December 21, 2011

Selamat Jalan Syekh kami As Syahid Imad Iffat..!

Kematian bagi makhluk hidup merupakan sebuah keharusan. Tidak seorangpun dari makhluk hidup yang kekal selamanya. Tetapi kapankah kematian seseorang tiba saatnya?

 

Hanya Allah lah yang Maha Tahu. Waktu kematian sengaja di sembunyikan oleh Allah SWT agar manusia setiap saat mempersiapkan bekal yang akan dibawa nanti.

 

Oleh karena itulah Allah befirman yang artinya:

tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. ( Al A’raf : 34)

 

Pada saat-saat ini, kita berada pada zaman dimana hampir setiap hari kita mendengarkan berita kematian. Sejak mulainya revolusi Tunis, mesir, Libya, yaman dan Syiria. Puluhan ribu orang meninggal dunia. Dengan usia yang bermacam-macam. Ada bayi, ada anak-anak, ada anak muda, ada juga yang sudah tua… dengan demikian kita bisa melihat bahwa kematian tidak mengenal umur. Jika tiba saatnya, maka Malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa tidak akan segan-segan melaksanakan tugasnya…

 

Semua orang yang meninggal tidak seorang pun menyangka bahwa kematian akan datang begitu cepatnya. Ia mengira bahwa masih banyak waktu yang tersisa untuk beribadah, tetapi ternyata kematian datang menjemput. Hanya penyesalan lah yang tersisa.

 

Kita juga tidak menyangka bahwa orang yang tadi masih kita lihat dalam sehat, tegar, dan penuh semangat… ternyata besok sudah tiada….

 

Siapa yang menyangka bahwa kita tidak akan bertemu lagi dengan Syekh Imad Iffat, Amin Fatwa mesir, dan juga salah satu syekh azhar yang telah banyak berjasa mengajar kita di mesjid azhar dengan ilmunya yang luas dan  hafal Al Quran dengan 10 qiroaat?

 

Amin Fatwa Dar El Ifta yang menurut salah satu mufti di dar El ifta, Syekh Imad Iffat adalah orang yang tidak pernah berbohong. Beliau adalah orang yang selalu jujur. Ini adalah kesaksian siapa saja yang pernah kenal dengannya.

 

Sebelumnya masih sehat, tegar dan shalat sebagai imam di mesjid yang berada di Lembaga Fatwa tersebut…Tidak seorang pun yang menyangka bahwa ia akan meninggalkan kita untuk selamanya..Semoga Allah memberikan Rahmat serta karunianya kepada Syekh kita As Syahid Imad IFfat Rohimahulloh  wa rodiyallohu Anhu..

 

Mungkin saya, anda atau siapa saja yang membaca tulisan ini akan pergi selamanya dalam waktu dekat. Siapa yang tahu? Siapa yang bisa menjamin bahwa kita masih bisa bangun esok pagi? Mungkin saja kita tidur dan ternyata sudah tidak bangun lagi. Hanya Allah yang Maha Tahu.

Allah berfirman:

(Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (Al Mulk: 2)

 

 

Ketika seseorang meninggal dunia, maka hal yang pertama yang ia inginkan adalah kembali kedunia, dengan harapan bisa berbuat amal kebajikan. Baik itu seorang mukmin atau mujahid ataupun seorang yang durhaka kepada Allah..

 

Seorang mujahid ketika meninggal dunia, berharap agar bisa di kembalikan kedunia agar ia dapat kembali berjihad dan syahid dijalan Allah SWT, karena ia melihat betapa indahnya balasan yang akan di berikan kepadanya..

 

Orang durhaka juga ingin kembali ke dunia, karena ia melihat begitu dahsyatnya azab yang sedang menunggu..

Tetapi..

Jawaban Allah sangat tegas.:

 

 (Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.(Al Mukminun : 99-100)

 

Oleh karena itulah, Rasulullah selalu mengangingatkan kita agar terus mengingat kematian.. Diantara sabda Rasullah SAW adalah:

اكثروا ذكر هادم الملذات

Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (kematian)

 

Mengingat kematian memiliki beberapa manfaat diantaranya:

  1. Mempercepat taubat
  2. Mendapatkan kepuasan hati
  3. Membuat kita semangat untuk beribadah

Adapun orang yang lupa kematian akan dihukum dengan 3 hukuman:

  1. Penunda-nundaan taubat
  2. Tidak akan puas hidup seadanya
  3. Malas-malasan beribadah

Wahai orang-orang yang sombong,!

wahai orang-orang yang tertipu!, ingatlah kematian dan sakaratulmaut.

Wahai putra-putri Adam! Pernahkah kamu memikirkan hari kematianmu?

Pernahkah kamu berfikir tentang perpindahanmu dari tempatmu saat ini (dari dunia yang luas) ke liang lahat yang sempit?. Dari tidur diatas permadani yang lembut, ketempat yang hanya berbantalkan tanah.

 

Wahai orang-orang yang sibuk mengumpulkan harta! Tahukan kamu bahwa kamu tidak akan bisa membawa hartamu keliang kubur kecuali kain kafan? Bahkan kain kafanmu itu dan tubuhmu yang indah akan menjadi tanah..

 

Mana harta yang selama ini kamu kumpulkan? Apakah harta itu bisa menyelamatkanmu dari kematian?

Tidak …sama sekali tidak.. Bahkan, kamu akan meninggalkan harta itu untuk orang yang tidak tahu berterimakasih kepadamu. Sungguh benar orang yang menafsirkan firman Allah SWT:

 

dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qhosos ; 77)

 

dengan tafsir:

Raihlah Akhirat (surga) dengan apa yang Allah anugerahkan untukmu. Karena seorang mukmin yang benar-benar mukmin adalah orang yang mempergunakan dunia untuk meraih Akhirat. Bukan dipergunakan untuk merahi tanah, air, debu, kesombongan dan kecongkakan. Seakan-akan mereka berkata:” Jangan lupa bahwa kamu akan meninggalkan semua hartamu kecuali yang merupakan bagianmu yaitu kain kafan.

 

Sungguh betul apa yang dikatakan penyair:

انظر لمن ملك الدنيا بأجمعها               هل راح منها بغير القطن والكفن

 

Lihatlah orang-orang yang memiliki dunia seluruhnya

Apakah ia pergi (keliang kubur) membawa selain kapas dan kapan?

 

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita sebagai seorang mukmin yang selalu ingat kematian. Dan mudah-mudahan Allah SWT mengampuni dosa kita semua dan membangkitkan kita bersama para nabi, para rasul, para sahabat dan para ulama yang merupakan pewaris para nabi. AminYa Raabb

November 19, 2011

Aku Terpaksa Menikahinya

(Dari kamar sebelah)

Bismillah, Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

 

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

 

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

 

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

 

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

 

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

 

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

 

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

 

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

 

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

 

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

 

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

 

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

 

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

 

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

 

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

 

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

 

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

 

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Sumber

http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

November 19, 2011

KISAH MATA-MATA INGGRIS DAN HAJAR ASWAD

Ketika para orientalis mengetahui bahwa Nabi saw mengatakan bahwa Hajar Aswad di turunkan dari surga, seperti yang disebutkan di dalam Hadis yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, dari ‘Abd-Allah ibn’ Abbas, RA dengan “Hajar Aswad turun dari surga ,lebih putih dari susu , dosa dari bani Adam yang telah mengubahnya menjadi hitam”..

Para Orientalis kemudian ingin mencari sebuah celah untuk menyerang Islam, mereka berkata: Hajar Aswad hanyalah batu basal hitam”. Untuk membuktikan perkataan mereka tersebut, Royal Society Geografi Inggris dari University of Cambridge mengirim mata-mata Inggris untuk mencuri sepotong Hajar Aswad, untuk membuktikan kepada orang-orang Arab dan kaum muslimin bahwa apa yang dikatakan oleh Nabi saw tentang Hajar Aswad tidak benar.

Mata-mata Inggris itu kemudian belajar bahasa Arab selama tujuh tahun, dan pergi ke Maroko untuk mempelajari dialek Maroko, kemudian pergi ke Mesir sebagai haji dari Maroko, dan itu terjadi pada abad kesembilan belas. Ia naik ke kapal beserta jamaah haji dari Mesir menuju Mekkah.

Jamaah haji Mesir membawa barang-barangnya bersama barang-barang mereka dan mengajak ia makan bersama mereka dengan tujuan menghormati dan memuliakannya, perbuatan baik ini sedikit membuat ia kagum.

Kekaguman keduanya terjadi ketika ia memasuki Mesjid rasulullah, dan puncak kekagumannya adalah ketika ia melihat langsung ka’bah. Ia menulis didalam bukunya:” Pemandangan ini telah menggoncang hati saya yang sangat dalam”. Tapi dia tetap bertekad untuk menyelesaikan misinya, kebetulan Qaramita telah mengambil Hajar Aswad dan memindahkannya ke kota Hasa, Hajar Aswad meninggalkan berberapa pecahan , 12 keping kecil-kecil sebesar biji pisang.

Ia kemudian masuk Ka’bah disaat penjanganya lengah, dan mengambil sepotong Hajar Aswad (kebetulan penjagaan ka’bah tidak seketat sekarang) Setelah mengambil hajar aswad, ia berangakat ke Jeddah (disana terletak Kedutaan besar Inggris), Kedutaan besar Inggris kemudian mengadakan perayaan besar sebagai penghormatan kepada pahlawan yang telah berhasil menaklukkan islam dan membuktikan ketidak benaran perkataan Rasulullah (Hajar Aswad turun dari surga).

Ia tiba di inggris dengan menumpangi kapal Australia, dan potongan Hajar Aswad tersebut kemudian di tempatkan di Museum Sejarah Alam di London agar para ilmuan dapat menganalisanya. Para ilmuan kemudian menyimpulkan bahwa Hajar Aswad adalah jenis langka dari meteor.

Mata-mata inggris ini kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia kemudian menulis sebuah buku 2 jilid yang berjudul Journey to Mecca, dalam pada jilid pertama ia berbicara tentang permusuhannya terhadap islam serta konspirasi terhadap umat islam, dan pada jilid ke dua ia berbicara tentang ketundukannya kepada Allah Tuhan Semesta ALam

November 19, 2011

Ilmu Aqidah, Ilmu Fiqh dan Ilmu Tasawwuf

Umar ibnul-Khaththab berkata, “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba datang seseorang yang sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya, dan padanya tidak terlihat bekas perjalanan, juga tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya. Hingga orang tersebut duduk kepada Nabi saw., dan selanjutnya ia menempelkan kedua lututnya kepada lutut Rasulullah, dan meletakkan kedua telapak tangannya ke kedua paha Rasulullah berikutnya ia berkata, “Muhammad, beritahukan kepadaku apa itu Islam?’ Rasulullah menjawab, Yaitu bersyahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji jika mampu.’ Orang itu berkomentar, ‘Engkau benar.’ Mendengar komentarnya itu kami merasa heran, karena dia bertanya tapi kemudian dia sendiri yang membenarkan jawaban atas pertanyaan itu. Orang itu bertanya lagi, ‘Beritahukanlah kepadaku apa itu iman?’ Rasulullah menjawab, ‘Yaitu bahwa engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, Kitab-kitab suci-Nya, para Rasul-Nya, hari akhirat, dan mengimani takdir yang baik dan buruk.’ Ia berkomentar, “Engkau benar.’ Ia bertanya lagi, ‘Beritahukan kepadaku apa itu ihsan?’ Rasulullah menjawab, ‘Yaitu bahwa engkau menyembah Allah dengan cara seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan, jika engkau tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.’

Dari Hadits tersebut, ulama kita mengambil kesimpulan bahwa Pondasi Agama Islam ada 3:

1. Iman, Ilmu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya adalah Ilmu Aqidah atau Usul Ad din atau Ilmu Kalam.

2. Islam atau Syariat, Ilmu yang dibutuhkan untuk mempelajari syariat adalah Ilmu Fiqh.

3. Ihsan, ilmunya adalah Ilmu Akhlaq (Ulama sejak jaman dahulu menamakannya dengan nama Ilmu Tasawwuf. Jadi Iman, Syariat dan Ihsan sangat berkaitan satu sama lainnya dan tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itulah imam Malik berkata:” Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawwuf tanpa fiqh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqh tanpa tasawwuf dia telah fasiq, dan siapa yang mempelari tasawwuf dan fiqh dia meraih kebenaran”.

February 26, 2011

JANGAN TERBURU-BURU MENGAMBIL KESIMPULAN SEBELUM TAHU PERMASALAHAN 100%

Seorang anak berumur 25 tahun dan bapaknya sedang naik kereta api. Sang anak duduk di jendela melihat keluar sambil melambai-lambaikan tangannya. Tiba-tiba ia berkata:”bapak.! Lihat itu,,semua pohon…2x berlari dibelakang kita.>! Sang bapak …senyum atas kebahagiaan anaknya .

Disamping mereka ada suami istri sedang duduk. Suami istri itu heran, kok anak seumuran itu (25) tahun masih bertingkah seperti anak kecil.
Sang anak berkata lagi:”ayah, lihat kolam itu, ada ikannya, juga awan berjalan mengikuti kereta”. Sang bapak tetap senyum. Suami istri yang disamping mereka mulai tidak nyaman.

Tiba-tiba hujan turun. SI anak mengeluarkan tangannya.. Tangannya pun basah karena hujan. Ia berkata:”ayah, hujan turun, lihat tangan saya sudah basah kena hujan”. Bapaknya yang sudah tua tetap senyum.

SUami istri tadi sudah tidak tahan mendengar ocehan anak tadi. Akhirnya SI suami bilang ke bapak tua itu:”Kenapa kamu tidak bawa saja anak kamu ke dokter agar di obati?”.

Saat itu sang ayah pun menjawab:” Kami baru pulang dari dokter, dan anak saya ini selama ini buta dan baru kali ini bisa melihat”. Suami istri itu pun tersipu malu dan langsung minta maaf.

Dari sini kita ambil kesimpulan:
La tastakhlis an nataaij hatta ta’rifa kulla al haqoiq
Dan ingat kaidah yang amat sangat penting
Al hukmu ‘ala sayiin far’un ‘an tashowwurih
syukron

February 25, 2011

BERZINA DI RAJAM, KEJAMKAH ISLAM?

Islam datang untuk menjadi pedoman hidup hingga akhir zaman, cocok untuk segala tempat dan waktu. Oleh karena ia adalah pedoman hidup maka secara otomatis ia mengatur seluruh hal yang dapat mewujudkan tugas umat manusia sebagai khalifah dimuka bumi (membangun dunia), dan melarang segala sesuatu yang dapat menghancurkan tugas yang mulia ini.

Dari situ kita melihat, islam mengatur segala hal, mulai daripada yang paling kecil seperti cara buang air kecil hingga yang besar seperti pembelaan terhadap Negara dari serangan musuh (jihad).

Allah yang Maha Pencipta tahu bahwa banyak hal yang dapat menghancurkan tujuan ini, Oleh karena itulah Allah turunkan undang-undang yang mengatur segalanya, baik itu pidana maupun perdata. Dan secara umum ada lima hal penting yang jika satu saja bermasalah maka akan berpengaruh besar terhadap ini semua. Yaitu:

1. Akal

2. Nasab

3. Harta

4. Nyawa ( An Nafs)

5. Agama

Secara umum, seluruh hukum islam yang diturunkan kepada Rasulullah bertujuan untuk menjaga 5 hal ini yang oleh ulama-ulama islam disebut maqoshid as syariah. Untuk menjaga 5 maqoshid syariah ini Allah turunkan undang-undang yang dalam fiqh islam disebut HUDUD dan TA’ZIR. Hudud adalah pelanggaran yang hukumannya ditentukan oleh syariat. Ta’zir adalah pelanggaran yang hukumannya tidak diatur oleh syariat tapi diserahkan kepada hakim.

Allah SWT Pencita manusia Tahu bahwa hukuman badan adalah hukuman yang paling ampuh untuk membuat pelaku jera. Dari situ kita melihat mayoritas hukuman dalam islam adalah hukuman badan. Kenapa?

Karena jika seseorang tahu bahwa jika ia membunuh maka ia akan dibunuh, tentu ia tidak akan membunuh orang lain. Jika ia tahu bahwa jika ia mencuri atau korupsi maka tangan kanannya akan hilang, maka tentu ia tidak akan mencuri harta orang lain. Dst.. Ketika kita melihat hukuman-hukuman tersebut, memang kelihatan keras, tetapi lihatlah apa tujuannya? Lihatlah akibatnya jika dibiarkan? Lihatlah jauh kedepan.

Kita ambil contoh : Perzinahan

Yang sudah menikah dengan pernikahan yang sah dihukum rajam (lempar batu sampai mati) dan yang belom menikah dicambuk 100 kali dan di asingkan setahun.

Dengan syarat-syarat diantaranya:

1. Sudah dewasa

2. Bukan hilang akal

3. Adanya pengakuan dari pelaku atau kesaksian 4 orang laki2x yang melihat langsung .

4. Sudah tahu bahwa itu dilarang

5. Bukan dalam keadaan terpaksa

Dan yang menjatuhkan hukuman ini hanyalah hakim bukan individu-individu.

Ingat : jika dihukum didunia maka sudah tidak ada hukuman di akhirat. Jika di dunia belum dihukum maka diakhirat menunggu(jika Allah menghendaki Allah berikan ia azab dan jika Allah menghendaki Allah ampuni dia).

Kenapa hukumannya lumayan berat?

Karena ia sangat berbahaya terhadap tatanan kehidupan, dan bertentangan dengan satu dari lima maqhosid as syariah tadi (yaitu Nasab (keturunan) . Ketika seseorang bebas menanam benih dimana saja, bagaimana kelangsungan kehidupan berabad2x yang akan datang? Siapa yang akan mendidik anak-anak itu nanti? Dimana akhir perjanalan anak-anak itu nanti? Tong sampah kah atau aborsi? Pengakit Aids kisah lain..Siapa bapak anak itu nanti? Anak yang tidak didik dengan benar bagaimana ia akan membangun dunia?.Seperti apa generasi yang akan datang?

Islam sangat memperhatikan generasi yang akan datang, salah satu contoh , didalam pembagian warisan. Jika seorang meninggal dan meninggalkan bapak dan anak laki-laki serta harta. SIbapak hanya mendapatkan 1/6 dari harta, sedangkan si anak berhak sisanya. Kenapa? Karena dia adalah generasi mendatang. Adapun si bapak sudah lewat masanya.

Begitu juga bapak yang menyia-nyiakan pendidikan anaknya, ia terancam hukuman berat bahkan neraka meskipun ia taat beribadah. Itulah diatara cara pandangan islam terhadap regenerasi.

Ditambah lagi perzinahan merupakan hal yang tabu dan memalukan.

Apakah kamu rela jika ibumu berzina dengan orang lain?

Apakah kamu rela jika adik/kakak perempuanmu berzina dengan orang lain?

Apakah kamu rela jika putrimu berzina dengan orang lain?

Apakah kamu rela jika istrimu berzina dengan orang lain?

Apakah kamu rela jika nenekmu berzina dengan orang lain?

Apakah kamu rela jika bibimu berzina dengan orang lain?

Jika kamu tidak rela, maka ketahuilah bahwa orang lain juga tidak rela.

Ini sebagian dari hikmah pelarangan zina. Sebagai seorang muslim yang beriman bahwa hanya Allah yang wajib disembah dan Muhammad Adalah Rasulnya,wajib hukumnya mengimani apa yang datang dari keduanya, apalagi larangan berzina dan homo disepakati oelh seluruh ulama islam dari zaman sahabat hingga hari ini meskipun ia tidak tahu hikmahnya.

Jadi hukumannya memang berat karena effect yang ditimbulkannya juga amat sangat besar. Bahayanya bukan hanya untuk pelaku tetapi juga dirasakan keluarga, lingkungan dan kehidupan umat manusia. Mudah-mudahan Allah swt menjaga kita, keluarga kita dan lingkungan kita serta umat islam dari hal-hal yang tercela. Wallohu a’lam

October 6, 2010

Was Islam Spread by the sword?

The Muslim conquests and the Truth Regarding Muslim Wars (Jihad) and the issue of Violence

  1. Was Islam Spread by the sword?

There is a fundamental rule stated in the Qur’an namely the right to choose one’s religion:” let there be no compulsion in religion”. Accordingly, Islam emphasized that a person’s belief in Islam or his rejecting to believe in it is a matter that depends upon man’s free will and his sincere conviction. This is stated in the following Quranic verse :” Let him who will, believe and let him who will reject (it).

God, in the verses of quran drew the Prophet’s attention to this fact and emphasized that he was only a messenger whose duty was only to convey the Divine Message and that he had no authority to force people into conforming to Islam. This is clearly expressed in the following Quranic Verses :”Will you then compel mankind against their will, to believe?”.

“You are not one to manage (men’s) affairs”.

“If then they turn away, We have not sent you as a guard over them. Your duty is but to convey (The Message)”.

The aforementioned verses make it quite clear that the Glorious Book of the Muslims definitely prohibits forcing anyone to follow the Faith of Islam.

2. Islam what defined the course that Muslims must follow when inviting people to believe in the Faith of Islam and the manner in which the Faith should be spread every where.

The manner in which Muslims should invite people to embrace Islam is stated in the following Qur’anic verses:
”Invite (call) to the way of your God with wisdom and beautiful preaching and argue with them in ways that are best and most gracious (16/125) and “Speak fair to the people (2/83).

The Quran contains no less than one hundred and twenty verses which emphasize that is basic rule to be followed when Muslims invite people to believe in Islam, is to convince them calmly and graciously and then to leave them to decide for themselves whether to accept or reject the Faith. After the conquest of Makkah, the Prophet addressed its people saying : You are free now” and he did not force them to adopt Islam in spite of his decisive victory.

3. The Muslims never forced a Jew or a Christian to adopt Islam and Omar ibn Al-Khattab, the second Right Guided Caliph, assured the people of Jerusalem that their lives their churches and their crosses would not e harmed on account of his faith. The Prophet recorded in his first constitution for Al-Madina, after having emigrated from Makkah, that the Jews were a nation living with the Muslims and that he acknowledged their right to believe in their faith.

4. In her book “Allah is Completely Different”, the  Orientalist, Sigrid Hunke, refutes the accusation that Islam was spread by the sword. She wrote :”The tolerance of the Arabs played an important role it the spreading of Islam. Contrary to what has been falsely  claimed that it was spread by fire and the sword. Which is an unjust and unverified accusation against Islam”. She also wrote:” Christians, Jews, Sabians, and Pagans embraced Islam of their own free will”.

It is a well-known fact that Muslim armies never invaded South Asia or West Africa, yet Islam spread and flourished in these countries after Muslim merchants traveled with their merchandise to these countries. Muslim Sufis with their peaceful attitude also impressed the inhabitants of these lands.  The natives of these distant countries saw for themselves the conduct, morals, and dealings of the Muslims, and accordingly, embraced Islam of their own free will.

October 6, 2010

What Is the truth regarding Muslim wars (jihad)?

1.The western world has misinterpreted Muslim fighting against aggression as being a Holy War. The truth is that Islam does not acknowledge the term “Holy war”. Islam regards wars as being either unjust or just. The word “jihad” is derived from the word “juhd” which means exerting one’s utmost efforts, which are divided into two forms, the first is the effort made by one’s soul and the second is the effort made in fighting a just and righteous war. The first strenuous effort that is made is titled the Greater Jihad by which one endeavours to repel all evil, temptation, and to purify one’s soul from vice especially the vice of jealousy, envy, and hatred, thereby deserving to be brought into the Grace of God. The other form of Jihad is known ads the lesser jihad and it means fighting a just and righteous war.

2. A righteous, just war according to the laws of Islam is a war of defence, the aim of which is to repel the enemy’s attack of assault, and the following Qur’anic verses permit Muslims to fight the enemy who attacks them :” to those against whom war is made, permission is given (to fight), because they are wronged” (22/39) Also: “fight in the cause of god those who fight you, but do not transgress limits, for God does not love transgressors”. 2/190 . This Qur’anic verse proves that despite the permission to fight in self-defence, the muslims were warned not to go beyond defending themselves to the extent of transgression. The following Qur’anic verse permits the Muslim to attack those who attack them :” If then anyone transgresses the prohibition against you, transgress likewise against him” (2/194) . Islam’s extreme aversion to fighting and bloodshed is abvious, and fighting in self-defence is the exception that is permitted:” fighting is prescribed for you, and you dislike it” (2/216). Thus beginning an attack on other is not permitted in islam.

3. Although jihad means fighting in defence of the faith and the Muslims, this jihad not limited to fighting in a battle. It includes jihad with one’s wealth, one’s thought, or any other means which helps repel any attack or assault, in order to protect the Islamic community and the faith in which the they believe. Such a principle is the legitimate right of every nation and has been sanctioned by international agreements in modern times.

4. If the Muslims learn that their enemy desires peace and is willing to cease all forms of aggression, Islam command the Muslims to agree to their enemy’s request . This is stated in the following Qur’anic verse:” But if the enemy incline towards peace, you (also) incline towards peace and trust in God: (8/61) . Furthermore, Islam calls to peaceful coexistence with others and establishing good will with them provided that they do not attack the Muslims . The Qur’anic verses urge the Muslims to treat these people fairly, justly, and benevolently:” God forbids you not in regards to those who do not fight you for (your) Faith. Not drive you out of yours homes, from dealing kindly and justly with them: for God loves those who are just: (60/8) . Thus the aim of Islam to spread and establish peace and tolerance among people and to urge them to cooperate with each other for the welfare of mankind. Therefore, the allegations you find some international mass media that Islam is a religion which preaches aggression, extremism, fanaticism, and terrorism are completely unjustified accusations, which have absolutely no foundation in Islam. Islam is on the contrary a religion of mercy and justice . We shall explain this in greater detail in our following expositions.

<My muqorror>

September 10, 2010

Umat Islam di design sebagai Qudwah bagi semua umat

Umat islam di design oleh Allah sebagai panutan seluruh umat di dunia sebagaimana firman Allah:

kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imron: 110).

Didalam ayat tersebut di jelaskan bahwa umat islam adalah umat terbaik dan umat panutan seluruh umat, tapi dengan tiga syarat:

Pertama            : beriman kepada Allah

Kedua              : Menyuruh kepada yang ma’ruf

Ketiga               : Mencegah dari yang munkar

Jika ke-tiga syarat tersebut di penuhi, maka umat akan menjadi pemimpin dan panutan di muka bumi. Sejarah telah membuktikan bahwa umat islam lebih dari 7 abad berjaya dan menjadi pusat ilmu pengetahuan di muka bumi. Yang mau belajar agama, politik, iptek dan sebagainya, semuanya di Negara islam.

Setelah masa tujuh abad lamanya berakhir, umat islam di timpa berbagai pemasalahan dan kemunduran yang mengakibatkan keterbelakangan di segala bidang, baik itu ilmu pengetahuan, politik, militer dan sebagainya, yang kesemua itu mengakibatkan hilangnya wibawa umat islam di depan musuh. Padahal Rasulullah telah mengatakan “nusirtu bir ro’bi masirota syahr” yang kira2x artinya saya di bantu oleh Allah dengan rasa takut (di hati musuh) dalam jarak satu bulan. Apa yang menyebabkan kemunduran umat ini? Apa factor yang menyebabkan keluarnya umat dari umat panutan, padahal Allah mendesignnya menjadi qudwah seluruh umat? Kenapa rasa takut terhadap umat islam di cabut oleh Allah dari hati musuh-musuh islam?

Secara umum ada lima paktor yang melatar-belakangi kemunduran umat. Insya Allah kita jelaskan secara singkat.

Pertama           : Umat islam telah meninggalkan Al-Quran

Al Qur’an merupakan pegangan umat islam dan merupakan the way of life, petunjuk ilahi yang di turunkan untuk kebahagiaan umat manusia di dunia dan akhirat. Rasulullah mengatakan bahwa barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan Al Quran, barang siapa yang menginginkan akhirat maka dengan alquran dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka tentunya dengan alquran. Umat islam hanya akan maju jika mereka berpegang teguh pada Al quran dan akan mundur jika jauh dari Al Qur’an, sejarah telah membuktikannya.

Sekarang ini, dengan populasi umat islam yang berkisar 1.5 Milyar muslim yang mayoritas selain arab, banyak yang tidak bisa membaca al Qur’an, diantara yang bisa membaca qur’an banyak yang tidak memahaminya dan diantara yang faham, banyak yang tidak mengamalkan isi alqur’an itu sendiri. Maka benar apa yang di katakan oleh Umar bin Khattab:” Allah memuliakan kami dengan islam, dan barang siapa yang mencari kemuliaan dengan selain islam maka kehinaan lah yang ia dapatkan”.

Kedua  : Meninggalkan akal

Factor kedua adalah adanya gerakan yang menyerukan untuk meninggalkan akal. Bahkan tidak malu-malu mengatakan:”barang siapa yang mempergunakan akalnya maka ia akan menjadi penghuni neraka”. Ini sangat bertentangan dengan islam, karena islam menyuruh kita untuk selalu berfikir. Banyak ayat yang berbunyi : apakah kamu tidak berfikir, apakah kamu tidak memahami dan lain sebagainya. Imam Sya’rawi didalam tafsirnya mengatakan bahwa Allah memberikan kepada manusia dua macam ayat-ayat. Yang pertama adalah ayat-ayat tertulis yaitu alquran, yang kedua adalah ayat-ayat tidak tertulis itulah alam semesta. Bahkan ketika ayat yang artinya :” sesungguhnya didalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam adalah ayat-ayat (tanda-tanda) bagi orang-orang yang berfikir” rasulullah mengatakan:” celaka orang yang membaca ayat ini kemudian tidak berfikir, celakalah ia, celaka lah ia”. Maka jika ingin maju dan menjadi umat panutan maka harus lah mempergunakan akal kita untuk berfikir, dan ingat akal tidak akan pernah bertentangan dengan alquran, jika kelihatan bertentangan ketahuilah bahwa akalnya yang tidak beres dan perlu di luruskan, karena Allah lah yang menciptakan akal dan Dia pula yang menurunkan alquran dan Ia pula yang mengatakan bahwa tidak ada pertentangan di antara keduanya.

Ketiga : Umat islam memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama

Jika kita bertanya pada pelajar-pelajar di Indonesia, apakah biologi, fisika, matematika, astronomi pelajaran agama? Mereka akan menjawab tidak. Kita tidak bisa menyalahkan mereka, karena memang itulah yang di ajarkan kepada mereka sejak di bangku SD. Pelajaran agama yang mereka ketahui hanyalah wudhu, shalat, tayammum, dan mereka tidak tahu bahwa semua apa yang dilangit dan dibumi adalah ilmu agama. Benarkah?

Ketika Allah mengatakan:” Apakah mereka tidak melihat bagaimana onta di ciptakan, dan langit bagaimana ia di tinggikan?”, “Dan didalam diri kamu, apakah kamu tidak berfikir?”. Dan banyak lagi ayat yang lain. Kita lihat yang pertama, tentang penciptaan onta, Allah tidak menjelaskan bagaimana ia diciptakan tetapi Allah menyuruh kita untuk mengamati dan mengadakan penelitian, ini masuk dalam bidang ilmu biologi. Yang kedua tentang langit bagaimana ia ditinggikan, ini bidang Astronomi, dan yang seterusnya tentang diri kita juga bidang biologi dan masih banyak lagi. Bahkan kita sudah sebutkan tadi bahwa semua yang ada dialam semesta adalah ayat-ayat ilahi. Pemisahan antara agama dan ilmu inilah yang menjadi salah satu faktor kemunduran umat.

Keempat           : Umat islam terjebak dalam ritual ibadah tanpa ada effect pada diri dan lingkungan

Banyak diantara umat islam yang terjebak dalam ibadah yang hanya sekedar ritual belaka. Shalat hanya sekedar ruku’ , sujud tanpa memiliki pengaruh sama sekali, padahal Allah mengatakan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Puasa hanya sekedar menahan lapar dah haus, haji malah sekedar jalan-jalan, padahal ulama-ulama kita mengatakan bahwa pertanda puasa seseorang di terima Allah adalah perubahan pada diri yang puasa. Ia menjadi lebih baik dari sebelum puasa, dan dia lebih baik dari sebelum haji. Sekarang mari kita lihat, jama’ah haji dari indonesia setiap tahunnya lebih dari 200.000 orang. Mana pengaruh 200 ribu orang tersebut dalam diri mereka dan dalam kehidupan bermasyarakat? Yang shalat jutaan orang, mana pengaruhnya? Begitu juga dengan puasa dan ibadah2x lainnya. Ibadah bukanlah sekedar ritual saja, tetapi setiap ibadah memiliki hikmah tersendiri berbermanfaat bagi kita secara pribadi dan umat serta dunia secara umum.

Kelima             : Ternyata banyak diatara umat islam yang menyembah lebih dari satu tuhan.

Rasulullah SAW memberitahukan kita bahwa keterbelakangan dan kekalahan umat islam disebabkan satu penyakit yaitu penyakit wahn, sahabat bertanya:”wahai rasulullah, apa itu penyakit wahn?” Rasulullah menjawab:” Cinta dunia dan takut mati”.

Penyakit ini keliahatannya sedang merajalela di tubuh umat islam. Ada yang dari bangun tidur hingga tidur lagi pikirannya hanya satu, Harta. Ada yang pikirannya hanya jabatan, jabatan yang dulu di tolak dan di jauhi umat sekarang menjadi ladang untuk berlomba-lomba dengan beribu-ribu cara, tidak perduli halal atau haram. Yang akibatnya umat pecah, partai islam dengan partai lain ribut, bahkan yang lebih menyedihkan ketika perselisihan itu terjadi di baitullah (mesjid) antara takmir yang satu dengan lainnya.

Ketika harta dan jabataan (dunia) yang di pikirkan sejak bangun hingga bangun lagi, yakinlah bahwa ia telah menyembah tuhan yang baru yaitu harta, jabatan dan lain sebagainya. Bagaimana umat islam akan menang jika tuhan yang disembah berbeda-beda. Allah hanya akan menurunkan bantuan jika kita hanya menyebah Allah semata. Didalam surat Al Fatihah Allah berfirman :”Iyyaka na’budu wa iyyaka nas ta’in” (hanya kepadamulah kami menyembah dan kepadamulah kami minta pertolongan). Pertolongan hanya akan turun jika kita hanya menyembah Allah kemudian berusaha dan berdoa.

Sebenarnya dengan mengobati penyakit wahn tadi umat islam bisa maju dan kuat. Jika penyebab kemunduruan kita adalah karena cinta dunia dan takut mati, maka kemenangan kita adalah ketika benci dunia dan tidak takut mati.

Itulah lima faktor yang melatar belakangi (menurut penulis) kemunduran umat islam di segala bidang. Sekarang lah saatnya untuk membenahi diri mengadakan evaluasi demi masa yang akan datang. Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan, saling curiga, rakyat menyalahkan pemerintah, pemerintah menyalahkan rakyat, tetapi sekarang saatnya untuk berbuat sesuai dengan kemampuan masing-masing. Saatnya kita berkorban. Ingat Allah telah berjanji bahwa jika umat islam berjalan di atas rel yang telah Allah tentukan maka, jika seandainya timur dan barat bersatu untuk menghancurkan islam maka tidak akan ada yang bisa. Mudah-mudahan Allah menyatukan hati kita semua, dan mudah-mudahan umat islam bersatu dalam menuntas kebathilan. Wallohua’lam

August 22, 2010

ADAB BERPUASA

Allah SWT, mewajibkan puasa ramadhan pada bulan sya’ban tahun ke2 H, yaitu dengan turunnya firman Allah SWT yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah : 183)

Rasulullah puasa ramadhan sebanyak 9 kali hingga beliau SAW meninggal dunia pada bulan rabi’ul awwal tahun ke 11 H.

Ayat diatas menjelaskan kepada kita, bahwa Allah mewajibkan puasa ramadhan bagi orang-orang yang beriman dengan tujuan mudah2x mereka menjadi orang-orang yang bertakwa.

Ulama berbeda pendapat tentang puasa yang di wajibkan atas umat islam sebelum turunnya firman allah dalam     surat al baqoroh ayat 183, pada dua pendapat:

Pertama: diwajibkan atas umat islam puasa asyura (10 Muharram) setelah itu di hapus dengan turunnya firman Allah surat al  baqoroh:  183

Kedua: diwajibkan atas umat islam berpuasa 3 hari setiap bulan  (puasa biid) setelah itu di hapus dengan turunnya firman Allah SWT dalam surat al baqoroh: 183

Yang paling rojih adalah pendapat pertama, dengan dalil hadits shahih yang diriwayatkan dari Mu’awiyyah ra, bahwa Rasulullah naik mimbar kemudian bersabada:

إن الله فرض عليكم صيام يومكم هذا في ساعتي هذه

ADAB BERPUASA

1. Berdoa ketika melihat hilal (bulan).

Dianjurkan untuk berdoa ketika melihat hilal setiap bulan, bukan hanya untuk bulan ramadhan. Sebagaimana disebutkan didalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar R.a, bahwa Rasulullah ketika melihat hilal berdoa:

الله أكـــبر, اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام والتوفيق لما تحب وترضي ربنا وربك الله

Rasulullah SAW bersabda”Robbuna warobbuka Alloh”. Artinya: Kamu dan saya adalah hamba Allah. Karena Bulan, matahari disembah. Maka Rasulullah SAW ingin memberitahukan kepada manusia bahwa seluruh makhluq adalah ciptaan Allah SWT. Maka Rasululullah mengatakan, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, maka tidak berhak bagi seseorang untuk menyembah selain Allah. Yang menciptakan kamu adalah allah, yang memunculkan kamu adalah Allah, yang menghiasai kamu adalah Allah, Maka sebagaimana saya ini ciptaan Allah, maka kamu juga ciptaan Allah, maka telah sesatlah orang yang menyembahmu dan telah sesatlah orang yang menyembah selain Allah.

2. Iklas Karena Allah SWT.

Seorang muslim hanya mengharap dengan puasanya tersebut keridhaan Allah semata, didorong oleh keimanan dan mengharap pahala dari Allah. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمْضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni baginya dosa-dosa yang pernah ia lakukan”.[1]

Imanan :” Percaya penuh seluruh janji Allah SWT pada orang-orang yang berpuasa”

Percaya bahwa orang yang perbuasa dengan iman dan berharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya.

Percaya bahwa disurga ada pintu khusus bagi yang berpuasa sesuai dengan sabda rasulullah:

حدثنا خالد بن مخلد حدثنا سليمان بن بلال قال حدثني أبو حازم عن سهل رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن في الجنة بابا يقال له الريان يدخل منه الصائمون يوم القيامة لا يدخل منه أحد غيرهم يقال أين الصائمون فيقومون لا يدخل منه أحد غيرهم فإذا دخلوا أغلق فلم يدخل منه أحد.

Rasulullah saw. brsbda: Ssungguhnya di dlm surga itu trdpt pintu yg bernama Rayyan. Orang2 yg berpuasa akan msuk lwt pintu itu pd hari kiamat. Tidak ada orang selain mereka yang masuk bersama mereka. Ditanyakan: Di mana orang2 yang puasa? Kemudian mereka masuk lewat pintu tersebut dan ketika org yg terakhir dari mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup kembali dan tidak ada org yg akan masuk lwt pintu itu.

Seorang yang berpuasa haruslah percaya dan beriman kepada  seluruh hadits dan ayat qur’an yang berbicara tentang puasa ramadhan.

Ihtisab: artinya Ikhlas hanya karena Allah semata. mengharap pahala dari Allah dari Allah semata. Bukan karena ingin di puji orang lain (riya).

وقال الخطابي :” احتسابا ” أي : عزيمة ، وهو أن يصومه على معنى الرغبة في ثوابه ، طيبة نفسه بذلك ، غير مستثقل لصيامه ، ولا مستطيل لأيامه” .

3. Berniat pada malam harinya untuk puasa wajib.

Adapun dalam puasa sunnah boleh berniat ketika siang hari. Karena ada hadits shahih yang menyatakan bahwa rasulullah bertanya kepada isteri-isterinya:” apakah ada makanan?”. Jika istrinya menjawab tidak ada, maka rasulullah berkata:” Jadi saya puasa”. Adapun dalam puasa wajib, harus berniat dimalam harinya dengan dalil hadits Rasulullah SAQ:

حديث حفصة رضي الله عنهاقالت:”لا صيام لمن لم يجمع قبل الفجر”.

حديث ابن عمر قال:” لا صيام لمن لم يبيت النية بالليل”.

حديث حفصة رضي الله عنها أن النبي صلي الله عليه وسلم قال:” :” لا صيام لمن لم يبيت الصيام من الليل”.

Maksud berniat bukan berarti mengucapkan:” nawaitu souma godin ‘an adai fardi syahri romadona….”. tetapi cukup didalam hati, bahkan cukup dengan makan sahur sudah termasuk niat puasa.

4. Memperbanyak sedekah dibulan ramadhan.

Sedekah dianjurkan meskipun di selain bulan ramadhan, tetapi di bulan ramadhan lebih di anjurkan lagi. Kenapa?

Rasulullah bersabda:

الصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار  (حديث الترمذي وحسنه)

Sedekah dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api” (Hadist riwayat At-Tirmidzi)

Maka jika seseorang terlanjur berbuat dosa kepada Allah swt, hendaklah memperbanyak sedekah karena banyak sedekah akan dapat menghapuskan dosa. Juga sedekah akan menjadi naungan di hari kiamat. Sedekah juga akan menjadi pelindung nanti nya dari api neraka, sebagaimana  sabda rasulullah SAW:

اتقوا النار ولو بشق تمرة فمن لم يجد فبكلمة طيبة(البخاري)

“Takutilah api neraka itu (yakni selamatkanlah dirimu dari api neraka), walaupun dengan bersedekah setengah butir kurma. Jika kamu tiada dapat berbuat demikian, maka dengan perkataan yang baik.”

Itu semua diluar bulan ramadhan, bagaimana dengan bulan ramadhan? Pahala sedekah dilipat gandakan oleh Allah di bulan Ramadhan. Oleh karena itulah Rasulullah memperbanyak sedekan dibulan suci ini.

كان النبي صلي الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة (رواه البخاري)

Maksudnya: bahwa Rasulullah SAW memperbanyak sedekah dibulan ramadhan, bahkan sedekahnya lebih banyak dari tetetas air hujan (mubalaghah dengan maksud banyak sekali). Oleh karena itulah setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak sedekah mengikuti Rasulullah SAW.

5. Menyegerakan berbuka puasa.

Rasulullah menyuruh kita untuk menyegerakan berbuka, jika matahari telah benar-benar terbenam dan waktu berbuka telah benar-benar tiba, berbukalah. Jangan mengikuti orang-orang yang mengatakan:” kita tunggu 1/4 jam, 10 menit atau 5 menit”. Atau orang-orang yang ketika azan magrib terdengar, ia berkata:” kita tunggu hinggal hayya ‘ala as shalah”. Tetap hanya dengan mendengar Allohu Akbar berbukalah. Dalil.  Hadits Rasulullah yang berbunyi:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ (أخرجه البخاري و سلم:من حديث سهل بن سعد رضي الله عنه)

Manakah lebih baik, orang yang ketika azan, berkata:” kita tunggu 10 menit hingga benar-benar waktu berbuka jelas tiba” ataukah orang yang ketika mendengar azan langsung berbuka?

Yang kedua lebih baik karena mengikuti sunnah Rasulullah.

Soal lain:  Apa hubungan Al Khoiriyyah (kebaikan) dengan penyegeraan berbuka?

Apakah jika mereka tidak menyegerakan berbuka akan berkurang kebaikan mereka? Jawab:” ya”.

Hubungan atara kebaikan dengan penyegeraan berbuka adalah:

Menyegerakakan berbuka artinya mengutamakan sunnah Rasulullah dari pada akal sendiri. Dan tidak menyegerakan berbuka artinya mengutamakan akal daripada sunnah rasulullah.

Karena akal mengatakan:” Saya tunggu 15 menit hingga waktu berbuka benar-benar tiba, baru saya berbuka. Itulah lebih baik”.

Maka dengan menyegerakan berbuka berarti kita telah mengikuti sunnah rasulullah SAW, dan mengutamakan sunnah tersebut daripada akal dan hawa nafsu kita. Maka kita akan terus berada dalam kebaikan insya Allah.

6. Berbuaka pausa dengan kurma, kalau tidak ada maka dengan air sebelum shalat magrib.

Dalil, hadits rasulullah :

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: (كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يفطر على رطبات قبل أن يصلي، فإن لم يكن رطبات فتمرات، فإن لم يكن تمرات حسا حسوات من ماء) [ صحيح أبي داود .[

Daripada Anas r.a. :“Sesungguhnya Nabi berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah dan segar yang baru dipetik dari pokok) sebelum solat Maghrib, kalau tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamar (kurma kering), jika tidak ada, maka dengan meneguk beberapa tegukan air putih.” (Hadis riwayat Abu Daud dan at-Tirmizi).

Rasulullah SAW berbuka terlebih dulu dengan kurma sebelum shalat magrib kalau tidak ada dengan kurma kering, kalau tidak ada baru dengan air. Jadi Rasulullah tidak langsung makan malam. Mungkin disini ada pertanyaan. Apakah ada perbedaan berbuka dengan kurma dengan berbukan dengan makanan lainnya dalam ilmu kedokteran modern?
Orang yang berbuka dengan makan selain kurma kemudian langsung makan malam yang banyak, terjadi padanya tiga hal:

  1. Makan banyak tapi ngak merasa kenyang
  2. Merasa berat untuk Qiyamul lail hingga ia tidak merasa kelezatan dan kekhusu'an ketika shalat.
  3. Ia terakhirkan shalat magrib.

Makan banyak tapi ngak merasa kenyang
Karena makanan biasa, hanya akan menyerap kira-kira 2 jam setelah makan. Itu artinya ia akan merasakan kenyang setelah 2 kemudian. Adapun kurma, ketika di telan, maka ia akan langsung diserap oleh tubuh, bahkan sebelum sampai perut ia sudah habis serap oleh tubuh.

Beberapa kajian kedokteran dan sains menunjukkan bahawa kurma memberikan banyak manfaat untuk kesihatan fizikal mental dan kerohanian.

Maka, ketika seorang yang berpuasa mulai berbuka maka organ-organ tubuhnya akan bersiap; dan organ pencernaan mulai berakivitas kembali, khususnya lambung yang butuh untuk diberikan sesuatu yang lembut, dan memulai mengakifkan kerjanya kembali dengan halus. Dan orang yang sedang berpuasa, pada keadaan ini, sangat butuh akan makanan yang mengandung gula yang mudah dicerna, yang bisa menghilangkan rasa lapar, persis seperti ia butuh akan air.

Dan nutrisi makanan yang tercepat bisa dicerna dan sampai ke darah adalah zat gula, khususnya makanan yang mengandung satu atau dua zat gula (glukosa atau sukrosa). Sebab tubuh mampu menyerap dengan mudah dan cepat zat gula itu hanya dalam beberapa menit. Apalagi jika lambung dan perut sedang kosong, seperti orang yang berpuasa ini.

Andai anda mencari makanan yang bisa menyamai dua kandungan yang dituju ini secara bersama (menghilangkan lapar dan dahaga secara bersamaan dengan satu makanan), maka anda tidak akan pernah menemukan makanan itu lebih baik daripada apa yang disuguhkan oleh sunnah nabawiyah, dimana sunnah memotivasi orang yang berpuasa untuk membuka puasanya dengan zat gula manis sekaligus kaya akan air (ruthab) atau pun tamar (kurma matang).

Berdasarkan penelitian bio-kimia, ditemukan bahwa satu bagian kurma yang kita makan sama dengan 86 – 87 % air beratnya; mengandung 20 – 24 % air; 70 – 75 % gula; 2 – 3 % protein; 8,5% serat; sangat kecil sekali kandungan lemak jenuh (lecithine).

Berdasarkan penelitian tersebut, juga ditemukan bahwa ruthab (kurma mengkel) mengandung 65 – 70 % air berdasarkan berat bersihnya; 24 – 58 % zat gula; 1,2 – 2 % protein; 2,5 % serat, dan sedikit sekali mengandung lemak jenuh (lecithine).

Berdasarkan penelitian kimiawi dan fisiologi yang dilakukan Dr. Ahmad Abdul Ra’ouf Hisyam dan Dr. Ali Ahmad Syahhat, diperoleh data sebagai berikut:
Mengkonsumsi ruthab (kurma mengkel, masih segar, matang dipohon) atau tamar (kurma matang kering seperti yang tersebar di Indonesia -pent) setiap kali mengawali buka akan menambah terhadap badan persentase yang besar akan kandungan zat gula, maka dengan ini akan hilang penyakit anemia (kurang darah), sehingga tubuh lebih menjadi bergairah;
Saat lambung kosong dari makanan, maka ia akan mudah mencerna dan menyerap makanan kecil yang mengandung gula ini secara cepat dan maksimal;
Sesungguhnya kandungan ruthab dan tamar akan zat gula dalam bentuk kimia sederhana menjadikan proses mencerna dan menyerap di lambung sangat mudah, sebab 2/3 (dua per tiga) zat gula ada dalam tamar dan dalam bentuk zat kimia sederhana. Hal ini pun bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dalam waktu yang singkat;
Sesungguhnya adanya tamar yang mengandung air, dan ruthab yang mengandung air tinggi (65 – 70 %) akan menambahkan terhadap tubuh persentase yang tidak membahayakan, maka dengan itu seorang yang berpuasa tidak harus meminum air dalam jumlah banyak ketika berbuka. (Abm).

Manusia pada umumnya merasakan sesuatu yang aneh pada waktu puasanya. Orang yang berpuasa akan tetap merasakan kenyang hingga zuhur (bagi yang makan sahur), zuhur (setelah kira-kira 6jam) perut sudah kosong, saat itulah kita merasakan lapar sekali (1 atau 2 jam atau 3jam lamanya).  Setelah itu kita merasakan bahwa lapar telah reda, seakan-akan kita sudah kenyang. Itu akan terus berlangsung hinggal 1 jam sebelum magrib. Setelah itu kita merasakan sedikit pusing atau lelah. Apa sebenarnya yang terjadi???

Seseorang yang makan sahur, akan merasakan kenyang hingga kira-kira 6 jam. Setelah perut kosong, ia mengirimkan sinyal ke otak minta makanan. Otak berusaha merayu kita agar makan, tetapi kita tidak bisa karena masih puasa ini terjadi kira-kira satu sampai dua jam. Otak memudian menberikan isyarat ke perut bahwa tidak ada makanan dan tidak akan di kirim makanan kecuali magrib. Perut kemudian minta pengganti. Otak mengeluarkan perintah kepada lemak yang ada di bawah kulit untuk menjadi pengganti makanan. Saat itulah kita tidak terlalu merasakan laper seperti sebelumnya. Ini bertahan hingga 1 jam menjelang magrib. Saat itu, zat gula yang dibawa oleh darah ke otak berkurang, saat itulah otak merasa lelah dan capek sedikit. Kenapa? Karena otak tidak menyerap kecuali zat-zat gula dengan segala macamnya. Karena itulah ulama-ulama kita dahulu mengatakan:" siapa yang ingin ingatannya kuat, hendaklah makan kismis". Karena kismis memiliki zat gula yang tinggi. Maka tatkala kita berbuka dengan kurma, dalam waktu 5 sampai 6 menit otak akan merasakan zat gula kembali, dan kita pun merasakan semangat muncul kembali. Ini semua merupakan berkah sunnah nabawiyyah.

7. Menghindari hal-hal yang terlarang seperti berbohong, mengadu-domba, mencaci orang lain, ghibah, dan sebagainya. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

فعن ابي هريرة رضي الله عنة عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال((من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس

لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه)) (أخرجة البخاري)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.a dari Rasulullah SAW, Ia bersabda :" Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (bohong) dan beramal dengannya, maka Allah tidak butuh kepada usahanya dalam meninggalkan makan dan minumnya." (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari: 4/116).

Juga wajib baginya menghindar dari segala sesuatu yang diharamkan, Tangannya tidak dipergunakan untuk mengambil sesuatu yang haram, kakinya tidak melangkah ketempat yang haram, ia tidak memakan kecuali yang halal.

Tujuan puasa bukanlah bukanlah menahal lapar dan dahaga, tetapi tujuannya adalah apa yang dihasilkan oleh keduanya, yaitu menaklukkan sahwat dan hawa nafsu. Oleh karena itulah Rasulullah SAW bersabda :

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ورب قائم لس له من قيامة إلي السهر (أخرجه أبن ماجة من

حديث أبي هريرة)

Orang yang berpuasa adalah orang perutnya berpuasa dari makanan, panca indranya berpuasa dari dosa, dan lisannya dari kata-kata kotor, matanya dari hal-hal yang haram, pendengarannya dari hal-hal yang haram, kemaluannya dari hal-hal yang terlarang. Maka ketika ia berbicara, ia tidak berbicara dengan sesuatu yang dapat mengurangi nilai puasanya, ketika ia mengerjakan sesuatu, ia tidak mengerjakan sesuatu yang dapat merusak puasanya. Kata-katanya akan selau bermanfaat dan perbuatannya merupakan amal shaleh.

Seorang penyair berkata:

إذا لم يكم في السمع مني تصاون

وفي بصري غض وفي منطقي صمت

فحظي إذا من صومي الجوع والظما

فإن قلت إني صمت يومي فما صمت

Jabir bin Abbillah R.a menjelaskan hakikat puasa :

إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمآثم, ودع أذي الجار, وليكن عليك وقار وسكينة يوم صومك, ولا تجعل صومك ويوم فطرك سواء

8. Berdoa ketika berbuka. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW

عن ابن عمر أيضا أن النبي صلي الله عليه وسلم إذا أفطر قال: ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله[2]

9. Memperbanyak bacaan Al Qur’an

Juga merupakan sunnah yang harus kita ambil pelajaran dari Rasulullah, yaitu kehidupan beliau bersama Al Qur’an. Rasulullah SAW membaca alqur’an dan jibril mendengarkannya atau jibril alaihi as salam membaca Al Qur’an dan rasulullah mendengar selama bulan ramadhan. Bulan Ramadhan Adalah bulan Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT:

Artinya:”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Bulan ini adalah bulan qur’an, dan perhatian rasulullah SAW terhadap al-quran adalah melebih dari segalanya. Karena Al Qur’an adalah mu’jizat abadi yang Allah turunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Dan pembeda antara yang haq dan yang bathil, yang kekal sampai hari kiamat. Rasulullah bersabda :

تركت فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا أبدا كتاب الله وسنتي

Artinya:” Telah aku tinggalkan untuk mu sesuatu yang apabila kamu berpegang teguh padanya, kamu tidak akan pernah sesat selamanya, Kitabullah (al Qur’an) dan Sunnahku.

Rasulullah menjadikan sebaik2x waktunya di bulan ramadhan untuk Alqur’an, oleh karena itulah ketika Aisyah Ra.ditanya sebagaimana yang di sebutkan didalam hadits muslim…

كيف كانت خلقه صلي الله عليه وسلم؟ قالت : خلقه القرآن

Artinya:” Bagaimana Akhlah Rasulullah? Aisyah Ra menjawab:” Akhlaqnya Al Qur’an”.

.

Kehidupan rasulullah SAW dengan Al Qur’an bukan hanya membaca, tetapi lebih dari itu, dengan tafakkur, tadabbur, dan kemudian di di laksanakan didalam kehidupan sehari2x.

Didalam sebuah hadits (disebuktkan oleh banyak mufassirin didalam tafsir mereka) diriwayatkan bahwa Bilal bin Rabah datang kemesjid waktu subuh, ia mendengar Rasulullah membaca firman Allah SWT:

Artinya:” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran : 190-191).

Kemudian Rasulullah berkata kepada BIlal bin Rabah:” Telah turun kepadaku banyak ayat, celakalah orang-orang yang membacanya sedang ia tidak memikirkannya”.

Banyak diantara salaf as sholeh, menganggap bahwa ramadhan adalah bulan Al Qur’an, dan tidak bisa di ganggu oleh selainnya meski sebesar apapun derajat ilmu. Imam malik contohnya, ketika ramadhan tiba, beliau berhenti berfatwa, berhenti mengajar . Ia kemudian membaca Al Qur’an dan berkata:” ini adalah bulan al quran”.

Ibnu Hajar Al Asqolani rohimahullah ketika menulis profil Imam bukhori, ia mengatakan bahwa imam Bukhori menghatamkan al qur’an di bulan ramadhan 60 kali (1 kali di malam hari dan satu kali di siang hari).

Tetapi apakan ini sunnah? Disana banyak pendapat..

Tetapi yang jelas, sunnah rasulullah adalah tidak boleh mengkhatamkan al qur’an kurang dari 3 hari, sebagaimana sabda Rasulullah:

وقال: ” لم يفقه من قرأ القرآن في أقل من ثلاث (أخرجه أبو داود (1394)، والترمذي (2950) من

حديث عبد الله بن عمرو، وإسناده صحيح)

يقول: (اقرؤوا القرآن في سبع ولا تقرؤوه في أقل من ثلاث)[3]

Saya menyebutkan kisah ini hanya sebagai bukti bahwa salaf as shaleh sangan memperhatikan bacaan al qur’an di bulan ramadhan.

10. Memperbanyak doa selama berpuasa (sejak pagi hingga magrib)

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن النبي صلي الله عليه وسلم قال: ثلاثة لا ترد دعوتهم: الصائم حتي يفطر والإمام العادل ودعوة المظلوم (رواه الترمذي وقال حسن صحيح وابن ماجة وأحمد)

Artinya:” dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:” Tiga (golongan) permintaannya tidak akan ditolak: Orang yang berpuasa hingga berbuka, Pemimpin yang adil dan Doa orang yang terzolimi (HR. Tirmidzi (hasan shahih) dan Ibnu Majah dan Ahmad).

11. Makan Sahur

Dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Bersahurlah ; karena di dalam santap sahur itu terdapat barakah.” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari IV: 139 no:139 no:1923, Muslim II : 770 no:1095, Tirmidzi II: 106 no: 703, Nasa’i  IV:141 dan Ibnu Majah I: 540 no:1690).

Sahur, dianggap sudah terealisir, walaupun, berdasar hadits dari Abdullah bin Amr r.a. bahwa Rasulullah saw.  bersabda, “Bersahurlah, walaupun sekedar setegukan. “(Shahi: Sahihul Jami’us no:2945 dan Sahih Ibnu Hibban VIII : 224 no:884).

Dianjurkan  mengakhirkan  santap sahur, sebagaimana ditegaskan dalam hadits, dari Anas dari Zaid bin Babit r.a. ia berkata: Kami pernah bersantap sahur bersama Nabi saw. , kemudian beliau mengerjakan shalat, lalu aku bertanya (kepada Beliau), “Berapa lama antara waktu adzan dengan waktu sahur?” Jawab Beliau, “Sekedar membaca lima puluh ayat. “(Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari IV: 138 no 1921, Muslim II : 771 no:1097, Tirmidzi II: 104 no: 699, Nasa’i IV: 143 dan Ibnu Majah I:540 no:1694).

اَلسَّحُوْرُ كُلُّهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ اْلمُتَسَحِّرِيْنَ

“Semua makan sahur adalah berkah maka janganlah kalian meninggalkannya sekalipun dengan meneguk air, sesungguhnya Allah dan para malaikatnya berdo’a bagi mereka yang makan sahur”.

Keberhakahan sahur kembali pada tiga faktor:

1.  Menghipkan sunnah Rasulullah dan keberkahan sunnah tidak bisa ditandingi apapun.

2.  Waktu itu adalah waktu turunnya Allah ke langit dunia, Ia kemudian berfirman:” apa kaha ada yang memohon sesuatu niscaya akan aku kabulkan? Apakah ada orang yang minta ampun niscaya aku ampuni? Maka jika kita sahur, berzikir dan mohon ampun kepadanya, niscaya kita akan di ampuni oleh Allah SWT.

3.  Makan sahur akan membantu kita sewaktu puasa di siang hari.

Di antara keutamaan makan sahur adalah sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya:

فَصْلُ مَابَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ اْلِكتَابِ أَكَلَةُ السَّحُوْرِ

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur”.

Bersahur dengan kurma sebagaimana sabda Rasulullah

نِعْمَ سَحُوْرِ اْلمُؤْمِنِ التَّمْرُ

“Sebaik-baik sahur seorang mu’min adalah kurma”.

Juga disunnahkan untuk menterakhirkan sahur sebagaimana sabda Rasululah:

إنا معشر الأنبياء أمرنا بتعجيل فطرنا وتأخير سحورنا وأن نضع أيماننا علي شمائلنا في الصلاة

12. Makan tidak terlalu kenyang. Karena makan terlalu kenyang akan menyebabkan malas untuk beribadah, tidak akan merasakan kekhusu’an ketika shalat taraweh.

وفي حكمة لقمان : يا بني ، إذا امتلأت المعدة نامت الفكرة ، وخرست الحكمة ، وقعدت الأعضاء عن العبادة  وقال سحنون[4] :”لا يصلح العلم لمن يأكل حتى يشبع” .

Dalam hadits Rasulullah disebutkan:

(ما ملأ آدمي وعاء شر من بطنه حسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه فإن كان لا محاله فثلث لطعام وثلث للشراب وثلث للنفسه) (رواه التردذي)

13. Seorang muslim hendaknya berusaha menjamu orang lain untuk berbuka dengan dirinya, telah disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

من فطر صائما كان له مثل أجر فاعله عير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا (رواه الترمذي وقال حسن صحيح)

Barang siapa yang memberikan orang yang sedang berpuasa makanan untuk berbuka puasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala (orang yang berpuasa tersebut), tanpa mengurangi sedikitpun pahal ornag yang berpuasa tersebut

14. Shalat malam dan berusaha untuk terus berjama’ah

Rasulullah bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مع الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ»(٥٢- أخرجه أبو داود: (2/105)، والترمذي: (3/169)، والنسائي: (3/202، 203)، من حديث أبي ذر الغفاري رضي الله عنه، وصححه الألباني في صحيح أبي داود: (1375) وصحيح الترمذي: (806)

15. Membayar Zakaf Firah

Penutup (doa)

اللهم وفقنا لصيام هذا الشهر وقيامه إيمانا واحتسابا (3)

اللهم اغفر لنا ذنوبنا, وإسرافنا في أمرنا, وثبت أقدامنا وانصرنا علي القوم الكافرين.

وصلي الله علي محمد وعلي آله وأصحابه أجمعين


[1] HR. Bukhori wa Muslim

[2] هذا الحديث رواه أبو داود والحاكم وصححه

[3] ذكره ابن حجر في الفتح 9/ 97 وقال هو عند سعيد ابن منصور بإسناد صحيح

[4] Imam besar berasal dari Tunisia, lahir di Kairawan tahun 161 H

November 10, 2009

HAKIKAT PENUNTUT ILMU*

Pendahuluan

Seluruh Ahlul Ilmi sepakat bahwa warisan terbesar dan paling berharga didalam sejarah kehidupan manusia adalah ilmu pengetahuan. Rasulullah SAW mengatakan bahwa para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham tetapi mewariskan ilmu pengetahuan. Maksud dari ilmu disini adalah ilmu syar’i yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT. Imam Bukhori ketika menyebutkan kitab ilmi didalam kitab shahihnya, ia memulai dengan menyebut keutamaan ilmu. Ia berkata :” باب العلم قبل القول و العمل   kemudian beliau mengutip firman Allah SWT فاعلم أنه لا إله إلا الله [1] Ibnu Al Munir berkata:” Maksudnya adalah bahwasanya Ilmu adalah syarat sahnya setiap perkataan dan perbuatan. Keduanya tidak berarti apa-apa tanpa ilmu karena ilmu adalah faktor pentashih niat dan niat merupakan faktor pentashih amal. Dengan demikian penulis (Imam Bukhori) mengingatkan sejak dini pentingnya ilmu, sehingga tidak terdetik didalam hati seseorang bahwa Ilmu tidak bermanfaat tanpa amal yang pada akibatnya timbul sikap remeh terhadap ilmu pengetahuan dan thalabul ilmi.[2]. Seorang hamba tidak akan bisa mengetahui apa yang di sukai oleh Allah SWT kecuali melalui para rasul, oleh karena itulah Rasulullah menganjurkan seluruh umatnya untuk menuntut ilmu. Rasulullah bersabada :

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلي الجنة[3]

Thariq atau jalan disini memiliki dua pengertian. Pertama; jalan dalam menuntut ilmu diartikan sebagai jalan yang dilewati oleh seorang thalibul ilmi dari rumahnya menuju tempai dimana ia belajar. Kedua; juga biasa diartikan dengan arti lain seperti berfikir, membaca buku, mengadakan riset, diskusi bersama para ulama dan thalalibul ilmi dan sebagainya, semua itu merupakan jalan menuju ilmu.[4]

Didalam hadits lain Rasulullah bersabda :

إِن الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضا بما يصنع [5]

Juga di dalam hadits lain Rasulullah bersabda :

وإن العالم ليستغفر له من فى السموات ومن فى الأرض والحيتان فى جوف الماء وإن فضل العالم على العابد كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب[6]

Enam syarat sukses dalam menuntut ilmu

Seorang penuntut ilmu, apalagi ilmu yang dapat mendekatkannya kepada Allah haruslah  memuliki kemauan yang tinggi. Karena menuntut ilmu tidak akan berhasil kecuali ada beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang thalibul ilmi. Adapun sifat2x itu sebagaimana disebutkan oleh ulama kita adalah:

أخي لن تنال العلم إلا بستةٍ ……….. سأنييك عن تفاصيلها ببيان
ذكاء وحرص وافتقار وغربة ………….. وتلقين أستاذٍ وطول زمان

Enam hal ini jika benar-benar di perhatikan oleh thalabul ilmi insya Allah berhasil. Setiap orang ingin menuntut ilmu, tetapi banyak diantara mereka yang tidak sampai pada ilmu tersebut karena tidak tahu jalan yang harus ia tempuh. Sebagaimana dalam kisah ibnu Mas’ud bersama orang-orang yang bertasbih dengan krikil. Mereka berkata :” wahai abu Abdirrohman, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan”. Ibnu Mas’ud berakata:” dan berapa banyak orang-orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak tercapai”. Karena ia belum berjalan dijalan yang telah ditentukan dan pada manhaj yang telah di tetapkan.

Pada makalah yang singkat ini kita mencoba untuk mengambil pelajaran dari enam sifat yang telah kita sebutkan tadi, yang harus dimiliki oleh seorang thalib al ilmi.

1. Dzakaun (kecerdasan)

    Kecerdasan merupakan syarat pertama yang harus dipenuhi oleh thalibul ilmi. Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa orang yang pintar adalah orang yang mengetahui bahwa ia tidak tahu akan sesuatu dan karenanya dia mau belajar.

    Ilmu itu sangat luas sekali dan ia tidak memiliki akhir.  Imam Ibnu Jarir At Thobary ulama terkenal yang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, baik itu tafsir, hadits, tarikh, fiqh, Qiroat, ilmu lughah, ilmu filsafat, mantiq, dll, ketika ingin menulis tarikh (sejarah) ia berkata kepada sahabat-sahabatnya :” saya ingin menulis tarikh sejak Adam sampai sekarang”. Mereka bertanya :”berapa naskah (waroqoh)?”. Beliau menjawab:”30000”. Mereka berkata:” umur tidak akan cukup untuk itu”. Akhirnya beliau hanya menulis buku tarikh tersebut sebanyak 3000 naskah. Jadi tarikh thabary yang ada saat ini hanya 1/10 dari tarikh yang ingin di tulis oleh imam Thabary. Begitu juga dengan tafsir, ketika Imam Thabary mengungkapkan keinginannya untuk menulis tafsir, sahabat-sahabatnya bertanya:”besarnya seperti apa?” ia menjawab:” 30000 naskah (waroqoh). Mereka berkata:” umur akan habis sebelum ia selesai”. Akhirnya Imam Thabari menulis tafsir secara singkat sebanyak 3000 naskah (waroqot)[7]. Imam besar ini, dengan segudang ilmu yang ia miliki, tatkala sahabat-sahabatnya datang menjenguk disaat ia menghadapi syakarat al maut , mereka berdiskusi tentang sebuah masalah dalam ilmu faroid (mawaris), Imam Thabari meminta pena, tinta dan kertas untuk menulis permasalah tersebut. Salah satu temannya bertanya :” Saat ini?”. Ia menjawab :”Saya meninggal dan mengetahui permasalahan ini lebih baik daripada saya meninggal tanpa mengetahuinya“. Imam besar ini meskipun ilmu yang ia miliki sangat banyak, tetapi tatkala meninggal dunia, banyak permasalahan ilmu pengetahuan yang belum ia ketahui. Begitu juga imam Malik dan ulama-ulama lainnya. Dengan demikian ilmu tidak memiliki akhir, semakin banyak yang kita ketahui maka semakin banyak pula ilmu yang belum kita ketahui. ) “Dan tidaklah diberikan ilmu kepada kamu kecuali sedikit (QS. Al isra : 85)). Maka tidak mungkin permasalahan besar ini diserahkan kepada orang bodoh.

    Dan merupakan salah satu tanda kecerdasan seseorang adalah memulai ilmu-ilmu yang kecil (dasar) sebelum ilmu yang besar (tinggi), karena makanan orang dewasa bisa menjadi racun bagi bayi. Sebagai contoh: daging sangat baik untuk orang dewasa tetapi ia sangat berbahaya jika diberikan kepada seorang bayi, begitu juga dengan orang yang baru belajar ilmu, jika diberikan kepadanya ilmu yang tinggi, ilmu itu bisa  membahayakannya. Oleh karena itu, merupakan tanda kecerdasan seorang thalib ilmi adalah memulai dari ilmu yang kecil dan tentunya memulai dari hal-hal yang wajib ia ketahui terlebih dahulu, seperti masalah aqidah agar terlepas dari syirik dan dan masalah ibadah dan lainnya.

    2. Hirsun (ketamakan)

      Seseorang yang tamak terhadap apa saja, tidak akan pernah membiarkan satu detikpun waktunya lewat dengan sia-sia. Detik demi detik akan terprogram rapi sehingga cita-cita berhasil ia raih dengan sempurna. Maka sebagai seorang thalibul ilmi harus benar-benar menjaga efisiensi waktu, karena waktu adalah umur. Seorang thalib ilmi tidak menyukai sebuah majelis yang tidak seorang pun di antara mereka benar-benar menguasai permasalahan yang sedang dibahas. Sebagai contoh mungkin diadakan sebuah majelis, dan terjadi perdebatan sampai tengah malam tetapi tidak seorangpun yang memahami permasalahan dengan sempurna. Setiap orang hanya berpegang teguh pada qila wa qola , karena ini hanya akan menghilangkan waktu.

      Ulama-ulama kita dahulu termasuk orang-orang yang paling sungguh-sungguh dalam menjaga efisiensi waktu. Kita ambil sebagai contoh, Ibnu Aqil al Hanbaly[8]. Beliau mengarang sebuah buku dengan judul “al Funun” sebanyak 800 jilid dan yang sudah dicetak sebanyak 2 jilid.  Al Hafidz Ad Dzahaby didalam tarikhnya berkata:” belum ada seorangpun didunia ini yang mengarang buku melebihi kitab ini (al funun). Saya telah diberitahukan oleh seseorang (yaitu Ibnu Rajab) bahwa ia pernah melihat buku tersebut diatas jilid yang ke 400”. Abu Hafs Umar bin Ali Al Qozwini  berkata:”  saya mendengar dari syekh-syekh kami, mereka mengatakan:” buku itu 800 jilid”.

      Ibnu Aqil al hanbaly sama dengan orang-orang biasa, ia memiliki isteri, anak, alim di kampungnya, sibuk mengajar para santri-santrinya dan ia juga memiliki kesibukan tersendiri, tetapi meskipun demikian ia berhasil mengarang sebuah buku sebanyak 800 jilid, dan buku ini satu dari sekian banyak bukunya yang beliau karang. Bagaimana ia bisa menulis buku tersebut sebanyak 800 jilid?? Ia berkata:

      إني لا يحل لي أن أضيّع ساعة من عمري ، حتى إذا تعطل لساني عن مذاكرة ومناظرة ، وبصري عن مطالعة ، أعملت فكري في حال راحتي وأنا على الفراش ، فلا أنهض إلا وخطر لي ما أسطره . وإني لأجد من حرص على العلم وأنا في الثمانين من عمري أشد مما كنت أجده وأنا ابن عشرين سنة ، وأنا أقصّر بغاية جهدي أوقات أكلي ، حتى أختار سفّ الكعك وتحسّيه بالماء على الخبز ، لأجل ما بينهما من تفاوت المضغ

      “Tidak boleh bagi saya menyia-nyiakan sedikitpun dari umur saya, hingga tatkala lisanku capek karena belajar dan diskusi, dan mataku lelah karena membaca. Saya berfikir tatkala istirahat diatas tempat tidur. Maka takkala saya berdiri, telah terdetik didalam diri saya apa yang akan saya tulis. Saya merasa bahwa kesungguhan saya dalam menuntut ilmu pada umur 80 tahun melebihi  kesungguhan saya di umur 20 tahun. Dan saya mempersingkat semampu mungkin waktu-waktu makan. Hingga saya memilih ka’ak (kue)  dan saya merasakannya dengan air dari pada Hubz (roti). Hanya karena antara keduanya ada perbedaan waktu ketika mengunyah”.

      Ibnu ‘Akil Al Hanbali sama sekali tidak melalaikan waktu, hingga ia terus mengulur-ulur badannya untuk istirahat hanya untuk mencapai sebuah tujuan mulia yaitu ilmu pengetahuan.

      Ulama-ulama kita dahulu tidak pernah  menyia-nyiakan waktu mereka sedikitpun. Maka tidak heran akhirnya mereka menjadi ulama yang benar-benar ahli di bidangnya. Jika mereka berbicara tentang satu bidang ilmu, mereka benar-benar menguasainya. Sebagai contoh Ibnu Taimiyyah Rohimahullah, seseorang yang bisa membuat setiap orang tercengang, jika kita membaca riwayat hidupnya, tidak akan pernah bosan. Sangat menjaga efisinesi waktu, oleh karena itulah Allah memberikan berkah atas umurnya. Hingga Ibnu Al Qoyyim berkata :” Saya telah melihat darinya sesuatu yang luar biasa. Ia menulis sebuah buku hanya dalam satu malam padahal orang lain mengopinya dalam waktu satu jum’at”. Padahal dalam menulis dibutuhkan ketenangan, kemudian membaca sana-sini, menulis, mendahulukan ini dan mengakhirkan itu dan sebagainya. Tetapi beliau ketika menulis laksana air mengalir.

      3. Iftiqor… (butuh)

        Seorang thalibul ilmi harus terus merasa butuh terhadap ilmu, jika ia merasa telah cukup maka itulah awal kegagalan. Oleh karena itu, ketika thalibul ilmi menguasai sebuah ilmu, maka  tidak boleh merasa bahwa ia telah menguasai sesuatu. Tetapi harus merasa selalu kurang dan terus butuh terhadap ilmu orang lain. Ketika ia merasa sudah tidak butuh orang lain, saat itulah, ia akan mengalami kerugian yang sangat banyak. Shofyan Sauri berkata:

        لا ينبل أحد حتي يكتب عمن فوقه وعمن مثله وعمن دونه

        “seseorang tidaklah dianggap jenius hingga ia belajar dari orang yang diatasnya, sepertinya dan orang yang lebih rendah darinya”.

        Iftiqor ini sangat penting sekali bagi thalibul ilmi, pondasinya adalah tawadu’ dan tidak merasa diri lebih dari orang lain alias sombong atau gengsi.

        4. Gurbatun (asing)

          Gurbah disini memiki dua makna. Pertama; Rihlah fi Tholab al Ilmi. Meninggalkan keluarga, rumah, kampung halaman untuk satu tujuan yaitu menuntut ilmu. Kalau kita membuka lebaran-lembaran sejarah tentang hal ini, kita akan menumukan sesuatu yang sangat mencengangkan dari ulama-ulama hadits. Sebagai contoh. Imam bukhori menulis bukunya As Shahih didalamnya terdapat sekitar 4000 hadits tanpa pengulangan. Berapa lama Imam Bukhori dalam mengumpulkan hadits-hadits ini? Berapa berapa negeri yang harus ia kelilingi? Seberapa besar rasa capek yang beliau rasakan selama mengumpulkan hadits-hadits ini? Imam Bukhori yang hafal 300 ribu hadits mengarang bukunya As Shahih selama 17 tahun. Ketika Imam Bukhori sampai di Bagdad, ada seseorang yang mendengar seseorang mengatakan bahwa Imam Bukhori tidak bisa melaksanakan shalat dengan benar. Orang tersebut kemudian mendatangi imam Bukhori dan berkata :” ada seseorang yang mengatakan bahwa anda tidak bisa shalat dengan benar?”. Imam Bukhori menjawab :” Jika saya mau, saya bisa menyebutkan 10 ribu hadits tentang shalat sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu”. Ia menulis bukunya tersebut selama 17 tahun. Dan ia kumpulkan dari berbagai kota. Contoh lain bisa kita liha pada kisah perjalanan Syu’bah bin Hajjaj dari basrah ke mekah kemudian madinah dan kembali ke basrah hanya untuk mengecek sanad hadits wudhu[9], satu bulan perjalana Jabir bin Abdillah dari Madinah ke Syam hanya untuk mengetahui satu hadits yang pernah didengar oleh Abdullah bin Unais dari Rasulullah[10] dan perjalanan ulama-ulama lainnya.

          Arti kedua adalah tidak bergaul dengan orang lain kecuali dengan orang-orang yang satu tujuan (tholabu al ilmi) dengannya. Dengan kata lain tidak mempergunakan waktu untuk ngobrol dan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Jadi seorang tholibul ilmi merasa asing di suatu daerah yang tidak berpendidikan.

          5. Talqin Ustadz

            Menghadiri muhadarah sang ustadz atau dosen merupakan syarat ke 5 dari enam syarat sukses menuntu ilmu. Yang menghadiri kulliah akan mendapatkan minimal tiga manfaat. Pertama; Mempersingkat waktu, kedua; mengislah pemahaman yang salah, ketiga; Memberika adab. Yang pertama, satu buku yang jika dibaca sendiri membutuhkan waktu satu hari tetapi guru dapat menjelaskan dalam waktu satu pertemuan. kedua, mengislah pemahaman yang salah, sekarang ini kita sering menemukan kesalahan didalam cetakan, mungkin yang paling banyak kelihatannya di dalam buku-buku muqorror. Siapa yang akan membenarkannya?? Tentu Ustadz atau dosen, maka karena itulah ulama kita dulu mengatakan :”

            لا تأخذ العلم من صحفي ولا القرآن من مصحفي[11]

            6. Tuul Az Zaman (waktu yang lama)

              Karena ilmu sangat luas dan tidak memiliki akhir maka sudah barang tentu membutuhkan waktu yang sangat lama. Pepatah Arab mengatakan :”Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”.[12] Tidak ada kata berhenti dalam belajar, semakin tua umur maka semangat untuk belajar juga harus lebih tinggi sebagaimana perkataan Ibnu ‘Aqil Al Hanbali :” Saya merasa bahwa kesungguhan saya dalam menuntut ilmu pada umur 80 tahun melebihi  kesungguhan saya di umur 20 tahun”.

              Buku dan Thalibul Ilmi

              Buku adalah nyawa bagi seorang alim atapun thalibul ilmi. Tanpa buku laksana badan tanpa nyawa. Qadhi Zurjan (Abu Al Hasan Ali Abdul Aziz), menceritaka bagaimana pentingnya buku baginya dan nikmatnya hidup didampingi buku. Ia berkata dalam syairnya:

              ما تطعمت لذة العيش حتي                      صرت للبيت والكتاب جليسا

              ليس شيئ عندي أعز من العلـ                 ـــم فما أبتغي سواه أنيسا

              إنما الذل في مخالطة النا                           س فدعهم وعش عزيزا رئيسا

              Atau dalam bait lain di katakan :

              وخير جليس في الزمان كتاب  *** تسلو به إن خانك الأصحاب

              Banyak diantara ulama-ulama kita yang rela menjual harta yang mereka miliki untuk mendapatkan sebuah buku. Bahkan ada yang bernazar shalat atau puasa jika ia bisa membeli buku yang ia inginkan. Didalam makalah singkat ini penulis akan memberikan salah satu contoh dari mereka. Abdul Fattah Abu Guddah (pengarang buku Shofahat min sobri Al Ulama ‘ala syadaid al ilmi wa at tahsil) yang lahir tahun 1336 H dan wafat tahun 1418 H. bercerita:

              “Ketika saya belajar di kulliyah syari’at Universitas Al Azhar, Syekh saya Al ‘Allamah Al Imam Muhammad Zahid Al Kautsari menasehati saya agar memiliki buku Fathu ALbab Al ‘inayah bi syarhi kitab an Nuqoyah karangan Allamah syakh Ali Al Qori. Saya mengira buku itu di cetak di India. Saya tinggal di Kairo selama 6 tahun (hingga saya berhasil menyelesaikan pendidikan disana). Selama itu saya terus mencari buku tersebut di seluruh maktabah  dan toko buku tetapi selama itu juga saya tidak pernah menemukan buku tersebut.

              Ketika saya kembali ke Halab (di Syiria), saya terus berusaha mencari buku tersebut di setiap kota yang saya kunjungi dan setiap toko buku yang ada. Karena buku tersebut termasuk buku cetakan India, saya berusaha mencari buku-buku yang di cetak di India mudah-mudahan bisa menemukan buku yang selama ini saya cari, tapi tidak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya.

              Kemudian saya bertanya kepada Syekh Hamdi As Saparjalany tentang buku tersebut. Dari beliau saya mengetahui bahwa buku itu di cetak di Qazan Rusia. Dan selama hidupnya ia baru melihat satu eksempalar darinya dan telah dijual kepada Allamah Al Kautsari dengan harga yang tidak masuk akal.

              Pada tahun 1376 H saya berkesempatan haji ke baitullah. Saya keliling di Mekah dan menanyai semua percetakan yang ada tetapi hasilnya nihil. Kemudian saya berkunjung ke salah satu toko buku langka yaitu milik Syekh Al Musthafa bin Muhammad Asy Syanqithi, saya membeli beberapa buku darinya. Dengan nada putus asa saya bertanya kepadanya tentang buku yang selama ini saya cari. Ia menjawab:” seminggu yang lalu buku itu saya beli dari salah seorang ulama Bukhara, dan telah saya jual kepada seseorang dari Bukhara yang merupakan salah seorang ulama di Thasyqand. Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Saya bertanya:” Siapa nama Alim dari Thasyqand yang membeli buku itu darinya. Ia menjawab:” Syekh Inayatullah At Thasyqandy”. Saya bertanya lagi:” dimana ia tinggal? Bagaimana saya menemukannya?”. Ia menjawab :” saya tidak tahu”. Saya semakin putus asa.

              Saya kemudian menemui setiap orang Bukhara yang saya temui baik itu di mesjid al haram atau di pasar, bahkan saya pergi ke luar Mekah untuk mencari syekh tersebut. Tetapi bagaimana mungkin saya menemukannya. Berapa banyak orang Bukhara yang memeiliki nama ‘Inayatullah yang haji di Mekah. Hingga saya bertemu dengan Syekh Abdul Qodir At Thasyqandy di perbatasan Mekah darinya saya mengetahi nama Syekh yang membeli buku tersebut yaitu Syekh Mir ‘Inayah At Thasyqandy. Tetapi ia tidak mengetahi tempatnya.

              Sudah satu minggu saya mencari buku teresebut, hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang saudagar dari Syam di salah satu pintu mesjid Al Haram. Ia memanggil saya ke tokonya setelah melihat bahwa saya orang Syam. Ia kemudian bertanya tentang keadaan Syam dan tentang penduduknya. Saya kemudian bertanya kepadanya tentang Syekh dari Bukhara itu. Ia menjawab:” Toko yang ada didepan saya itu adalah milik suami putrinya, dia lebih tahu”. Wallohi saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya dengar.

              Saya kemudian mendatangi toko milik suami putrinya dan menanyakannya. Ia balik bertanya :”kenapa kamu menanyakannya dan kenapa ingin bertemu dengannya”. Saya menjawab:” saya sudah berminggu-minggu mencarinya, tunjukkan saya tempatnya semonga Allah memberikan balasan buat anda”. Ia kemudian menunjukkan rumahnya kepada saya di Hay Al Misqolah. Saya mendatanginya berkali-kali siang dan malam hingga akhirnya bertemu dan ia menjual bukunya kepada saya dengan harga yang ia inginkan. Hari itu merupakan hari bahagia yang tidak akan saya lupakan seumur hidup”.[13]

              Penutup

              Abu Al Aswad mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih mulia dari ilmu, para raja adalah pemimpin manusia dan ulama adalah pemimpin para raja. Ibnu Abbas juga pernah mengatakan bahwa Allah telah memberikan nabi Sulaiman pilihan antara ilmu, harta dan kekuasaan, dan ia memilih ilmu. Akhirnya Allah memberikan kepadanya ilmu, harta dan kekuasaan.[14]

              Sebagai thalibul ilmu, pencari warisan nabi Muhammad SAW, hendaklah memulai perkerjaan yang mulia ini dengan mengikhlaskan niat karena Allah SWT. Kemudian berjalan sesuai dengan jalan yang telah ditentukan serta mengamalkan apa saja yang telah di pelajari. Karena Rasulullah telah bersabda :” Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu.” Wallohu a’lam

              Referensi:

              1. Al Qur’an
              2. Mauqif As Shabah fi Al Fitnah, Dr. Muhammad Amhazun, Darussalam, Cairo, Mesir tahun 1428 H/2007 M.
              3. Fathu Al Bari, Ibnu Hajar Al ‘Asqolani, Dar At Taqwa li At Turots, Cairo, Mesir tahun 2000
              4. Syarh Muqoddimah Al Jumu’ li Al Imam Abi Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Dar Ibn Al Jauzy Cairo, Mesir.
              5. Shofahat min sobri Al Ulama ‘ala syadaid al ilmi wa at tahsil, Abdul Fattah Abu Guddah, Maktabah Al Batbu’at al Islamiyyah, Cetakan ke 8, Beirut Libanon, tahun 20005.
              6. Ihya Ulum Ad Diin, Abu Hamid Al Ghazali, Maktabah As Shafa, Cairo, Mesir, cetakan pertama 2003

              * Makalah ini disampaikan pada diskusi senat Dirosah Islamiyah wa Al Arabiyah, hari rabu 12 maret 2009.

               

              [1] QS. Muhammad ayat : 19

              [2] Fathu Al Bari, Kitab Al Ilmi bab Al ilmu qobla Al ‘Qowl wa Al ‘Amal juz 1 :194

              [3] Shahih, Diriwayatkan oleh Musim dan Abu Dawud

              [4] Syarh Muqoddimah Al Jumu’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Hal: 50

              [5] Shahih, Diriwayatkan oleh Ahmad didalam Al Musnad, Tirmidzi, An Nasai, Abd Razzak didalam kitab Al  Musonnif, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan At Thabrani.

              [6] Shahih, Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya.

              [7]    تحقيق موقف الصابة في الفتهة من روانات الإمام الطبري والحدثين للدكتور محمد أمحزون,  ص :  121

              [8] Nama aslinya adalah Abu Al Wafa Ali bin Aqil bin Muhammad bin Aqil bin Ahmad Al Bagdadi. Lahir pada bulan jumadal Akhir tahun 431 H.

              [9] Bunyi haditnya adalah:

              قال نصر بن حماد الوراق قال كنا قعودا على باب شعبة نتذاكر قال فقلت حدثنا إسرائيل عن أبي إسحاق عن عبد الله بن عطاء عن عقبة بن عامر قال كنا نتناوب رعاية الإبل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فجئت ذات يوم والنبي صلى الله عليه وسلم جالس وحوله أصحابه فسمعته يقول من توضأ فأحسن الوضوء ثم دخل المسجد فصلى ركعتين واستغفر الله غفر الله له قال فقلت بخ بخ قال فجذبني رجل من خلفي فالتفت فإذا هو عمر بن الخطاب فقال الذي قال قبل أحسن قال من شهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله قيل له ادخل من أي أبواب الجنة شئت

              [10] Sofahat min sobri Al Ulama ‘ala syadaid al ilmi wa at tahsil,  Abdul Fattah Abu Gaddah hal :44

              [11] Suhufy adalah orang yang belajar dari buku tanpa guru atau syekh, dan Mushafy adalah seseorang yang menghafal Al qur’an dari mushaf langsung tanpa syekh.

              [12] ini bukan hadits, melainkan pepatah bangsa Arab, bahkan ada yang mengatakan bahwa ini adalah perkataan Imam Ahmad bin Hanbal, atau jika dikatakan sebagai hadits , maka derajatnya dhoif dengan sanad yang tidak diketahui dari mana asalnya dalam kitab-kitab hadits.

              [13] Shofahat min sobri Al Ulama ‘ala syadaid al ilmi wa at tahsil, Abdul Fattah Abu Guddah hal : 279-281

              [14] Ihya Ulumuddin, Abu Hamid Al Ghazali hal :23

              November 10, 2009

              ADAB BERPUASA

               

              Allah SWT, mewajibkan puasa ramadhan pada bulan sya’ban tahun ke2 H, yaitu dengan turunnya firman Allah SWT yang berbunyi:

              “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah : 183)

              Rasulullah puasa ramadhan sebanyak 9 kali hingga beliau SAW meninggal dunia pada bulan rabi’ul awwal tahun ke 11 H.

              Ayat diatas menjelaskan kepada kita, bahwa Allah mewajibkan puasa ramadhan bagi orang-orang yang beriman dengan tujuan mudah2x mereka menjadi orang-orang yang bertakwa.

              Ulama berbeda pendapat tentang puasa yang di wajibkan atas umat islam sebelum turunnya firman allah dalam     surat al baqoroh ayat 183, pada dua pendapat:

              Pertama: diwajibkan atas umat islam puasa asyura (10 Muharram) setelah itu di hapus dengan turunnya firman Allah surat al  baqoroh:  183

              Kedua: diwajibkan atas umat islam berpuasa 3 hari setiap bulan  (puasa biid) setelah itu di hapus dengan turunnya firman Allah SWT dalam surat al baqoroh: 183

              Yang paling rojih adalah pendapat pertama, dengan dalil hadits shahih yang diriwayatkan dari Mu’awiyyah ra, bahwa Rasulullah naik mimbar kemudian bersabada:

              إن الله فرض عليكم صيام يومكم هذا في ساعتي هذه

              Hikmah Terbesar dalam Puasa

              Diantara hikmah puasa adalah pembiasan diri untuk ikhlas  karena Allah SWT.  Karena seseorang apabila terbiasa dengan sesuatu, maka ia akan terikat dengan apa yang ia biasakan, baik maupun buruk. Kalau ia terbiasa dengan kebaikan maka akan terus berada dalam kebaikan, dan jika terbiasa dengan kejahatan, maka ia akan berjalan pada jalan kesesatan.

              Maka diantara tujuan utama puasa adalah membiasakan manusia bersifat ikhlas kepada Allah SWT, karena puasa adalah ibadah paling rahasia, seseorang bisa berpura-pura puasa di hadapan orang lain, kemudian ia berbuka di dalam rumahnya, ia makan dan minum ketika orang lain tidak ada yang melihat. Dengan demikian puasa mendidik kita untuk selalu ikhlas kepada Allah serta jujur pada diri sendiri, Oleh karena itu, didalam hadits qudsy Allah berfirman:”

              قال رسول لله صلي لله عليه وسلم:” قال الله تعالي:” كل عمل ابن آدم له إلا الصيام, فإنه لي وأنا أجزي به (أخرجة البخاري)

              Fainnahu li… artinya Ikhlas hanya karena allah semata.

              Jika kita ingin melihat seseorang yang kuat, yang sanggup melaksanakan ketaatan kepada Allah, waktu senang ataupun susah, (dengan pertolongan Allah SWT tentunya) maka lihatlah orang menjadikan hawa nafsunya dibawah kendalinya, bukan malah dia yang dikendalikan oleh nafsu. Allah berfirman:

              وأما من خاف مقام ربه ونهي النفس عن الهوي فإن الجنة هي المأوي

               

              Jika kita bisa menaklukkan hawa nafsu dan bisa mengendalikannya sesuai dengan keinginan kita maka sesunggunya kita telah mendapatkan kebaikan. Tetapi jika yang terjadi malah sebaliknya maka itu bener2x sebuah musibah,

              Maka ketika berpuasa, hawa nafsu berada di bawah kendali kita, karena nafsu menginginkan makan, minum, dan lain sebagainya, dengan demikian kekuasaan seseorang bertambah kuat atas hawa nafsunya. Dan ini terjadi pada banyak ibadah

              Sebagai contoh, hawa nafsu ingin tidur, ketika subuh tiba, ia pun bangun dan ia paksa dirinya untuk mendirikan shalat. Jika itu dilakukan dengan terus-menerus insya Allah, subuh tidak akan terasa berat, karena nafsu telah berada dibawah kendali kita. Begitu juga pada ibadah2x lainnya.

              Syahwat Makan, kita taklukkan dengan perintah puasa

              Syahwat Harta, kita taklukkan dengan perintah Zakat

              Syahwat istri dan anak serta keluarga, kita taklukkan dengan kewajiban haji

              Jika manusia dapat mengkontrol hawa nafsunya maka ia akan bisa menyuruh hawa nafsu tersebut kepada kebaikan yang ia inginkan…

              Oleh karena itulah, manusia terbagi pada 3 golongan:

              Pertama: Yaitu orang yang hawa nafsunya di bawah kontrolnya sendiri, mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia sebagaimana firman Allah swt :

              وأما من خاف مقام ربه ونهي النفس عن الهوي فإن الجنة هي المأوي

              Kedua: Hawa nafsunya lebih mendominasi dirinya. Allah berfirman tentang golongan ini:

               

              Artinya:” Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Al Jatsiah: 23)

              Maka orang2x pada golongan ini, didunia manapun ia tinggal ia akan hancur dan akan mendapatkan hukuman dari Allah SWT. Maka kita sering milihat orang berbuat dosa, ketika kita larang, ia mengatakan,:”saya tahu ini haram, tetapi saya tidak bisa meninggalkannya”. Itu artinya hawa nafsunya telah menguasai dirinya, dan dirinya sendiri tidak lain adalah budak nafsunya.

              Golongan ketiga adalah golongan yang mencampur aduk amal shaleh dan maksiat, orang2x ini kita serahkan kepada Allah. Mereka itu adalah orang2x yang kadang bisa menguasai hawa nafsunya dan kadang di kuasai oleh hawa nafsunya.

              Puasa mendidik kita untuk bisa mengontrol hawa nafsu, Ulama kita mengatakan, jika seseorang sanggup menahan dirinya dari makan, minum, bercampur dengan istri yang semua itu halal baginya, maka tentu ia lebih sanggup menahan dirinya dari apa-apa yang Allah haramkan untuknya..

              Adab Berpuasa

              Adab saat berpuasa di bagi pada dua macam:

              Pertama: hukumnya wajib

              • Seorang yang berpuasa harus benar-benar mengerjakan kewajibannya sebagai muslim, diantaranya dengan mendirikan shalat, berbakti pada orang tua, jujur dan sebagainya.
              • Menghindari hal-hal yang terlarang seperti berbohong, mengadu-domba, mencaci orang lain, ghibah, dan sebagainya. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

              فعن ابي هريرة رضي الله عنة عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال((من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس

              لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه)) (أخرجة البخاري)

              Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.a dari Rasulullah SAW, Ia bersabda :” Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (bohong) dan beramal dengannya, maka Allah tidak butuh kepada usahanya dalam meninggalkan makan dan minumnya.” (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari: 4/116).

              Juga wajib baginya menghindar dari segala sesuatu yang diharamkan, Tangannya tidak dipergunakan untuk mengambil sesuatu yang haram, kakinya tidak melangkah ketempat yang haram, ia tidak memakan kecuali yang halal.

              Tujuan puasa bukanlah bukanlah menahal lapar dan dahaga, tetapi tujuannya adalah apa yang dihasilkan oleh keduanya, yaitu menaklukkan sahwat dan hawa nafsu. Oleh karena itulah Rasulullah SAW bersabda :

              رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ورب قائم لس له من قيامة إلي السهر (أخرجه أبن ماجة من حديث أبي هريرة)

              Orang yang berpuasa adalah orang perutnya berpuasa dari makanan, panca indranya berpuasa dari dosa, dan lisannya dari kata-kata kotor, matanya dari hal-hal yang haram, pendengarannya dari hal-hal yang haram, kemaluannya dari hal-hal yang terlarang. Maka ketika ia berbicara, ia tidak berbicara dengan sesuatu yang dapat mengurangi nilai puasanya, ketika ia mengerjakan sesuatu, ia tidak mengerjakan sesuatu yang dapat merusak puasanya. Kata-katanya akan selau bermanfaat dan perbuatannya merupakan amal shaleh.

              Kedua: hukumnya sunnah

              * Menyambut ramadhan dengan senang dan gembira. Karena bulan ramadhan adalah merupakan salah satu kurnia yang Allah berikan pada umat ini. Allah SWT berfirman:

              Artinya:” Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“. (QS. Yunus : 58)

              * Berdoa ketika melihat hilal, sebagaimana disebutkan didalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar R.a, bahwa Rasulullah ketika melihat hilal berdoa:

              الله أكـــبر, اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام والتوفيق لما تحب وترضي ربنا وربك الله

              Rasulullah SAW bersabda”Robbuna warobbuka Alloh”. Artinya: Kamu dan saya adalah hamba Allah. Karena Bulan, matahari disembah. Maka Rasulullah SAW ingin memberitahukan kepada manusia bahwa seluruh makhluq adalah ciptaan Allah SWT. Maka Rasululullah mengatakan, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, maka tidak berhak bagi seseorang untuk menyembah selain Allah. Yang menciptakan kamu adalah allah, yang memunculkan kamu adalah Allah, yang menghiasai kamu adalah Allah, Maka sebagaimana saya ini ciptaan Allah, maka kamu juga ciptaan Allah, maka telah sesatlah orang yang menyembahmu dan telah sesatlah orang yang menyembah selain Allah.

              * Memperbanyak Amal Ibadah terutama Membaca Al Qur’an

              Ketika bulan ramadhan tiba, Rasulullah SAW berusaha sekuat tenanga untuk terus berbuat kebaikan, bersedekah, infak, hibah, bahkan pakaian yang ia pakai dan sangat butuhkan, ketika di minta akan diberikan.

              Juga merupakan sunnah yang harus kita ambil pelajaran dari Rasulullah, yaitu kehidupan beliau bersama Al Qur’an. Rasulullah SAW mempelajari Al qur’an ketika bulan ramadhan bersama jibril. Bulan Ramadhan Adalah bulan Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT:

              ãöky­ tb$ŸÒtBu‘ ü“Ï%©!$# tA̓Ré& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# ”W‰èd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3“y‰ßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4

              Artinya:”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

              Bulan ini adalah bulan qur’an, dan perhatian rasulullah SAW terhadap al-quran adalah melebih dari segalanya. Karena Al Qur’an adalah mu’jizat abadi yang Allah turunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Dan pembeda antara yang haq dan yang bathil, yang kekal sampai hari kiamat. Rasulullah bersabda :

              تركت فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا أبدا كتاب الله وسنتي

              Rasulullah menjadikan sebaik2x waktunya di bulan ramadhan untuk Alqur’an, oleh karena itulah ketika Aisyah Ra.ditanya sebagaimana yang di sebutkan didalam hadits muslim…

              كيف كانت خلقه صلي الله عليه وسلم؟ قالت : خلقه القرآن

              Kehidupan rasulullah SAW dengan Al Qur’an bukan hanya membaca, tetapi lebih dari itu, dengan tafakkur, tadabbur, dan kemudian di di laksanakan didalam kehidupan sehari2x.

              Didalam sebuah hadits (disebuktkan oleh banyak mufassirin didalam tafsir mereka) diriwayatkan bahwa Bilal bin Rabah datang kemesjid waktu subuh, ia mendengar Rasulullah membaca firman Allah SWT:

               

              Artinya:” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran : 190-191).

              Kemudian Rasulullah berkata kepada BIlal bin Rabah:” Telah turun kepadaku banyak ayat, celakalah orang-orang yang membacanya sedang ia tidak memikirkannya”.

              Banyak diantara salaf as sholeh, menganggap bahwa ramadhan adalah bulan Al Qur’an, dan tidak bisa di ganggu oleh selainnya meski sebesar apapun derajat ilmu. Imam malik contohnya, ketika ramadhan tiba, beliau berhenti berfatwa, berhenti mengajar . Ia kemudian membaca Al Qur’an dan berkata:” ini adalah bulan al quran”.

              Ibnu Hajar Al Asqolani ketika menulis profil Imam bukhori, ia mengatakan bahwa imam Bukhori menghatamkan al qur’an di bulan ramadhan 60 kali (1 kali di malam hari dan satu kali di siang hari).

              Tetapi apakan ini sunnah? Disana banyak pendapat..

              Tetapi yang jelas, sunnah rasulullah adalah tidak boleh mengkhatamkan al qur’an kurang dari 3 hari, sebagaimana sabda Rasulullah:

              وقال: ” لم يفقه من قرأ القرآن في أقل من ثلاث (أخرجه أبو داود (1394)، والترمذي (2950) من حديث عبد الله بن عمرو، وإسناده صحيح)

              يقول: (اقرؤوا القرآن في سبع ولا تقرؤوه في أقل من ثلاث)[1]

              Saya menyebutkan kisah ini hanya sebagai bukti bahwa salaf as shaleh sangan memperhatikan bacaan al qur’an di bulan ramadhan.

              * Tidak menyia-nyiakan makan sahur[2]. Nabi Muhammad bersabda:

              اَلسَّحُوْرُ كُلُّهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ اْلمُتَسَحِّرِيْنَ

              “Semua makan sahur adalah berkah maka janganlah kalian meninggalkannya sekalipun dengan meneguk air, sesungguhnya Allah dan para malaikatnya berdo’a bagi mereka yang makan sahur”.

              Keberhakahan sahur kembali pada tiga factor:

              1. Menghipkan sunnah Rasulullah dan keberkahan sunnah tidak bisa ditandingi apapun.
              2. Waktu itu adalah waktu turunnya Allah ke langit dunia, Ia kemudian berfirman:” apa kaha ada yang memohon sesuatu niscaya akan aku kabulkan? Apakah ada orang yang minta ampun niscaya aku ampuni? Maka jika kita sahur, berzikir dan mohon ampun kepadanya, niscaya kita akan di ampuni oleh Allah SWT.
              3. Makan sahur akan membantu kita sewaktu puasa di siang hari,

              Di antara keutamaan makan sahur adalah sebagaimana ditegaskan oleh Nabi r dalam sabdanya:

              فَصْلُ مَابَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ اْلِكتَابِ أَكَلَةُ السَّحُوْرِ

              “Perbedaan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur”.

              Bersahur dengan kurma sebagaimana sabda Rasulullah

              نِعْمَ سَحُوْرِ اْلمُؤْمِنِ التَّمْرُ

              “Sebaik-baik sahur seorang mu’min adalah kurma”.

              Juga disunnahkan untuk menterakhirkan sahur sebagaimana sabda Rasululah:

              إنا معشر الأنبياء أمرنا بتعجيل فطرنا وتأخير سحورنا وأن نضع أيماننا علي شمائلنا في الصلاة

              * Menyegerakan berbuka puasa. Sesuai dengan hadits-hadits Rasulullah yang berbunyi:

              لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ (أخرجه البخاري و سلم:من حديث سهل بن سعد رضي الله عنه)

              لاَ تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُوم (أخرجه ابن خزيمة و ابن حبان من حديث سهل بن سعد رضي الله عنه وصححه الألباني في “السلسلة الصحيحة”: وفي صحيح موارد الظمآن: (738)، وصحيح الترغيب: (1074))

              لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الفِطْرَ لأَنَّ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ»(أخرجه أبو داود: (2353)، وابن ماجه: (1698)، وابن خزيمة: (3/275)، وابن حبان: (889) من حديث أبي هريرة رضي الله عنه وحسنه الألباني في صحيح موارد الظمآن: (736)، وفي صحيح الترغيب: (1075)

              إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، -من جهة الشرق-  وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ»(٣٢-  أخرجه البخاري: (1954)، ومسلم: (1100)، من حديث عمر بن الخطاب رضي الله عنه).

              * Shalat malam dan berusaha untuk terus berjama’ah

              Rasulullah bersabda :

              مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

              مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

              إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مع الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ»(٥٢- أخرجه أبو داود: (2/105)، والترمذي: (3/169)، والنسائي: (3/202، 203)، من حديث أبي ذر الغفاري رضي الله عنه، وصححه الألباني في صحيح أبي داود: (1375) وصحيح الترمذي: (806))

               


              [1] ذكره ابن حجر في الفتح 9/ 97 وقال هو عند سعيد ابن منصور بإسناد صحيح

              [2] Sahur di mulai sejak pertengahan malam hingga terbit fajar.

              November 10, 2009

              KAIDAH-KAIDAH USHUL FIQH*

              BAB I

              PENDAHULUAN

              I. Latar Belakang Masalah

              Qawaidul Ushuliyah (kaidah-kaidah Ushul) adalah suatu kebutuhan bagi kita semua khususnya mahasiswa Azhar, calon mujtahid yang akan meneruskan perjuangan pendahulu-pendahulu kita dalam membela dan menegakkan islam dimanapun berada. Banyak dari kita yang kurang mengerti bahkan ada yang belum mengerti sama sekali apa itu Qawaidul ushuliyah. Maka dari itu, kami selaku penyusun mencoba untuk menerangkan tentang kaidah-kaidah ushul, mulai dari pengertian, perkembangan, sumber-sumbernya, dan beberapa urgensi dari kaidah-kaidah ushul.

              II. Rumusan Masalah

              1. Mengerti dan memahami pengertian kaidah ushul.
              2. Menyebutkan sumber-sumber pengambilan kaidah-kaidah ushul.
              3. Menyebutkan rukun serta syarat-syarat kaidah-kaidah ushul.
              4. Mengerti persamaan serta perbedaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqh?
              5. Mengeerti hubungan antara kaidah-kaidah ushul dengan ushul fiqh itu sendiri?
              6. Mengetahui faedah serta kedudukan kaidah-kaidah ushul.
              7. Mengetahui buku-buku yang di karang ulama tentang kaidah-kaidah ushul.

              III. Tujuan Pembahasan

              Makalah ini disusun bertujuan agar kita mengetahui, memahami dan mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan kaidah-kaidah ushul, mulai dari definisi, sumber-sumber, rukun, syarat, perbedaannya dengan kaidah-kaidah fiqh, hubungannya dengan ilmu ushul fiqh dan buku-buku yang menjadi subernya.

              BAB II

              PENGERTIAN

              Sebagai studi ilmu agama pada umumnya, kajian ilmu tentang kaidah-kaidah ushul diawali dengan definisi. Defenisi ilmu tertentu diawali dengan pendekatan kebahasaan. Dalam studi ilmu kaidah ushul fiqh, kita kita akan mencoba menjelaskan beberapa permasalahan mulai dari defenisi kaidah secara bahasa dan istilah, defenisi ushul fiqh secara bahasa dan istilah, defenisi kaidah-kaidah ushuliyyah secara bersamaan. Didalam seluruh defenisi tadi terdapat perbedaan pendapat dalam kalangan ulama, penyusun akan mencoba menulis beberapa defenisi dari kalangan ulama atau hanya sekedar menulis defenisi yang menurut penyusun lebih rajih atau lebih kuat.

              Defenisi kaidah

              Qawaid merupakan bentuk jamak dari qaidah, yang kemudian dalam bahasa indonesia disebut dengan istilah kaidah yang berarti aturan atau patokan. Dalam bahasa arab, kaidah memilik banyak arti diataranya: al-asas (dasar atau pondasi), al-Qanun (peraturan dan kaidah dasar), al-Mabda’ (prinsip), dan al-nasaq (metode atau cara). Al Qi’dah (cara duduk, yang baik atau yang buruk), Qo’id ar rojul (Istrinya), Dzul Qo’dah (nama salah satu bulan qomariyah yang mana orang orab tidak mengadakan perjalanan didalamnya) dan lain sebagainya.

              Dari seluruh arti tadi dapat kita simpulkan bahwa kaidah secara bahasa artinya tidak akan keluar dari dasar atau pondasi dan tempat sesuatu.

              Adapun secara istilah banyak sekali defenisi yang di buat oleh para ulama, tetapi yang paling lengkap dan paling baik menurut penyusun adalah:
              ”Suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagian-bagiannya.

              Defenisi Ushul Fiqh

              Untuk defenisi ushul fiqh sengaja penyusun tidak sebutkan karena sudah ada yang membahasnya..

              Defenisi kaidah-kaidah ushuliyah

              Dr. Jailany mendefinisikan sebagai:” hukum kulli (berifat umum) yang berdiri diatasnya furu’ fiqhiyah yang di bentuk dengan bentuk umum dan akurat”.

              Defenisi ini belum maani’ karena kaidah-kaidah fiqh masih masuk didalamnya.

              Prof. Dr. Muhammad Syabir mendefinisikan sebagai:” ”Suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang dengannya bisa sampai pada pengambilan kesimpulan hukum syar’iyyah al far’iyyah dari dalil-dalilnya yang terperinci”.

              Defenisi yang menurut penyusun lebih akurat adalah:” Hukum kulli (umum) yang dibentuk dengan bentuk yang akurat yang menjadi perantara dalam pengambilan kesimpulan fiqh dari dalil-dalil, dan cara penggunaan dalil serta kondisi pengguna dalil”.

              BAB III

              SUMBER-SUMBER PENGAMBILAN KAIDAH-KAIDAH USHUL

              Secara global, kaidah-kaidah ushul fiqh bersumber dari naql (Al-Qur’an dan Sunnah), ‘Akal (prinsip-prinsip dan nilai-nilai), bahasa (Ushul at tahlil al lughawi), yang secara terperinci kita jelaskan dibawah ini.

              Pertama: Al Qur’an.

              Al Qur’an merupakan firman Allah SAW yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, untuk membebaskan manusia dari kegelapan. Kitab ini adalah kitab undang-undang yang mengatur seluruh kehidupan manusia, firman Allah yang Maha mengetahui apa yang bermanfaat bagi manusia dan apa yang berbahaya, dan merupakan obat bagi ummat dari segalah penyakitnya. Allah berfirman :

              “dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. AL Isra: 82)

              Dan firman Allah:

              “dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS An Nahl: 89)

              Ini adalah kedudukan al Qur’an. Penyusun yakin semua orang tahu itu, maka tidak perlu di perpanjang di sini.

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang di hasilkan dari Al Qur’an adalah:

              1. Sunnah adalah sumber hukum yang di akui, dengan dalil

              وما ينطق عن الهوي  إن هو إلا وحي يوحي

              2. Al Qur’an bisa difahami dari uslub-uslub bahasa arab, dengan dalil

              إنا أنزلناه قرآنا عربيا لعلكم تعقلون

              3. Adat atau kebiasaan di akui sebagai hukum pada permasalahan yang tidak memiliki dalil, dengan dalil

              حذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين

              Kedua: As Sunnah

              Allah memberikan kemuliaan kepada nabi Muhammad SAW dengan mengutusnya sebagai nabi dan rasul terakhir untuk umat manusia dengan tujuan menyampaikan pesan-pesan ilahi kepada umat. Maka nilai kemuliaan Rasulullah bukan dari dirinya sendiri tetapi dari Sang Pengutus yaitu Allah SWT, karena siapapun yang menjadi utusan pasti lebih rendah tingkatannya dari yang mengutus. Allah Berfirman yang artinya:” Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul”. (QS. Ali Imran: 144).

              Jika seluruh perintah Allah telah disampaian oleh Rasulullah kepada umat, selesailah tugasnya dan wajib bagi umat untuk memperhatikan risalah yang di sampaikan oleh rasulullah. Allah berfirman yang artinya:

              “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali Imran: 144)

              Banyak sekali ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa sunnah Rasulullah adalah merupakan salah satu sumber agama islam, diantaranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 53,132,144, 172  juga didalam surat An Nisa ayat: 42, 59, 61, 64, 65, dan masih banyak lagi. Bahkan didalam surat Al Hasyr Allah berfirman:

              “apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari hadits adalah:

              1. Perintah yang mutlak hukumnya wajib (الأمر المطلق يفيد الوجوب)
              2. Ijma’ merupakah hujjah yang di akui secara syar’I (الإجماع حجة معتبرة شرعا)
              3. Jika berkumpul perintah dan larangan maka larangan di dahulukan (إذا اجتمع الآمر والمحرم قدم المحرم)
              4. Qiyas merupakan hujjah yang di akui secara syar’I (القياس حجة معتبرة شرعا)

              Ketiga: Ijma’

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari ijma adalah:

              1. Ijma’ Sahabat bahwa “hukum yang di hasilkan dari hadits ahad dapat di terima”.
              2. Ijma’ Sahabat bahwa “hukum terbagi menjadi 5 macam”.
              3. Ijma’ Sahabat bahwa “syariat nabi Muhammad menghapus seluruh syariat yang sebelumnya”.

              Keempat: Akal

              Akal memiki kedudukan yang tinggi didalam syariat islam, karena kita tidak akan faham islam tanpa akal. Sebagai contoh, Apa dalil yang menunjukkan bahwa Allah itu ada? Jika dijawab Al Qur’an, Apa dalil yang menunjukkan bahwa Al Qur’an benar-benar dari Allah? Jika dijawab I’jaz, apa dalil yang menunjukkan bahwa I’jazul quran sebagai dalil bahwa alqur’an bersumber dari Allah SWT? Dan seterusnya. Dengan demikian dapat kita fahami bahwa islam tidak akan kita fahami tanpa akal, oleh karena itulah akal merupakan syarat taklif dalam islam.

              Meskipun demikian, ada satu hal yang harus di perhatikan dengan seksama, bahwa akal tidak bisa berkerja sendiri tanpa syar’I. Akal hanyalah sarana untuk mengetahui hukum-hukum Allah melalui dalil-dalil al quran dan hadits. Allah lah yang menjadi hakim, dan akal merupakan sarana untuk memahami hukum-hukum Allah tersebut.

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang di hasilkan dari akal adalah:

              1. Al Qur’an merupakan dalil yang di akui.
              2. Baik dan buruk hanya di ketahui melalui syar’I bukan akal.
              3. Yang lebih kuat didahulukan dari yang lemah.

              Kelima: Perkataan Sahabat

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang diambil dari perkataan-perkataan sahabat Rasulullah adalah:

              1. Hadits-hadits Ahad zonniyah
              2. Qiyas adalah hujjah
              3. Hukum yang terakhir menghapus hukum yang terdahulu (naskh)
              4. Orang awam boleh taqlid
              5. Nash lebih di utamakan dari qiyas maupun ijma’

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari ilmu-ilmu islam

              1. Ilmu Ushuluddin
              • Baik dan buruk dapat diketahui dengan syar’I bukan dengan akal
              • Rasulullah tidak menetapkan ijtihad yang salah
              • Tidak ada yang ma’sum kecuali nabi
              • Syari’at islam menghapus syari’at sebelumnya
              • Domir goib kadang-kadang kembali pada kalimat yang tidak tertulis, dan itu bisa di ketahui melalui siyaaq kalimat.
              • Kalimat Aina (أين) menunjukkan tempat (syarat ataupun istifham) dan (  متي و أيان) menunjukkan waktu (syarat atupun istifham)
              • Fi’il madi jika menjadi fiil syarat, ia berubah menjadi kaliamat insyaa menurut kesepakatan ahli nahwu.
              • (إلي) menunjukkan akhir sesuatu (waktu maupun tempat)
              • Dan sebagainya.
                • Kaidah  سد الذرائع
                • Kaidah adat dan kebiasaan merupakan dalil yang di akui
                • Kaidah المصالح المرسلة

              2.  Ilmu Bahasa Arab

              • Domir goib kadang-kadang kembali pada kalimat yang tidak tertulis, dan itu bisa di ketahui melalui siyaaq kalimat.
              • Kalimat Aina (أين) menunjukkan tempat (syarat ataupun istifham) dan (  متي و أيان) menunjukkan waktu (syarat atupun istifham)
              • Fi’il madi jika menjadi fiil syarat, ia berubah menjadi kaliamat insyaa menurut kesepakatan ahli nahwu.
              • (إلي) menunjukkan akhir sesuatu (waktu maupun tempat)
              • Dan sebagainya.

              3. Ilmu Fiqih

              • Kaidah  سد الذرائع
              • Kaidah adat dan kebiasaan merupakan dalil yang di akui
              • Kaidah المصالح المرسلة

              BAB IV

              RUKUN DAN SYARAT KAIDAH-KAIDAH USHUL

              Rukun-rukun kaidah Ushuliyyah

              Ketika kita melihat sebuah kaidah ushul, النهي للكرار (larangan menunjukkan pengulangan) umpamanya kita akan menemukan 4 rukun didalamnya:

              Pertama      : Maudu’ (tema) yaitu النهي
              Kedua        : Mahmuul yaitu التكرار
              Ketiga        : Penisbatan antara keduanya yaitu kebergantungan rukun kedua dengan rukun pertama
              Keempat     : Terjadi atau tidaknya rukun ketiga pada keduanya.. (Apakah perintah menunjukkan pengulangan benar-benar terjadi atau tidak?)

              Jika keempat-empatnya adalah tasowwurot dimanakah hukumnya atau at tasdiq ??
              Ahli mantiq ketika berusaha menyelesaikan permasalahan ini berbeda pada 2 pendapat:
              1. Al Falasifah mengatakan bahwa at tasdiq adalah rukun ke empat saja, dengan kata lain menurut falasifah, kaidah-kaidah ushul cukup dengan satu rukun saja yaitu rukun yang keempat.
              2. Imam Ar Razi mengatakan bahwa at tasdiq tidak cukup dengan rukun ke empat saja tetapi gabungan dari keempat rukun tersebut.

              Syarat-syarat kaidah Ushuliyyah

              1. Harus dalam bentuk yang singkat
              2. Merupakan perkara yang sempurna
              3. Maudu’nya (temanya) harus kulli bukan juz’I (umum)
              4. Kaidah-kaidah ushul tersebut tidak bertentangan dengan syari’at dan maqosid syari’ah
              5. Tidak bertentangan dengan kaidah lain (baik itu kaidah ushul ataupun kaidah fiqh) yang sebanding dengannya atau lebih kuat darinya.
              6. Kaidah-kadiah ushul tersebut harus tegas dan tidak ragu-ragu

              BAB V

              HUBUNGAN ANTARA KAIDAH-KAIDAH USHUL DENGAN USHUL FIQH

              Ketika kita melihat defenis dari ushul fiqh dan kaidah-kaidah ushul, akan jelas sekali perbedaan atara keduanya. Tetapi meskipun demikian, keduanya tidak akan bisa dipisahkan karena ilmu kaidah-kaidah ushul merupakan bagian dari ilmu ushul fiqh. Hubungan antara keduanya adalah hubungan atara umum dan khusus (ilmu ushul fiqh lebih umum dari ilmu kaidah-kaidah ushul).

              Adapun perbedaan atara keduanya adalah sebagai berikut:

              • Mayoritas kaidah-kaidah ushul adalah nilai yang di ambil dari ushul fiqh (ushul fiqh jauh lebih luas pembahasannya daripada kaidah-kaidah ushul).
              • Perbedaan dalam segi maudu’ (tema). Tema kaidah-kaidah ushul adalah ushul fiqh itu sendiri adapun tema ushul fiqh adalah al- adillah al ijmaliayah min hautsu dobthi al fiqh.
              • Dari segi Tujuan. Tujuan dari kaidah-kaidah ushul adalah menyempurnakan ushul fiqh dengan cara menyempurnakan nilai-nilai ushul dengal lafaz yang singkat, dan mengembalikan nilai-nilai tersebut kepada nilai yang lebih umum yang menjadi kaidah buat kaidah tersebut.  Dengan demikian tujuan ilmu kaidah-kaidah ushul adalah ingin memberikan bentuk lain untuk ushul fiqh dalam bentuk kaidah yang lebih singkat dan sistematis. Adapun tujuan ushul fiqh adalah pencapaian nilai-nilai yang dapat menyempurnakan ijtihad dalam fiqh.
              • Dari segi histories (Apakah ushul fiqh muncul terlebih dahulu atau kaidah-kaidah ushul?)

              Sahabat-sahabat Rasulullah, tabi’in dan yang mengikuti mereka sejak dahulu telah berijithad dengan memakai kaidah-kaidah ushul.  Kemudian pembahasan semakin luas hingga muncullah ilmu ushul fiqh. Demikian juga ilmu ushul fiqh semakin luas hingga di butuhkan kaidah-kaidah singkat yang dapat dengan mudah diterapkan oleh seorang mujtahid, dan inilah yang menjadi tonggak munculnya ilmu kaidah-kaidah ushul. Dengan demikian kaidah-kaidah ushul lebih dahulu muncul dari ilmu ushul fiqh, dah ilmu ushul fiqh muncul sebelum munculnya ilmu kaidah-kaidah ushul.

              BAB VI

              PERBEDAAN ANTARA KAIDAH-KAIDAH USHULIYYAH DENGAK KAIDAH-KAIDAH FIQHIYYAH

              Persamaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqh terletak pada kesaaman sebagai wasilah pengambilan hukum. Keduanya merupakan prinsip umum yang mencakup masalah-masalah dalam kajian syari’ah. Oleh karena itu, dalam perspetif ini kaidah ushul sangatlah mirip dengan kaidah fiqih.

              Namun, kita pun bisa melihat perbedaan yang signifikan dari kedua kaidah tersebut, secara ringkas perbedaan kedua kaidah tersebut adalah sebagai berikut :

              1. Kaidah ushul pada hakikatnya adalah qa’idah istidlaliyah yang menjadi wasilah para mujtahid dalam istinbath (pengambilan) sebuah hukum syar’iyah amaliah. Kaidah ini menjadi alat yang membantu para mujtahid dalam menentukan suatu hukum. Dengan kata lain, kita bisa memahami, bahwa kaidah ushul bukanlah suatu hukum, ia hanyalah sebuah alat atau wasilah kepada kesimpulan suatu hukum syar’i. Sedangkan, kaidah fiqih adalah suatu susunan lafadz yang mengandung makna hukum syar’iyyah aghlabiyyah yang mencakup di bawahnya banyak furu’. Sehingga kita bisa memahami bahwa kaidah fiqih adalah hukum syar’i. Dan kaidah ini digunakan sebagai istihdhar (menghadirkan) hukum bukan istinbath (mengambil) hukum (layaknya kaidah ushul). Misalnya, kaidah ushul “al-aslu fil amri lil wujub” bahwa asal dalam perintah menunjukan wajib. Kaidah ini tidaklah mengandung suatu hukum syar’i. Tetapi dari kaidah ini kita bisa mengambil hukum, bahwa setiap dalil (baik Qur’an maupun Hadits) yang bermakna perintah menunjukan wajib. Berbeda dengan kaidah fiqih “al-dharar yuzal” bahwa kemudharatan mesti dihilangkan. Dalam kaidah ini mengandung hukum syar’i, bahwa kemudharatan wajib dihilangkan.
              2. Kaidah ushul dalam teksnya tidak mengandung asrarus syar’i (rahasia-rahasia syar’i) tidak pula mengandung hikmah syar’i. Sedangkan kaidah fiqih dari teksnya terkandung kedua hal tersebut.
              3. Kaidah ushul kaidah yang menyeluruh (kaidah kulliyah) dan mencakup seluruh furu’ di bawahnya. Sehingga istitsna’iyyah (pengecualian) hanya ada sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali. Berbeda dengan kaidah fiqih yang banyak terdapat istitsna’iyyah, karena itu kaidahnya kaidah aghlabiyyah (kaidah umum).
              4. Perbedaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqih pun bisa dilihat dari maudhu’nya (objek). Jika Kaidah ushul maudhu’nya dalil-dalil sam’iyyah. Sedangkan kaidah fiqih maudhu’nya perbuatan mukallaf, baik itu pekerjaan atau perkataan. Seperti sholat, zakat dan lain-lain
              5. Kaidah-kaidah ushul jauh lebih sedikit dari kaidah-kaidah fiqh.
              6. Kaidah-kaidah ushul lebih kuat dari kaidah-kaidah fiqh. Seluruh ulama sepakat bahwa kaidah-kaidah ushul adalah hujjah dan mayoritas dibangun diatas dalil yang qot’I. Adapun kaidah-kaidah fiqh ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa kaidah-kaidah fiqh bukan hujjah secara mutlaq, sebagian mengatakan hujjah bagi mujtahid ‘alim dan bukank hujjah bagi selainnya, sebagian yang lain mengatakan bahwa kaidah-kaidah tersebut hujjah secara mutlak.
              7. Kaidah-kaidah ushul lebih umum dari kaidah-kaidah fiqh

              BAB VII


              FAEDAH KAIDAH-KAIDAH USHUL FIQH

              DAN KEDUDUKANNYA DIANTARA ILMU-ILMU SYARA’

              1. Faedah Kaidah-Kaidah Ushul Fiqh

              Manfaat sesuatu bisa dilihat dari buah atau nilai yang di hasilkannya, begitu juga dengan kaidah-kaidah ushul. Jika kita ingin mengetahui manfaat serta kedudukannya maka hendaklah kita melihat kepada nilai atau buah yang dihasilkan oleh kaidah-kaidah ushul fiqh itu sendiri.. Setiap manusia berbuat sesuai dengan kemaslahatannya, jika tidak ada maslahat (minimal dalam pandangannya), ia tidak akan melaksanakannya. Maslahat dibagi dua, dunia dan akhirat. Sebagai muslim tentu berkeyakinan bahwa maslahat dunia adalah sarana untuk mencapat kebahagiaan utama di akhirat nanti.

              Setelah ilmu aqidah, ilmu yang membahas tentang hukum-hukum praktis merupakan ilmu yang paling penting dan harus dikuasai. Hukum-hukum ini bisa di ketahui, baik dengan cara taqlid atau ijtihad. Beribadah atas dasar taqlid tidak sama derajatnya jika dibandingkan dengan beribadah atas dasar ijitihad. Imam Ghazali berkata:” Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang menggabungkan antara akal dan as-sam’ (Al-Qur’an dan Sunnah) dan yang menyertakan pendapat dan syara’”.

              Abu Bakar Al-Qoffal As-Syasyi berkata dalam bukunya “al-ushul”:” Ketahuilah bahwa Nash yang mencakup segala kejadian tidak ada, dan hukum-hukum memiliki ushul dan furu’ , dan furu’ tidak bisa diketahui kecuali dengan ushul, dan nilai-nilai itu tidak dapat di ketahui kecuali dengan ilmu fiqh dan ushul fiqh. Ilmu ini diambil dari syara’ dan akal yang suci secara bersamaan. Ia tidak menolak syara’ tidak pula menolak akal. Karena keutamaan ilmu ini lah, banyak orang yang mempelajarinya. Ulama yang faham ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya adalah ulama yang tinggi derajatnya, tinggi wibawanya ,memiliki banyak pengikut dan murid. Maka hendaklah memulai dengan ushul untuk mengetahui hukum-hukum furu“.

              Diantara faedah kaidah-kaidah ushul fiqh adalah:

              1. Dapat mengangkat derajat seseorang dari taqlid menjadi yaqin. Allah berfirman yang artinya:” niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (QS. Al-Mujadalah: 11)
              2. Kaidah-kaidah ushul merupakan asas dan pondasi seluruh ilmu-ilmu islam lainnya. Maka ilmu fiqh, tafsir, hadits dan ilmu kalam tidak akan sempurna tanpanya. Kaidah-kaidah ushul menjadikan pemahaman terhadap al-quran dan sunnah dan sumber-sumber islam lainnya menjadi akurat.
              3. Dengan memahami kaidah-kaidah ushul, seseorang dapat dengan mudah mengambil kesimpulan-kesimpulan hukum syari’ah al-far’iyyah dari dalil-dalilnya langsung dan terus melaksanakannya. Karena kaidah-kaidah ushul merupakan sarana yang menghantarkan seseorang pada hukum-hukum fiqh.
              4. kaidah-kaidah ushul berusaha membentuk kembali ilmu ushul fiqh dalam bentuk yang baru, lebih singkat dan akurat yang dapat membantu seorang mujtahid dalam pengambilan hukum.
              5. Seorang yang faham ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya akan dapat dengan mudah mengcounter pemikiran-pemikiran yang berusaha menyerang hukum-hukum islam yang telah mapan seperti wajibnya rajam, hudud dan lain sebagainya.
              6. Tujuan akhir adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

              2. Kedudukan Kaidah-Kaidah Ushul Fiqh

              Kedudukan dan keutamaan sebuah ilmu tidak lepas dari tema, objek, tujuan, apa yang di bahas, besar kebutuhan, kekuatan dalilnya serta maslahat yang dihasilkannya. Semakin besar faedahnya semakin tinggi pula kedudukannya. Kaidah-kaidah ushul memiliki kedudukan tinggi, yaitu berada pada urutan pertama setelah ilmu akidah.

              Penjelasannya:

              1. Dari segi faedah dan buah yang di hasilkan oleh kaidah-kaidah ushul, penyusun telah jelaskan pada penjelasan faedah-faedah ushul fiqh diatas.
              2. Dari segi objeknya, penyusun telah jelaskan bahwa objek kaidah-kaidah ushul adalah ushul fiqh itu sendiri dari segi keakuratannya. Juga membahas nilai-nilai ushul fiqh untuk di undang-undangkan. Jika ilmu ushul fiqh memiliki kedudukan tinggi dalam islam, bagaimanakah kedudukan sebuah ilmu yang bertugas menambah keakuratan ushul fiqh?
              3. Dari segi tujuannya, tujuannya adalah pengambilan hukum syara’ yang praktis dari dalil-dali syara’ dan memperjuangkannya serta memberikan keakuratan dalam berijtihad dan kondisi mujtahid.  Usaha untuk mengetahui hukum-hukum Allah adalah merupakan kewajiban terpenting dan merupakan tujuan penciptaan kita di dalam kehidupan ini. Ilmu apapun yang memiliki tujuan ini adalah ilmu yang memiliki kedudukan tinggi.
              4. Dari segi kebutuhan. Tidak ada kebahagiaan didunia maupun di akhirat tanpa syari’at Allah. Dan syariat Allah tidak akan dapat diketahui tanpa kaidah-kaidah ushul. Ma la yatimmu al-fadil illa bihi fahuwa faadhil.

              BAB VIII

              BUKU-BUKU KARANGAN ULAMA TENTANG KAIDAH-KAIDAH USHUL

              Sebenarnya banyak sekali buku-buku tentang kaidah-kaidah ushul yang dikarang para ulama sejak dahulu hingga awal abad 20 dan dari awal abad 20 hingga sekarang, tetapi pada bab ini penyusun hanya akan menyebutkan nama-nama buku yang membahas tentang kaidah-kaidah ushul yang merupakan referensi utama dalam masalah ini. Bagi yang ingin mengetahui lebih, bisa membaca buku Nadzoriyah at taq’id al Ushuly karya Dr. Aiman Abdul Hamid Al-Badaroin atau buku-buku lainnya.

              Diantara buku-buku itu adalah:

              1. Ta’sis An Nazor karya Ubaidillah bin Umar bin Isa Ad Dabusy (364-430 H)
              2. Takhrijul Al-Furu’ Ala Al-Ushul karya Mahmud bin Ahmad bin Mahmud Abu Al Manqib Al Jinzani (573-656 H)
              3. Miftah Al-Wusul ila takhrij al-furu’ ala al-Ushul karya Syarif At Tilmisany (710-771 H)
              4. At Tamhid fi at-takhrij al-furu’ ala al-ushul karya Al Isnawi (7.4-772 H)
              5. Al-Qowaid wa al-Fawaid Al-Ushuliyah wa ma yata’allaqu biha min al-Ahkam al-far’iyyah karya Ibn Al-Liham Al Hanbaly ( wafat tahun 803 H)
              6. Al-Wusul ila Qowaid al-ushul karya imam Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Al Hanafy ( wafat tahun 1007 H)
              7. At-Tahrir karya Kamal bin Al Hamam (matan)
              8. At-Tanqih karya Ibnu Mas’ud Al-Hanafi (matan)
              9. Mu’tasar al-muntaha al-ushuly karya Ibnu Al-Hajib (matan)
              10. Al-Waroqot fi Ushul Al-Fiqh karya Al-Juwaini
              11. Minhaj Al-Ushul ila ilmi al-ushul karya Al-Baidawy
              12. Raudhatunnazir wa jannatul muanzir karya Ibnu Qudamah
              13. Al-Ihkam fi Ushul al-ahkam karya Al-Amadi
              14. Al-Irsyad wa at-taqrib karya Abu Bakar Al-Baqillani
              15. Ushul Fiqh karya Syekh Al-Hadary (wafat tahun 1927 M)
              16. Ilmu Ushul fiqh karya Syekh Abdul Wahab Khalaf (1888 – 1956 M)
              17. Taqnin Ushul Fiqh karya Dr. Muhammad Zaki Abdul Bar

              BAB IX

              PENUTUP

              Kesimpulan

              1. Kaidah-kaidah ushul fiqh adalah ilmu yang mandiri. Seluruh ulama sepakat bahwa perbedaan antara ilmu dengan ilmu yang lain disebabkan oleh faktor tema atau objek serta tujuan dari ilmu itu sendiri. Ilmu Kaidah-kaidah ushul fiqh memiliki objek dan tujuan yang berbeda dengan ilmu lainnya bahkan berbeda dengan objek serta tujuan ilmu Ushul fiqh. Itu artinya ilmu kaidah-kaidah ushul fiqh adalah ilmu yang berdiri sendiri.
              2. Kaidah-kaidah ushul, apakah merupakan dalil atau tidak dapat dikategorikan pada dua kategori yaitu: Pertama: Kaidah-kaidah ushul yang berdiri sendiri yaitu yang berpatokan pada sumber-sumber islam seperti Al qur’an adalah hujjah, begitu juga dengan sunnah, ijma’ qiyas, masholih mursalah, saddu ad dzaroi’ dan Istishab. Diantara kaidah ini ada yang disepakati oleh ulama sebagai hujjah dan ada yang masih dalam perdebatan dikalangan ulama.  Kedua: Kaidah-kaidah yang tidak berdiri sendiri tetapi hanya sebuah alat. Kaidah-kaidah itu adalah  yang diambil dari bahasa arab dan lainnya. Yang kedua ini bukan merupakan dalil yang mandiri tetapi hanya berfungsi sebagai sarana.
              3. Ilmu kaidah-kaidah ushul fiqh tidak bisa dipisahkan dari ilmu ushul fiqh itu sendiri. Karena ilmu ini merupakan bagian dari ilmu ushul fiqh. Hubuangan antara keduanya adalah hubungan antara umum dan khusus.

              Saran

              Penyusun makalah ini hanya manusia yang dangkal ilmunya, yang hanya mengandalkan sedikit buku referensi. Maka dari itu penyusun menyarankan agar para pembaca yang ingin mendalami masalah Qawaidul Ushuliyah, agar setelah membaca makalah ini, membaca sumber-sumber lain yang lebih komplit, seperti buku-buku yang penyusun tulis dalam bab VIII atau buku-buku lain yang tidak kalah pentingnya dari buku-buku tersebut.

              DAFTAR PUSTAKA

              Dr. Aiman Abdul Hamid Al-Badrain, 2005, Nadzoriyyah At-Taq’id Al-Ushuly, Kairo: Dar Ibn Hajm

              Dr. Muhammad Dzuhaily, 2004, Al-Qowaid Al-Fiqhiyyah ala Al-Madzhab Al-Hanafy wa As-Safi’I, Kuwait: Majlis Al-Nasr Al-’Ilmy

              Dr. Abdul Karim Zaidan, 2006, Al-Wajiz fi Syarhi Al-Qowaid Al-Fiqhiyah fi As-Syari’ah Al-Islamiyah, Beirut-Libanon: Muassasah Ar Risalah Nasyirun

              Muhammad bin Muhammad Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Mustashfa fi ilm Al-Ushul, Beirut : Dar El-Kutub El-Ilmiyah, cetakan tahun 1413 H

              Al-Jailany Al-Marini, Al-Qowaid Al-Ushuliyah wa tatbiqotiha ‘inda Ibn Quddamah fi kitab Al-Mugni, Kairo : Dar Ibn Affan, cetakan pertama tahun 2002 M

              Syabir, Muhammad Utsman, Al-Qowaid al-Kulliyah wa ad-Dhowabit Al-Fiqhiyah, Yordania : Dar El-Furqon, cetakan pertama, tahun 2000


              * Makalah disampaikan dalam kajian fakultatif di Bagas Godang KPTS, hari kamis tanggal 15 Oktober 2009 pukul 18.00 waktu Kairo.

               

              March 21, 2009

              Kultum Mesjid Ar Rahmah Madrasah (Syukurilah Nikmat Tuhanmu!)

              Allah berfirman yang Artinya:

              “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim :7)

              Ayat di atas menjelaskan kepada kita, bahwa Allah SWT memerintahkan seluruh hambaNya untuk bersyukur kepadaNya, jika ia bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat untuknya tetapi jika ia mengingkari, maka azab pedihlah yang akan ia terima. Apa sebenarnya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita???

              Allah SWT memberikan tiga macam nikmat kepada hambanya yang beriman (kaum muslimin). Nikmat pertama adalah nikmat penciptakan, kita belum ada kemudian diciptakan oleh Allah SWT. Kedua adalah nikmat Imdad (perbekalan). Artinya Allah memberikan bekal kepada kita agar dapat bertahan hidup. Nikmat kedua ini mencakup panca indera seperti mata untuk melihat, tangan untuk meraba, telinga untuk mendengar, otak untuk berfikir, semua itu diciptakan agar manusia bisa mempergunakannya dalam kehidupan di dunia. Kemudian Allah menciptakan Langit dan bumi beserta isinya untuk manusia. Agar dapat hidup dengan bahagia sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

              “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”.

              Nikmat terakhir dan paling besar adalah nikmat Agama. Agama di turunkan oleh Allah untuk mengatur hidup manusia. Didalam agama ada aturan-aturan, ada perintah dan ada pula larangan. Jika manusia berpegang pada peraturan-peraturan agama maka hidup mereka akan aman, damai dan bahagia, tetapi kebanyakan dari manusia tidak mengetahuinya.

              Secara jujur, jika seorang manusia mau sejenak untuk merenung, memikirkan nikmat yang telah Allah berikan padanya, maka ia akan sadar bahwa ibadah yang ia lakukan seumur hidup tidak akan dapat membayar nikmat Allah yang paling kecil. Renungkanlah! Apakah masa sakit yang kita rasakan lebih banyak dari masa sehat? Apakah rasa lapar lebih lama dari pada rasa kenyang? Apakah sedih lebih banyak dari senang? Ternyata, sehat, kenyang, senang jauh lebih banyak daripada sakit, lapar dan sedih. Oleh karena itulah Allah sekali-kali memberikan cobaan kepada manusia berupa rasa sakit, lapar, sedih dan sebagainya agar ia ingat bahwa ia adalah manusia lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa, dan Agar ia bersyukur. Maka sungguh sangat tepat sekali jika Allah memberikan azab yang pedih bagi mereka yang lupa diri dan ingkar nikmat sebagaimana firman Allah yang artinya :

              “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim :7) Wallohua’lam

              February 27, 2009

              Saatnya Indonesia bayar hutang dukungan ke Palestina

              File sejarah ini saya dapat dari blog sebelah.  Dan saya pikir, sejarah ini adalah salah satu dari sejarah yang mayoritas kita tidak tahu dan tentunya sangat penting untuk kita ketahui bersama.

              *****

              Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?

              Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari.

              Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.

              Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

              Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

              M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

              Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:

              “.., pada 6 September 1944 [sic!], Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut- turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.

              Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..” (Padahal Palestina ketika itu juga berada di masa-masa sulit, karena masa-masa perang melawan Penjajah Inggris dan Yahudi)

              Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.

              Dukungan Mengalir Setelah Itu

              Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

              Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur- Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.

              Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.

              Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih – tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

              Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:

              “Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”

              Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

              Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita..(Ada bukti foto bung Hatta, Hj Agus Salim, Mufti Palestina, dan pemimpin Mesir supaya kita kenal wajah wajah dari tokoh pembela Indonesia ini)

              Statement Tokoh dalam buku ini:

              Dr. Moh. Hatta

              “Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.”

              A.H. Nasution

              “Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ‘45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

              “Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur.” (HR Bukhari)

              *****

              aminhusaini_panitiapusatkemerdekaan-ind

              Mufti Besar Palestina M. Amin Husaini dengan Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia (Panitia yang menjadi cikal bakal Kedutaan Indonesia di Mesir)

              resepsipengakuankemerdekaan

              Resepsi pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Mesir, 9 Juni 1947, a.l. dihadiri oleh H. Agus Salim, Raja Saudi, dan Mufti Palestina.

              Allahu Akbar…!!!

              February 13, 2009

              Keistimewaan Palestina dalam persepsi islam

              Tanah Palestina memiliki status yang cukup istimewa dalam persepsi Islam, status yang membuatnya menjadi pusat perhatian kaum muslimin dan menjadi tambatan hati mereka. Berikut kami isyaratkan beberapa point yang menjadikan Palestina memiliki status istimewa dalam Islam.

              1. Di Palestina ada Masjid al Aqsha al Mubarak.

              Masjid al Aqsha merupakan qiblat pertama kaum muslimin dalam shalat mereka. Selain itu, al Aqsha dianggap sebagai masjid ketiga baik status maupun kedudukanya setelah masjidil Haram dan masjid Nabawi. Disunnahkan untuk pergi dan mengunjunginya, shalat di dalamnya dilipatgandakan sampai 500 kali shalat di masjid lain. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh memaksakan perjalanan kecuali pergi ke tiga masjid: al Masjidil Haram, masjid saya ini (masjid Nabawi – petj.) dan al Masjidil Aqsha.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat di Masjidil Haram sebanding dengan 100 ribu kali shalat, dan shalat di masjid saya sebanding dengan 1000 kali shalat, dan shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha) sebanding dengan 500 kali shalat.” Diriwayatkan dari al Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pertama kali tiba di Madinah adalah mengunjungi kerabatnya (keluarga ibunya, pent) dari Anshar, bahwasanya beliau shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis.”

              Imam Thabari dalam kita tarikhnya meriwayatkan dari Qatadah berkata, “Mereka (kaum muslimin Madinah) shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis, sedang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam waktu itu berada di Mekah belum hijrah. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah beliau shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 16 bulan, kemudia setelah itu kiblat berubah ke arah Ka’bah Baitul Haram.”

              Diriwayatkan dari Abu Dzar al Ghifari radhiyallahu ‘anhu berkata, saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masjid yang pertama kali dibangun di atas bumi, beliau bersabda, “al Masjidul Haram.” Saya bertanya, kemudian apa lagi?, beliau menjawab, “al Masjidul Aqsha.” Dan dari Maimunah (hamba sahaya yang dimerdekakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) radhiyallahu ‘anhu berkata, wahai Rasulullah berikan fatwa kepada kami mengenai Baitul Maqdis. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Datangilah ia dan shalatlah kalian didalamnya. Sekiranya kalian tidak bisa datang dan shalat di sana maka kirimlah minyak untuk pelita-pelitanya.”

              Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa memulai haji atau umrah dari Masjidil Aqsha sampai ke Masjidil Haram, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang,” atau dalam riwayat lain, “Dia berhak mendapatkan surga.” Kemudian beliau bersabda, “Allah merahmati orang yang berihram dari Baitul Maqdis (yakni ke Mekah).” Juga diriwayatkan oleh al Baihaqi dan Ibnu Hibban di dalam kitab shahihnya yang lafadznya, saya mendegar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa memulai umrah dari Masjidil Aqsha, diapuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.” Dikatakan, kemudian Ummu Hakim berangkat ke Baitul Maqdis dan memulai umrah dari sana.

              2. Palestina adalah tanah yang diberkati Allah subhanahu wa ta’ala.

              Hal ini sesuai dengan apa yang ditegaskan dalam al Quran al Karim,

              سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَآ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

              Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

              Allah berfirman,

              وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى اْلأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

              “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.”

              Ibnu Katsir berkata, maksudnya adalah negeri Syam.

              Allah berfirman,

              وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى اْلأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَكُنَّا بِكُلِّ شَىْءٍ عَالِمِينَ

              Artinya: “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.”
              Ibnu Katsir Berkata: maksudnya adalah negeri Syam.

              Allah berfirman,

              وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِىَ وَأَيَّامًا ءَامِنِينَ

              Artinya: “Dan kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan.Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.”

              Ibnu Abbas berkata, maksud dari al qura allati barakna fiha (antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya ) adalah Baitul Maqdis. Berkah di sini bisa berarti secara fisik dan maknawi; berupa buah-buahan yang dihasilkan maupun kekayaan alamnya, atau kekhususan status dan kedudukannya juga karena Palestina merupakan tempat diutusnya para nabi dan tempat turunnya para malaikat.

              3. Palestina adalah tanah suci.

              Ini berdasarkan nash al Quran, di mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman lewat lisan Nabi Musa ‘alaihis salam,

              يَاقَوْمِ ادْخُلُوا اْلأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَلاَ تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنقَلِبُوا خَاسِرِينَ

              Artinya: “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.”

              Az Zajjaj berkata, yang dimaksud dengan ardhul muqaddasah adalah tanah suci (at thahirah). Konon dinamakan muqaddasah karena bersih dari kesyirikan dan dijadikan tempa tinggal bagi para nabi dan orang-orang beriman. Al Kalabi berkata, yang dimaksud ardhul muqaddasah adalah Damaskus, Palestina dan sebagian Yordania. Qatadah berkata, yang dimaksud adalah seluruh negeri Syam.
              4. Palestina adalah tanah para nabi dan tempat diutusnya mereka.

              Di antara para nabi dan rasul yang pernah hidup di Palestina, seperti disebutkan dalam al Quran al Karim, adalah Ibrahim dan Ismail, Ishak, Ya’qub, Yusuf dan Luth, Dawud, Sulaiman, Shaleh, Yakariya, Yahya dan Isa ‘alaihimus salam. Dan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mengunjunginya. Juga telah tinggal di Palestina nabi-nabi Bani Israel; kaum yang memang banyak dihiasi oleh nabi-nabi, setiap kali nabi wafat Allah utus nabi baru. Dan di antara nabi mereka yang tersebut di dalam hadits shahih adalah Nabi Yusha’ ‘alaihis salam. Oleh karena itu, mana kala kaum muslimun membaca al Quran al Karim mereka merasakan adanya ikatan yang agung antara diri mereka dengan tanah suci Palestina ini, karena pertarungan antara yang hak dan yang bathil terpusat di tanah ini. Karena mereka juga meyakini bahwa mereka adalah pengusung warisan para nabi dan yang mengangkat panji-panji mereka.

              Di Palestina banyak pemakaman, peninggalan, dan penziarahan para anbiya’. Semua itu mengabadikan kenangan tinggal dan kunjungan mereka di tempat-tempat ini. Ibrahim yang merupakan bapak para nabi, namanya diabadikan untuk sebutan sebuah kota terpenting di Palestina, yaitu al Khalil (Hebron). Petilasannya ada di kota ini di dalam al Haram al Ibrahimi. Untuk nabi Shaleh, ada tujuh tempat yang mengabadikan kenangan bahwa dia pernah tinggal di Palestina, salah satunya ada di Ramelah, di sini ada musim ziarah tahunan yang amat terkenal yaitu pada bulan April setiap tahun. Ada sebuah desa di pinggiran kota Tulkarm bernama Ertah, secara estafet dari generasi ke generasi orang menyebut bahwa nabi Ya’kub pernah beristirahat (Irtaha) di sana.

              Di Palestina ada lebih dari satu maqam (petilasan) Nabi Syu’aib. Ada tempat yang sangat terkenal petilasan Nabi Musa ‘alaihis salam dekat Jericho (Ariha). Di al Quds ada makam Nabi Dawud ‘alaihis salam. Sementara Nabi Isa ‘alaihis salam memiliki lebih dari satu tempat yang mengabdikan kenangannya di al Quds, Bethelehem, Nashira dan yang lainnya.

              5. Palestina adalah tempat isra’nya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

              Allah subhanahu wa ta’ala telah memilih Palestina sebagai tempat isra’nya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Dari sini pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermi’raj ke langit. Dengan peristiwa ini Allah memuliakan dan mengagungkan Masjidil Aqsha dan tanah Palestina, dengan menjadikan Baitul Maqdis sebagai pintu menuju langit. Di Masjidil Aqsha Allah kumpulkan para nabi bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat berjama’ah yang diimami oleh beliau. Semua itu adalah bukti-bukti kelangsungan risalah tauhid yang dibawa oleh para nabi, juga berpindahnya imamah, kepemimpinan dan tanggungjawab risalah (misi) kepada umat Islam.

              Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya diberi Buraq kemudian saya tunggangi hingga sampai di Baitul Maqdis terus saya ikat dengan rantai yang biasa digunakan para nabi untuk mengikat. Kemudia saya masuk masjid dan shalat dua rakaat. Selanjutnya saya dibawa mi’raj menuju langit.”

              Kaum muslimin berkeyakinan bahwa ziarah rasulullah ke Baitul Maqdis yang saat itu dibawah penjajahan Romawi ketika isra’ dan mi’raj memiliki arti tersendiri. Ini merupakan isyarat dari Allah SWT terhadap nabinya untuk bangkit dan membebaskan Palestina dari penjajahan Romawi serta menegakkan syariat islam di sana. Oleh karena itulah, Rasulullah kemudian mengirim pasukan ke Mut’ah (yang terkenal dengan Gazwah Mut’ah) bahkan Rasulullah memimpin langsung tentara islam pada perang Tabuk. Kemudia beliau juga mepersiapkan tentara dibawah pimpinan Usamah bin Dzaid bin Tsabit sebelum ia dipangil oleh Allah SWT. Setelah Rasulullah meninggal dunia, khalifah Abu Bakar langsung mengirimkan tentara yang telah dipersiapkan oleh Rasulullah, bahkan Khalifah mengirimkan empat pasukan besar untuk membebaskan Baitul Maqdis hingga berhasil di bebaskan setelah 700 tahun dibawah penjajahan Romawi.

              6. Para Malaikat mengepakkan sayapnya di atas tanah Palestina.
              Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Duhai, beruntungnya negeri Syam. Duhai, beruntungnya negeri Syam.” Kemudian para shahabat bertanya, kenapa bisa begitu wahai Rasulullah? Beliau bersabda, “Mereka para malaikat Allah mengepakkan sayapnya di atas negeri Syam.” Dan Palestina adalah bagian dari negeri Syam.

              7. Palestina adalah tanah Mahsyar dan Mansyar (tempat dikumpulkan dan disebarkan) manusia.

              Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad dari Maimunah binti Sa’d radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Wahai Nabi Allah, fatwakan kepada kami mengenai Baitul Maqdis. Beliau bersabada, “Tanah Mahsyar dan Mansyar.”

              8. Palestina adalah rumah negeri Islam saat terjadi cobaan dan fitnah begitu dahsyat.

              Dari Salamah bin Nufail berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rumah negeri Islam adalah di Syam.” Dan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Saya melihat tiang-tiang al Kitab (al Quran) tercerabut dari bawah bantalku. Maka saya lihat ketika tiba-tiba ada cahaya yang berkilauan menyangga menuju Syam, ketahuilah iman itu ada di Syam ketika terjadi fitnah.”

              9. Orang yang tinggal di Palestina dinilai layaknya mujahid dan murabith (penjaga keamanan dari serangan musuh) di jalan Allah.

              Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Penduduk Syam beserta istri-istri, keluarga, hamba sahaya mereka baik yang laki-laki mapun perempuan, sampai ujung pulau adalah para murabith di jalan Allah. Maka barang siapa menduduki salah satu kota dari kota-kotanya maka dia sedang murabith, dan barang siapa menduduki satu benteng kota maka dia dalam jihad.”

              10. Banyak hadits yang saling menjelaskan dan menguatkan bahwa thaifah manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan) yang konsisten dalam kebenaran (al haq) ada di Syam, khususnya di Baitul Maqdis dan sekitarnya.

              Diriwayatkan dari Abu Umamah, secara marfu’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Akan tetap ada sekelompok umatku berada dalam kebenaran, tak terkalahkan oleh musuh-musuhnya sampai datangnya putusan Allah sedang mereka tetap demikian.” Kemudian ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, dimanakah mereka?” Beliau bersabda, “Baitul Maqdis dan daerah sekitarnya.”   wallohua’lam

              February 1, 2009

              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam 1871-1935

              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam lahir di sebuah daerah bernama Jableh di Syiria pada tahun 1871 M/1288 H dari keluarga arab muslim. Kemudian mengecam pendidikan di Al-Azhar Kairo sejak berumur 14 tahun dan di tetapkan sebagai staf pengajar di Mesjid Jami’ Jableh di Syiria.

              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam merupakan salah seorang ulama islam yang berkeyakinan bahwa hanya jihad dan peranglah satu-satunya jalan untuk melawan musuh yang telah menjajah tanah air dan mengotori tempat-tempat suci. Dan tidak ada kemulian pada seorang muslim yang tunduk pada musuh atau berteman dengan mereka atau mencintai mereka, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:


              “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

              http://fc01.deviantart.com/fs30/f/2008/139/b/1/AlQassam_Wallpaper_by_artstuck.png Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam pindah ke Palestina setelah pemberontakan yang di pimpin oleh Muhammad Al Baithar di Syiria berhasil di padamkan oleh Penjajah Prancis. Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam tinggal di sebuah desa dekat dengan Haifa bersama Shaikh Muhammad Al Hanafy dan Ali Al Hajj Ubaid. Dilahan jihad yang baru ini Shaikh Al Qassam menjadi staf pengajar di salah satu madrasah Haifa. Beliau juga bergabung dengan Jam’yyah As Syubban al Muslimin dan terpilih menjadi ketua umum pada tahun 1928. semua ini beliau lakukan untuk menutupi gerakan jihad yang ia rintis dari pengetahuan penjajah Inggris dan agar dapat berhubungan langsung dengan seluruh lapisan masyarakat.

              Gerakan jihad yang dipelopori oleh Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam dimulai dengan mendidik pemuda-pemuda islam dengan pendidikan islami, menanamkan akidah islam pada jiwa mereka, menyelesaiakan perselisihan-perselisihan yang ada dan menjelaskan kepada umat islam bahaya hijrah Yahudi ke Palestian dan bahaya diakibatkan oleh penjualan tanah kepada yahudi serta menjelaskan kejahatan-kejahatan yang di lakukan oleh penjajah Inggris di Palestina. Semua itu beliau lakukan disaat-saat mengajar di madrasah, disaat khutbah di mesjid dan pelajaran-pelajaran lain yang beliau adakan di mesjid-mesjid. Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam juga mengadakan sekolah malam untuk mengajar orang-orang yang buta huruf serta berkumpul bersama sahabat-sahabatnya untuk membicarakan ide-ide jihad fi sabilillah.

              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam juga mengkritik ulama-ulama islam di masa itu yang mengabaikan atau tidak bersungguh-sungguh dalam menyerukan jihad fisabilillah melawan penjajah. Menurut beliau para ulama islam termasuk orang yang sangat bertanggungjawab atas penjajahan Inggris di palestina karena mereka tidak menyerukan kepada jihad untuk melawan penjajah Inggris dan Yahudi Internasional, padahal mereka jelas-jelas berusaha menghancurkan islam, memisahkan antara agama dan politik dan berusaha untuk menjadikan agama laksana tengkorak yang tidak bernyawa.

              http://fc01.deviantart.com/fs30/f/2008/139/b/1/AlQassam_Wallpaper_by_artstuck.png

              Semakin lama, gerakan Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam ini mulai tercium oleh penjajah Inggris. Inggris kemudian mengirim mata-mata untuk mengawasi gerakan Shaikh Al Qossam, hingga pimpinan militer Inggris di Haifa mengirim surat kepada Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam yang isinya :

              “Shaikh…! Kenapa Anda bergerak untuk melawan kami?”
              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam kemudian mengeluarkan mushaf dari saku jubahnya dan berkata :”kitab inilah yang menyuruh kami untuk berjihad dan kami sekali-kali tidak akan melanggarnya”.

              Dakwah Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam akhirnya membuahkan hasil. Banyak diantara pemuda-pemuda palestina yang ikut bergabung. Perang pun berkobar sejak awal tahun 1935 H. Janin, Nablus dan Tulkarem Palestina menjadi saksi bisu atas penculikan-penculikan tentara-tertara Inggris oleh para pejuang, peledakan kereta api, penyerangan terhadap tentara Inggris serta pembunuhan terhadap penghianat-penghianat yang bekeja untuk kepentingan penjajah. Semua ini dilakuan di kegelapan malam dengan sangat rapi dan terorganisir yang menyebabkan kerugian besar di pihak penjajah.

              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam adalah salah seorang ulama yang sangat dihormati, jujur serta berakidah yang lurus. Beliau bukan tipe orang orang berdakwah kepada jihad tetapi tidak ikut berjihad atau tipe orang yang membiarkan santri-santrinya berperang tetapi ia tidak ikut berperang sebagai mana yang dilakukan oleh kebanyakan orang saat ini. Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam sendiri terjun langsung ke medan pertempuran bersama pejuang-pejuang lainnya untuk melawan penjajah Inggris dan Yahudi Internasional.

              Penjajah inggris akhirnya berhasil mengepung Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam bersama sahabat-sahabat serta santri-santrinya yang mengakibatkan terjadinya pertempuran dahsyat antar tentara yang memperjuangkan kebenaran dan tentara yang memperjuangkan kebathilan di Janin Palestian. Perang berakhir pada tanggal 25 november 1935 M1354 H. Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam dan sebagain sahabat-sahabatnya gugur sebagai syahid dan sisanya di tahan oleh tentara penjajah inggris serta disiksa didalam tahanan dalam waktu yang lama.

              Dari kisah perjuangan Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam kita bisa mengambil pelajaran bahwa perjuangan dengan mengangkat senjata adalah satu-satunya jalan menuju Bait al Maqdis, hanya jihad (perang) lah yang dapat menggoncang musuh bersama para penghianat-penghianat lainnya. Adolf Hitler mengirim surat kepada rakyat jerman pada tahun 1936 M yang isinya :

              “Wahai rakyat jerman! Jadikanlah arab Palestina sebagai contoh bagi kalian. Mereka berjuang melawan Inggris dan yahudi internasional dengan semangat yang membara padahal tidak seorangpun yang ikut menolong mereka. Adapun kalian, sungguh dunia ada dibekanmu”.

              Juga Wilson (salah seorang komandan militer inggris di beberapa medan pertempuran melawan rakyat Palestina) berkata:”sungguh 500 orang arab Palestina yang mengobarkan perang gerilya, tidak akan bisa dikalahkan hanya dengan satu divisi (satuan militer yang terdiri dari 3 sampai 5 brigade yang jumlah anggotanya 10.000 sampai 15.000 orang) yang bersenjata lengkap”.

              Jika semua pemimpin-pemimpin Islam membaca sejarah dan mengambil pelajaran dari sejarah tentu Israel tidak akan berani mengambil satu jengkal pun tanah Palestina apalagi sampai membunuh lebih dari 1330 syuhada dan mencederai lebih dari 6000 orang palestina. Kita berdoa semoga Allah membangkitkan pejuang-pejuang yang mencintai Allah dan Rasulnya serta dicintai oleh Allah dan rasulnya yang akan membebaskan Palestina dari cengkeraman musuh.

              Referensi

              القرآن الكريم

              ثورة عز الدين القسام وأثرها في الكفاح الفلسطيني, عوفي العبيدي, مكتبة المنار, الأردن

              الإسلام بين العلماء والحكام, عبد العزيز البدوي

              جهاد شعب فلسطين خلال نصف القرن, صالح مسعود أبو بصير, دار الفتح للطباعة والنصر, بيروت

              الطريق إلي بيت المقدس, جمال عبد الهادي محمد مسعود ووفاء محمد رفعت جمعمة, دار التوزيع والنشر الإسلامية, القاهرة

              www.ar.wikipedia.org

              January 31, 2009

              Duhai Pemuda Islam Bangkitlah! (2)

              Musibah yang paling berbahaya wahai saudara-saudaraku sekalian, bahwa kita melawan mereka tanpa strategi dan tanpa hidayah. Rakyat Vietnam telah berperang melawan Amerika ketika Amerika menjajah tanah air mereka. Rakyat Vietnam yang tidak percaya kepada tuhan melawan Amerika dengan tombak, panah, kampak dan apa saja yang mereka miliki hingga mereka berhasil mengusir penjajah Amerika. Tetapi rakyat Vietnam tetap dalam kekafiran, kebodohan dan kesesetan. Maka siapa saja yang mati dari mereka sebelum Amerika menjadi penduduk neraka, yang mati di antara mereka ditangan penjajahan Amerika menjadi penduduk neraka dan yang mati diantara mereka setelah penjajahan Amerika juga menjadi penduduk neraka.

              Maka yang menjadi permasalahan bukanlah permasalahan perang saja, tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah kamu berperang untuk apa? Apa yang menjadi pendorongmu? Apakah yang mendorong kamu untuk berperang emosi, fanatisme, balas dendam ataukah dasar-dasar agama atau kaidah-kaidah islam atau masyru’ robbany qur’any?

              Perang adalah permasalah yang paling ringan dari seluruh permasalahan saat ini. Karena orang-orang kafir adalah pengecut dan penakut. Mereka tidak akan kuat berhadapan dengan umat islam di medan pertempuaran, Kalaulah bukan karena peralatan dan amunisi yang mereka miliki, persenjataan-persenjataan yang ada pada mereka dan roket2x yang mereka tembakkan dari jauh, bom tandan dan persenjataan-persenjataan modern lainnya, demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia anak kecil dari anak-anak kita dapat mengalahkan battalion-batallion mereka. Karena mereka adalah pengecut dan takut berhadapan langsung dengan kaum mujahidin.

              Perang adalah permasalah yang paling ringan dari seluruh permasalahan saat ini, kalaulah bukan karena tembok tinggi yang mereka berlindung di belakangnya, dan tank-tank yang mereka duduk diatasnya, dan pesawat-pesawat yang tidak bisa dijangkau oleh senjata-senjata kita, dan kalaulah bukan karena meriam-meriam yang menyerang kita dari laut, dan roket-roket yang ditembakkan kepada kita dari jarang ratusan kilometer, mereka tidak akan sanggup melawan kita selamanya.

              Perang adalah permasalah yang paling ringan dari seluruh permasalahan yang ada. Mereka tidak menyerang kita satu lawan satu tetapi mereka menyerang orang banyak dengan senjata-senjata modern dari jarak jauh. Kalau bukan karena itu, silahkan datang seluruh tentara Amerika, eropa dan silahkan ikut bersama mereka semua tentara kafir , demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, tentara-tentara Badar (313 orang) cukup untuk melawan tentara besar tersebut. Sesungguhnya satu kali takbir takbir dari kaum mislim yaitu dengan mengucapkan Allohu Akbar dapat melumpuhkan satu battalion musuh. Rasulullah bersabda “Nusirtu bi arro’bi masirota syahr” (Saya di tolong oleh Allah dengan rasa takut (di hati musuh) satu bulan sebelum berhadapan).

              Saudara-saudara sekalian! perang adalah permasalah yang paling ringan dari seluruh permasalahan yang ada. Sekarang saya ingin duduk bersama kamu beberepa menit dalam keterus-terangan, saling terbuka, hingga apabila kita berdiri, kita berdiri dengan hidayah dan jika kita bergerak, kita bergerak sesuai dengan hidayah, dan jika kita berperang kita berperang atas petunjuk agama, dan jika kita meninggal, kita meninggal sesuai hidayah islam. Hingga apabila kita tidak syahid, kemudian pulang ke kampung halaman, kita pulang dan terus berada di jalan yang benar. Kita tidak kembali pada zaman jahiliyyah.

              Yang saya inginkan dari kamu wahai saudara-saudaraku, mulailah introspeksi-lah dirimu. Kamu seorang pemuda islam, didalam dirimu terkandung banyak kebaikan, dan tidak ada yang menggerakkan kamu kecuali karena marah untuk membela agamamu, tanah airmu, harkat dan martabatmu dan saudara-saudaramu. Jadi yang menggerakkan kamu adalah islam.

              Kita tegaskan kalau orang-orang jepang (bom atom di Hirosima dan Nagasaki) mati maka tidak ada hubungannya dengan kita. Apakah kalian mau mengadakan revolusi (pemberontakan) untuk itu? Tentu tidak… Negara jepang adalah Negara kafir yang berperang melawan Negara kafir (Amerika), seperti perang antara Korea Selatan dan Korea Utara contohnya, atau jika terjadi perang antara Amerika dan Korea Selatan contohnya. Sebagai kaum musimin kita katakan:” ini tidak ada manfaatnya untuk kami”. Meskipun kita membenci kedzoliman dan ketidakadilan yang terjadi pada siapapun juga. Tetapi kita tidak akan menumpahkan darah kita untuk mereka, saya tidak akan mengorbankan darah dan nyawa saya untuk orang kafir, saya tidak akan mengorbankan darah dan nyawa saya untuk seorang musyrik. Barang siapa yang berperang atas dasar kabilah dan meninggal dunia maka ia meninggal dalam keadaan jahiiyyah. Bendera kabilah ialah bendera yang tidak bertujuan untuk meninggikan bendara islam dan tidak mengumandangkan islam dan tidak menyeru kepada islam dan tidak berperang untuk islam. (bersambung).

              November 22, 2008

              Hanya Islam yang memerdekakan Negeri ini

              baca : Mengapa Inggris Membom Surabaya??

              Oleh : Wildan Hasan *
              “Kalaulah suatu penduduk Negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah, niscaya kami akan membuka kan berkah buat mereka dari langit dan dari bumi…” (Al-A’raf : 96)

              Setiap tanggal 10 November rakyat Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan Nasional. 10 November sebuah tanggal yang monumental buah perjuangan arek-arek Suroboyo di bawah pimpinan pejuang besar kemerdekaan, Bung Tomo. Namun naas, karena sejarah milik penguasa. Nasib Bung Tomo tiada ubahnya bak pesakitan dan pengkhianat bangsa. Ia di penjara oleh rezim yang berkuasa. Namun pula akhir sejarah Allah yang menentukan, Bung Karno kena tulah dari ucapannya yang terkenal “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya”.

              Ia terjungkal dari kekuasaan dengan cara yang mengenaskan dan jadi pesakitan yang sebenarnya. Hal yang sama terjadi kepada penggantinya, Soeharto.

              Bung Tomo Jum’at 7 November lalu akhirnya ditetapkan oleh pemerintah sebagai pahlawan Nasional bersama Dr. Mohammad Natsir dan KH. Abdul Halim. Ketiga Mujahid pejuang kemerdekaan ini-seandainya masih hidup-mungkin akan bergumam “ah, malu aku. Hanya seperti inikah kemampuan pelanjutku dalam menghargai perjuangan yang berdarah-darah itu?” Bukan berarti mereka mengharapkan penghargaan. Terlintas di pikiran pun tentunya tidak.

              Dr. Mohammad Natsir seorang Ulama besar yang diakui dunia, da’i, pendidik dan politisi ulung yang mempersatukan negara-negara boneka buatan kolonial Belanda dengan mosinya yang terkenal, Mosi Integral Natsir menjadi Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI). Mosi yang disebut-sebut sebagai proklamasi kemerdekaan Indonesia yang kedua setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Akhirnya dipercaya menjadi Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan di tiga kabinet yang berbeda masa Soekarno. Dimana menurut pengakuan Bung Hatta, Bung Karno tidak pernah mau menandatangani surat-surat pemerintah jika tidak disusun oleh Natsir.

              KH. Abdul Halim Ulama kharismatik asal Majalengka Jawa Barat – penulis sendiri lahir dan besar di kota yang sama merasakan kharisma beliau yang begitu kuat pada masyarakat setempat – melahirkan banyak para pejuang kemerdekaan dengan metode pendidikannya yang khas.


              Inggris tidak bisa membendung kegigihan Arek Arek Soeroboyo, akhirnya mengeluarkan pengumuman “Genjatan Saja. baca : Lihat Galeri “Battle of Surabaya”

              Mari kita kembali ke awal. Lalu apa pentingnya gelar pahlawan Nasional tersebut? Buat mereka bertiga tentu sangat tidak penting.Karena mereka adalah pahlawan dalam arti yang sebenarnya yakni yang berjuang ikhlas hanya berharap pahala dari Allah swt (pahala-wan). Karena faktor keikhlasan itulah setelah kemerdekaan diraih para kyai, ulama dan santri itu kembali melanjutkan amal mereka di sawah, lading, pesantren dan lain-lain. Sementara pemerintahan akhirnya diisi oleh mereka yang tidak ikut berjuang atau ikut berjuang tapi tidak cinta Islam

              Para pejuang kemerdekaan berjuang atas motivasi mempertahankan aqidah dan memperjuangkan agama Allah di bumi ini. Maka ketika adanya penjajahan yang otomatis akan merusak aqidah, umat Islam bangkit melawan. Jelas benar bahwa pejuang kemerdekaan seluruhnya adalah kaum muslimin tidak yang lain. Hanya umat Islamlah yang memerdekakan Negeri ini dari penjajahan. Karena buat kaum muslimin saat itu perjuangan kemerdekaan adalah jihad fi sabilillah. Mereka sangat menyadari bahwa akan tetapi hidup di sisi Allah sekalipun syahid di medan perang. Allah swt berfirman, “Laa tahsabanna ladziina qutiluu fii sabiilillahi amwaatan bal ahyaaun ‘inda Robbihim yurzaquun…” (Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Rab mereka dengan diberi rezeki…)

              Maka tidak lain dan tidak bukan, Islamlah yang memerdekakan Negeri ini. Seluruh pejuang kemerdekaan beragama Islam. Menurut penelitian Guru Besar Sejarah UNPAD Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara; tokoh pejuang kemerdekaan asal wilayah timur Nusantara Thomas Mattulesy ternyata bernama Muhammad atau Ahmad Lesy seorang muslim. Kenapa demikian, karena wilayah timur Indonesia dari dulu sampai saat ini komposisi muslim dan non-muslim seimbang bahkan pada awalnya hanya ada Islam. Tidak benar jika dikatakan bahwa wilayah timur mayoritas non muslim. Bahkan Islamlah yang pertama kali menapakkan kaki di wilayah tersebut. Kata ‘Maluku’ sendiri diambil dari bahasa muluk (Raja-Raja), wilayah maluku saat ini dan Papua awalnya dikuasai dan diperintah oleh para Raja Islam (Sultan) sebelum akhirnya datang misionaris-misionaris Kristen yang mempertahankan adat dan tradisi jahiliyyah di wilayah tersebut. Sehingga upacara-upacara kemusyrikan dan pakaian yang tidak syar’i dipertahankan dengan dalih pelestarian budaya.


              Kegiatan Dakwah “Majelis Muslim Papua”


              Prosesi massal “Syahadat” para Mualaf

              Tragisnya ternyata hal itu dilanjutkan secara legal oleh pemerintah kita hingga detik ini. Padahal, menurut para Da’i Dewan Da’wah yang bertugas di sana termasuk Ustadz Fadhlan Garamatan seorang Da’i putra asli daerah, warga Papua-contohnya-sebenarnya malu dan tidak ingin lagi memakai koteka. Namun demi pelestarian budaya daerah, pemerintah tetap mantap dalam pembodohan struktural terhadap rakyatnya tersebut. Ustadz Fadhlan menggambarkan betapa warga pedalaman Papua begitu senang bisa mandi menggunakan sabun sebelum mereka di syahadat-kan. Sebelumnya mereka mandi dengan melumuri badannya dengan minyak babi atas petunjuk para misionaris Kristen.

              Raja Sisinga Mangaraja juga adalah muslim yang taat. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, tidak benar kalau raja Sisinga Mangaraja adalah penganut agama leluhur tapi dia adalah seorang muslim yang taat. Termasuk para pejuang Nasional yang kita kenal, mereka semuanya muslim. Pangeran Diponegoro adalah Ustadznya Istana dan para penasihatnya adalah para Kyai. Imam Bonjol, Cut Nyak Dien dan lain-lain semuanya adalah para ulama dan santri.

              Konsekuensinya umat-umat yang lain khususnya umat Kristiani tidak punya andil sama sekali dalam perjuangan kemerdekaan. Umat Kristiani tidak mungkin akan bangkit berjuang melawan penjajah. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi sementara agama yang dianutnya dengan agama para penjajahnya sama? Akankah mereka akan membunuh saudara seimannya? Lebih-lebih kita tahu Kristen disebarkan melalui penjajahan. Bagi yang mengerti sejarah hal ini adalah fakta yang teramat jelas. Jadi sungguh mengherankan ketika mereka menuntut lebih bahkan sedikitpun sebenarnya mereka tidak berhak, ketika faktanya mereka tidak punya saham apapun dalam perjuangan kemerdekaan.

              Katakan dulu di BPUPKI dalam persiapan kemerdekaan Indonesia tercantum nama Maramis dan Latuharhary dua orang perwakilan umat Kristiani, sungguh faktanya masih buram. Jika benar mereka ada (bukan fiktif), apakah mereka tidak malu mengaku-ngaku tapi tidak memiliki kemerdekaan, atau menurut beberapa sumber mereka sengaja mendompleng atau didomplengkan oleh Soekarno agar terlihat bahwa umat Kristiani juga punya peran dalam kemerdekaan Republik ini. Fakta selanjutnya, mereka termasuk yang menolak Piagam Jakarta.

              Begitu besarnya peran umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan, dalam bukunya ‘Menemukan Sejarah’ Ahmad Mansur Suryanegara menuliskan beberapa data di antaranya :

              1. Pengakuan George Mc Turner Kahin seorang Indonesianis (Nationalism and revolution Indonesia) bahwa ada 3 faktor terpenting yang mempengaruhi terwujudnya integritas Nasional; 1) Agama Islam dianut mayoritas rakyat Indonesia, 2) Agama Islam tidak hanya mengajari berjama’ah, tapi juga menanamkan gerakan anti penjajah, 3) Islam menjadikan bahasa Melayu sebagai senjata pembangkit kejiwaan yang sangat ampuh dalam melahirkan aspirasi perjuangan Nasionalnya.
              2. Bahwa pelopor gerakan Nasional bukan Budi Utomo tetapi Syarekat Islam (SI) yang memasyarakatkan istilah Nasional dan bahasa Melayu ke seluruh Nusantara, anggotanya beragam dan terbuka. Sementara Budi Utomo; menolak persatuan Indonesia, memakai bahasa Jawa dan Belanda dalam pergaulannya, bersikap eklusif di luar pergerakan Nasional dan keanggotaannya hanya untuk kalangan Priyayi (Bangsawan/ningrat) saja.
              3. Pelopor pembaharuan sistem pendidikan Nasional adalah Muhammadiyah (1912) 10 tahun lebih awal dari taman Siswa (1922). Muhammadiyah sudah memakai bahasa Melayu sementara Taman Siswa berbahasa Jawa dan Belanda.
              4. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dipelopori oleh para pemuda Islam atas prakarsa para ulama dalam rapat Nasional PSII di Kediri pada 27-30 September 1928. Dan masih banyak lagi-lagi fakta-fakta lain yang belum terungkap…

              Pada hakikatnya dan seharusnya Negeri ini adalah Negeri Islam. Karena salah satu sumber hukum positif di Negeri ini adalah Syariat Islam. Dicantumkannya Piagam Jakarta dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai menjiwai UUD 1945 oleh Soekarno menjadi dasar sahih keharusan Negeri ini diatur oleh syari’at Islam selain faktor histories yang sudak dikemukakan di atas. Maka sebelumnya, saat ini dan seterusnya seluruh produk perundang-undangan yang lahir harus mengandung nilai-nilai syari’at.

              Dengan dasar tersebut sungguh tidak logis dan inkonstitusional jika ada sebagian kalangan yang menggugat perda-perda bernuansa Syariah termasuk UU Pornografi yang juga sebenarnya belum murni syari’ah. Tanpa malu-malu mereka bisanya hanya mengancam akan berpisah dari NKRI, seolah-olah NKRI membutuhkan mereka. Mereka harus berpisah diri-diri mereka saja, karena wilayah timur atau wilayah manapun di Negeri ini adalah milik umat Islam.

              Negeri ini lahir atas buah karya keikhlasan para mujahid pejuang kemerdekaan atas Berkat Rahmat Allah. Sebagaimana tercantum dengan tegas dalam Pembukaan UUD 1945 “Atas Berkat Rahmat Allah swt….” Karena jika tidak atas Berkat Rahmat Allah swt tidak mungkin bambu runcing dapat menang melawan senjata-senjata otomatis penjajah.

              Para muarrikhin (sejarawan) mengatakan “sejarah selalu milik penguasa”. Perjuangan seorang Mohammad Natsir dan kawan-kawan yang berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan dan mempersatukan Indonesia dalam NKRI banyak tidak diketahui oleh para pewarisnya (rakyat Indonesia), karena Natsir memperjuangkan Islam sebagai dasar Negara sementara para penguasa tidak menginginkannya.

              Sebagian besar dari kita atau anak-anak kita di sekolah tidak mengenal sosok para mujahid tersebut. Dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional maka sudah menjadi keharusan materi sejarah diluruskan di buku-buku sejarah anak-anak kita. Hal yang sebenarnya paling ditakuti oleh penguasa dimana pemikiran dan perjuangan sosok-sosok itu dibaca dan akan membangkitkan ruh jihad di dada-dada generasi Islam. Sehingga gelar pahlawan yang secara otomatis pengakuan konstitusional senantiasa diulur-ulur.

              Mereka khawatir jika saat keluar dari kelas para siswa akan memekikkan takbir Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar !!!

              * Forum Kajian Muhammad Natsir For World Civilization

              November 18, 2008

              HADITS TENTANG 4 HAL YANG TELAH DITENTUKAN OLEH ALLAH SWT

              Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits shahih yang berbunyi:

              عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ الله ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ .

              Diriwayatkan dari bapak Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Mas’ud ra. Katanya: Telah menceriterakan kepada kami Rasulullah saw ( orang yang selalu benar dan dibenar kan) :”sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat pulah hari berupa air mani. Kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari. Lalu diutus seorang malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkan ruh kepadanya dan malaikat tersebut diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu: menulis rizkinya, batas umur-nya, pekerjaannya dan kecelakaan atau kebahagiaan hidupnya”.

              Hadits di atas ini adalah berita dari Allah swt. kepada seluruh manusia lewat Rasulullah saw yang menerangkan bahwa hakekat dari rizki, umur, pekerjaan dan kebahagiaan atau kecelakaan termasuk jodoh telah ditentukan oleh Allah SWT sebelum seseorang lahir ke dunia. Apapun yang telah Allah ketahui dan tetapkan pada setiap manusia maka tidak akan pernah berubah, dan hanya Allah lah yang mengetahui apa yang telah terjadi dan yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Tetapi meskipun demikian bukan berarti kita hanya tinggal menunggu, malas-malasan dengan alasan sudah ditentukan. Karena hanya Allahlah yang tahu hakikatnya. Oleh karena itulah Allah dan Rasulnya menyuruh setiap orang untuk terus berikhtiar, berusaha serta melakukan pekejaan yang dapat mengantarkan dirinya kepada cita-citanya, setiap orang muslim harus berpegangan kepada rahmat Allah yang sangat luas yang dengan rahmat tersebut Allah Maha Kuasa untuk mengabulkan dan menuruti keinginannya. Kemudian setelah orang muslim tersebut berusaha dan cita-citanya belum tercapai, baru dia ber-sandar kepada hakekat, agar jiwanya tidak stres.

              DAPATKAH KETENTUAN ITU DIUBAH.

              Mungkin terdetik didalam pikiran kita sebuah pertanyaan, apakah hal-hal yang telah ditentukan oleh Allah SWT bisa diubah atau tidak? Sebagai contoh apakah umur kita bisa bertambah panjang atau tidak?

              Rasulullah SAW bersabda:

              عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (من سره أن يبسط له في رزقه أو ينسأ له في آثره فليصل رحمه) رواه البخاري(

              Kira-kira artinya Diriwayatkan dari Anas bin Malik R.A ia berkata:” saya mendengar Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang ingin di lancarkan rezkinya atau dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi”. (HR. Bukhori)

              Dari hadits ini kita bisa pahami bahwa orang yang menyambung silaturrahmi akan Allah lancarkan rezkinya dan akan dipanjangkan umurnya. Artinya rezki dan umur bisa berubah dengan menyambung tali silaturrahmi.

              Secara sekilas kalau kita perhatikan hadits ini bertentangan dengan ayat-ayat alquran dan hadits2x Rasulullah yang menjelaskan bahwa azal, rizki dan lainnya tidak bisa dirubah, seperti firman Allah SWT:

              فإذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون

              Ayat ini dengan tegas menjelaskan bahwa tatkala azal tiba maka tak seorang pun yang bisa mengundurkan untuk sesaat maupun mempercepatnya.

              Sebenarnya hadits dan ayat tersebut tidak bertentangan. Karena kita bisa mengambil titik temu antara keduanya. Dalam hal ini sedikitnya ada dua kemungkinan:

              · Pertama, maksud tambahan umur didalam hadits tersebut dalam arti kinayah yang maksudnya berkah, artinya umurnya akan bertambah berkah karena ketaatan kepada Allah SWT termasuk didalamnya menyambung silaturrahmi. Menyambung silaturrahmi adalah salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan orang yang menyambung silaturrahmi namanya akan harum dan diingat orang lain meskipun ia telah meniggal dunia. Sama seperti orang yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain, orang yang bersedekah jariyah, dan orang yang memiliki keturunan yang shaleh yang mendoakannya.

              · Kedua, mungkin juga maksud dari tambahan dalam hadits diatas adalah dalam arti yang sesungguhnya, artinya rizki dan umurnya bertambah. Tetapi penambahan disini dalam ruang lingkup pengetahuan malaikat. Adapun ayat diatas dalam ruang lingkup pengetahuan Allah. Jadi seakan-akan Allah berkata kepada malaikat:” umur sifulan 100 tahun jika ia menyambung silaturrahmi dan 60 tahun jika tidak menyambung silaturrahmi. Padahal Allah telah mengetahui sebelumnya apakah sifulan nanti menyambung silaturrahmi atau tidak. Jadi penambahan dan pengurangan hanya terjadi dalam ruang lingkup pengetahuan malaikat saja. (Fathu Al Baari juz 11 halaman 473). Pendapat pertama kelihatannya lebih tepat untuk hadits diatas.

              Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ketika menjelaskan hadits diatas dalam salah satu fatwanya ia mengatakan :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermaksud menganjurkan umat ini untuk melakukan sesuatu yang mengandung kebaikan. Seperti kita mengatakan ; siapa yang ingin memiliki anak, hendaklah ia menikah. Nikah telah ditetapkan, demikian pula anak telah ditetapkan. maka apabila Allah menghendaki anda memiliki anak, berarti Dia menghendaki anda menikah. Demikian pula rizki telah ditetapkan sejak azali dan juga telah ditetapkan bahwa anda akan menyambung tali silaturahim. Akan tetapi anda tidak mengetahui tentang persoalan ini, maka Nabi memotivasi dirimu. Dan Nabi menjelaskan apabila anda menyambung tali silaturahim maka Allah akan melapangkan rizki anda dan memanjangkan umur anda pula”.

              Rezki, umur, pekerjaan, kebahagiaan termasuk jodoh memang telah Allah tetapkan dan ketetapan Allah tidak akan pernah berubah. Tetapi siapa yang tahu isi ketetapan tersebut? Oleh karena itulah kita diperintahkan untuk terus berusaha, berdoa dan bertawakkal kepadaNya. Carilah rezki sebanyak-banyaknya, bekerjalah semampumu, cari jodoh yang sebaik-baiknya tapi ingat semua itu harus berada dalam ruang lingkup syari’at islam. Bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya, dan beribadahlah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok pagi. Wallohua’lam.

              Follow

              Get every new post delivered to your Inbox.