Nya yang Maha Sempurna ketika menciptakan tubuh wanita yang memungkinkan untuk menyusui anaknya bertahun-bertahun. Demikian pula keadilan-Nya yang Maha Sempurna ketika menciptakan tubuh wanita dengan kemestian mengalami haidh (menstruasi) dan nifas sehingga sangat mempengaruhi fisik wanita itu dan mentalnya. Kemudian dengan berbagai perbedaan struktur tubuh pria dengan wanita itu, Allah menentukan hukum bahwa pimpinan itu ditangan pria dan bukan ditangan wanita. Karena perbedaan struktur tubuh berakibat pula kepada perbedaan mental spiritual pria dan wanita. Sehingga hak dan kewajiban antara keduanya tentu berbeda pula. Allah menentukan perbedaan hukum antara pria dan wanita dalam perkara pernikahan dimana pria diperbolehkan untuk berpoligami sedangkan wanita hanya boleh satu suami. Juga perbedaan dalam perkara hukum waris dimana wanita mendapat separuh dari bagian pria, berhubung tanggung jawab pemberian nafkah dibebankan oleh Allah kepada pria dan bukan kepada wanita.

Maka perbedaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita ditentukan oleh Allah berhubung diciptakannya perbedaan struktur tubuh antara pria dan wanita. Bila saudara ada yang menganggap perbedaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita itu berpihak kepada pria, maka mestinya dia juga menganggap bahwa Allah menciptakan ekosistem alam ini banyak berpihak kepada pria. Karena yang menikmati hubungan seks adalah pria dan wanita, tetapi mengapa yang menderita hamil dan melahirkan anak adalah wanita..? dan kemudian yang bersusah payah menyusui anak adalah wanita. Mestinya pria juga hamil dan melahirkan anak serta menyusuinya!! Bila pria dapat berhubungan seks dengan istrinya kapan saja, tetapi wanita terhalang berhubungan seks dengan suaminya di waktu-waktu haidh dan nifas. Mestinya pria pun harus juga menderita haidh dan nifas!! Dan maaf, mestinya kalau menurut teori sama rata sama rasa, kemaluan pria dan wanita tidak boleh berbeda. Karena perbedaan itu, wanita dapat dipaksa untuk melayani suaminya berhubungan seks, sedangkan pria tidak dapat dipaksa untuk melayani istrinya. Seandainya ekosistem alam ini menuruti tuntutan kesamaan antara pria dan wanita, niscaya tidak terjadi kehidupan dunia ini dan akan punah kehidupan yang ada padanya.

“Seandainya Allah mengikuti hawa nafsu mereka dalam mengatur alam ini, niscayalah akan terjadi kerusakan dilangit dan dibumi serta penghuninya. Akan tetapi Kami memberikan kepada mereka Al-Qur’an yang mengingatkan mereka, namun mereka lalai dari peringatan terhadap mereka.” (Al-Mu’minun: 71).

5 comments on “Benarkah Al-Quran lebih berpihak kepada laki-laki ?

  1. Yunus Anis
    December 8, 2007

    “Banyak orang yang tidak faham dengan agama Islam”. Sebuah kalimat yang menunjukkan arogansi individual. Kalimat ini sebenarnya tidak akan muncul dari seseorang yang memahami benar-benar hakikat dari sifat tawadhu’. Ingat bahwa pemahaman yang paling benar hanyalah milik Allah. Allah huwal haq dan kesombongan sepenuhnya hanyalah sifat Allah. Manusia tidak boleh mengikuti dan mengambil sifatNya dengan serampangan.

    Al Qur’an menurut saya memang berpihak kepada kaum laki-laki. Banyak hal yang mendasari pemikiran tersebut. Namun di satu sisi saya menemukan sebuah hikmah tersendiri bahwa laki-laki sebagai mahluk yang mendapat prioritas lebih sebisa mungkin harus melindungi wanita yang lemah dan lembut.

    Selain itu budaya Arab ketika Al qur;an diturunkan memang sangat memihak kepada laki-laki.Perempuan mendapat posisi nomer dua,sedangkan laki2 punya hak lebih dari mereka.Kaum lelaki adalah mahluk Tuhan yang superior. Tidak ada yang menandingi kekuatan lelaki. Memang zaman dahulu kala belum ada isu gender dan persamaan hak antara lelaki dan wanita. Namun zaman ini semakin maju dan pemikiran manusia semakin berkembang bahwa manusia khususnya perempuan harus kreatif dan aktif. Perempuan tidak mau ketinggalan dalam ikut berperan serta dalam membela agama, nusa, dan bangsa. Kreatifitas dari kaum hawa harus dihargai dengan baik. Jangan memasung hak wanita. Banyak sekali ulama2 fiqh yang salah, mereka telah memasung hak perempuan, contohnya perempuan tidak boleh jadi pemimpin, perempuan harus pakai cadar, perempuan tidak boleh pakai wewangian, bahkan perempuan boleh di poligami. Manusia diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi. Perempuan tidak ingin mendapatkan sikap diskriminasi berlebihan dari kaum lelaki. Poligami adalah sebuah bukti nyata atas tindak diskriminasi lelaki kepada wanita. Berapa banyak lelaki yang melakukan poligami hanya sekedar untuk memuaskan nafsu seksualnya namun kaum lelaki justru malah menggunakan dalil poligami dalam agama untuk melegalkan kelakuan bejat mereka. Apakah anda pernah merasakan bagaimana sakitnya perempuan yang dimadu oleh seorang lelaki. Sebagai seorang lelaki yang bijak tanyakan hal tersebut pada diri anda.

    Mengapa anda masih memikirkan tentang struktur fisik tubuh manusia antara lelaki dan wanita. Sebuah hal yang sangat lucu jika anda berusaha menyamakan bentuk tubuh perempuan dan lelaki yang memang jelas-jelas berbeda. Perbedaan fisik tersebut tidak boleh digunakan hujjah untuk menghapus emansipasi wanita, melegalkan poligami, dan melarang perempuan untuk menjadi seorang muslimah tangguh di bidang kepemimpinan. Untuk saat ini emansipasai wanita harus tetap dijunjung tinggi dan poligami sebisa mungkin harus dihindari. Wanita juga masih relevan untuk menjadi pemimpin.

  2. farid_678 GEN B
    December 10, 2007

    ass, wr, wb

    1.
    “Kalimat ini sebenarnya tidak akan muncul dari seseorang yang memahami benar-benar hakikat dari sifat tawadhu’ ”

    coba anda tela’ah lagi kutipan tulisan anda yang dengan beraninya mengklaim ulama fiqih

    “Banyak sekali ulama2 fiqh yang salah”

    apakah anda bisa menyebutkan diri anda seorang yang
    bertawasou kepada seorang muslim untuk tawadhu’?
    tapi realitanya anda sendiri mengklaim ulama ulama fiqih banyak yang salah? Dan naifnya lagi anda juga tidak menyebut SIAPA ulama fiqih yang anda maksud? Sebagai orang yang berpendidikan tinggi tidak semestinya terlalu picik dan kerdil dalam
    menerima asumsi asumsi serta opini dengan tidak di
    barengi dengan alasan2 dan bukti yang jelas, terlebih dengan mengklaim.
    Apa gagasan anda?

    2.
    “perempuan tidak boleh jadi pemimpin”
    “perempuan harus pakai cadar”
    “perempuan tidak boleh pakai wewangian”
    “bahkan perempuan boleh di poligami”

    saya perlu gagasan yang memperkuat kutipan tulisan anda diatas.
    ma’na konotasinya berarti anda tidak setuju dengan 4 asumsi di atas, bahkan anda mengklaim itu salah.

    3.
    “Berapa banyak lelaki yang melakukan poligami hanya sekedar untuk memuaskan nafsu seksualnya namun kaum lelaki justru malah menggunakan dalil poligami dalam agama untuk melegalkan kelakuan bejat mereka”

    saya ingin bertanya kepada anda.
    apakah poligami itu tidak boleh?
    alasannya?

    apa yang anda pahami dalam penafsiran surat an nisa ayat 3

    syukron jazila

    wss wr wb

  3. ulfa
    December 11, 2007

    @pertanyaan taw comment sebelum saya
    bagus!
    mang tyap Qta harus saling mengingatkan bukan
    @ptanyaan sblm saya, kok belum dijawab n ditsampilkan dsini
    biar jelas gitu
    dan klo post artikel ..dtulis referensinya..
    kayak skripsi pa tesis
    klo perlu tiap kalimat/paragraf da referensinya
    jadi biar bisa dipertanggung jawabkan
    dan gak bikin bingung (bwt orang spt saya yang dikit tau ttg hukum2 )ngambilny darimana kok bisa spt itu
    af1

  4. kozam
    December 11, 2007

    Terima kasih buat saudari Ulfa atas masukannya. Masukan seperti inilah yang selama ini saya tunggu.. Karena terus terang saya juga masih pemula. Dan mudah-mudahan ini bisa menjadi sarana untuk bertukar pendapat.
    Mengenai pertanyaan yang ada di comment sebelu m ukhti, saya rasa tidak ditujukan kepada artikel tetapi ditujukan langsung kepada comment yang pertama yaitu kepada sahabat saya Yunus Anis. Maka yang lebih tepat untuk menjawabnya adalah sahabat saya Yunus Anis.. wasssalam

  5. kozam
    December 11, 2007

    Ada sedikit perbedaan antara kata-kata di tulisan saya dengan yang dikomentar antum. Ditulisan saya tertulis ” Banyak diantara orang yang tidak faham dengan agama Islam” tetapi dikomentar antum tertulis ” Banyak orang yang tidak faham dengan agama Islam”. Jadi ada sedikit korupsi kata yaitu “diantara”. Yang sedikit banyaknya bisa mempengaruhi arti yang terkandung didalammya.

    Ada yang sedikit aneh dari comment antum. Disatu sisi antum mengatakan bahwa kalimat tersebut menunjukkan arogansi individual dan sebenarnya tidak akan muncul dari seseorang yang memahami benar-benar hakikat dari sifat tawadhu’. Tetapi disisi lain antum berkata:” Banyak sekali ulama-ulama fiqh yang salah, mereka telah memasung hak perempuan”. Bukankah itu lebih parah dari pernyataan diatas. Dan benar apa yang antum katakan bahwa tidak ada pemahaman yang lebih benar kecuali Allah (Al-Qur’an) dan “tambahan” Rasulnya (Sunnah) dan kepada keduanyalah kita harus berpegang teguh, firman Allah yang artinya:
    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-nisa :59)
    Memang sekilas kelihatannya ada keberpihakan, tetapi sebenarnya tidak. Allah dengan keadilanNya telah memberikan sesuatu kepada laki-laki dan perempuan sesuai hak dan kewajibannya. Maka tiap diantara keduanya haruslah memenuhi kewajibannya dan mengambil haknya dan yang jelas tidak boleh mengambil hak orang lain.
    Dan tentang pernyataan antum bahwa “Banyak sekali ulama-ulama fiqh yang salah, mereka telah memasung hak perempuan”. Dengan senang hati saya ingin tahu siapa mereka “ulama fiqh” yang telah salah dan dengan lancang telah memasung hak perempuan? Apa alasannya? Dan dibuku mana antum membacanya? Setahu saya para ulama fiqh sangat hati-hati dalam menentukan sebuah hukum. Bahkan imam Syafi’I suatu ketika ingin menentukan hukum sebuah permasalahan, ia berusaha mencari hukumnya didalam al-quran dan bahkan pernah ia membaca alqur-an 300 kali hanya untuk mencari sebuah permasalahan hukum yang sedang ia hadapi. Makanya saya sangat tertarik untuk mengetahui kesalahan mereka. Siapa tahu kita bisa meluruskannya.
    Terus, tentang poligami. Saya rasa itu sudah jelas dibolehkan (bukan sunnah ataupun wajib). Dan tidak ada perbedaan pendapat diantara para fuqoha, semua sepakat bahwa itu boleh dengan syarat bisa adil seperti yang tercantum didalam surat an-nisa ayat 4 yang artinya:
    Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
    [265] berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.
    266] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat Ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para nabi sebelum nabi Muhammad s.a.w. ayat Ini membatasi poligami sampai empat orang saja.

    Rasulullah SAW berpoligami bahkan khulafa ar-rasyidin (Abu Bakr, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib) dan banyak dari ulama yang berpoligami. Bahkan Utsman bin ‘Affan ketika meninggal dunia, ia meninggalkan 3 orang istri. Apakah mereka termasuk orang-orang yang memasung hak perempuan?. Apakah Abu bakar yang merupakan orang terbaik setelah Rasulullah dan Umar yang rasulullah berkata tentang beliau:
    “wahai umar! Demi Allah yang nyawaku berada ditangannya! Jika seandainya setan melihat kamu berjalan disuatu jalan, niscaya ia akan mengambali jalan yang lain”.
    “setan takut terhadap umar” termasuk orang yang memasung hak perempuan?. Terus kalau tidak mengikuti Rasulullah dan sahabat-sahabatnya antum mengikuti siapa?? (bukan berarti saya mengatakan bahwa poligami wajib karena rasulullah dan beberapa sahabatnya berpoligami karena dialam alqur’an sudah jelas ia bukan wajib tapi boleh-beleh saja kalau bisa adil).
    Dan kalau ada laki-laki yang melakukan poligami hanya sekedar untuk memuaskan nafsu seksualnya dan kemudian menggunakan dalil poligami dalam agama untuk melegalkan kelakuan bejat mereka maka yang salah bukan dalilnya, tetapi orang tersebutlah yang jelas salah kerena telah menyalahgunakan Al-qur’an kepada hal-hal terlarang (pemuas nafsu seksual saja “seperti yang antum katakan”). Jangan kemudian agamanya yang dianggap salah..saya rasa itu kekeliruan yang patal. Wallohu a’lam
    Adapun permasalahan pemimpin dari perempuan, pemakaian wangi-wangian bagi perempuan diluar rumah dan permasalahan cadar, saya rasa itu adalah permasalahan-permasalahan yang sudah selesai. Cukup antum baca pendapat-pendapat para ulama seperti dalam madzahib arba’ah dan pendapat ulama-ulama lain seperti Ibnu Taimiyah dan lain sebagainya. Dan kalau ada permasalahan nantinya mari kita diskusikan bersama.
    Terima kasih banyak atas komentarnya, saya tunggu komentar seterusnya. dan terimasih juga saya ucapkan buat sahabat saya Farid Fathani yang juga telah mengirimkan comment nya, dan saya tunggu comment yang lain.
    wassaam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 8, 2007 by in Curhat and tagged .

Imam Malik berkata:

” Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawwuf tanpa fiqh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqh tanpa tasawwuf dia telah fasiq, dan siapa yang mempelari tasawwuf dan fiqh dia meraih kebenaran”.

Top Rated

Blog Stats

  • 74,998 hits
%d bloggers like this: