November 10, 2009

HAKIKAT PENUNTUT ILMU*

Pendahuluan

Seluruh Ahlul Ilmi sepakat bahwa warisan terbesar dan paling berharga didalam sejarah kehidupan manusia adalah ilmu pengetahuan. Rasulullah SAW mengatakan bahwa para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham tetapi mewariskan ilmu pengetahuan. Maksud dari ilmu disini adalah ilmu syar’i yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT. Imam Bukhori ketika menyebutkan kitab ilmi didalam kitab shahihnya, ia memulai dengan menyebut keutamaan ilmu. Ia berkata :” باب العلم قبل القول و العمل   kemudian beliau mengutip firman Allah SWT فاعلم أنه لا إله إلا الله [1] Ibnu Al Munir berkata:” Maksudnya adalah bahwasanya Ilmu adalah syarat sahnya setiap perkataan dan perbuatan. Keduanya tidak berarti apa-apa tanpa ilmu karena ilmu adalah faktor pentashih niat dan niat merupakan faktor pentashih amal. Dengan demikian penulis (Imam Bukhori) mengingatkan sejak dini pentingnya ilmu, sehingga tidak terdetik didalam hati seseorang bahwa Ilmu tidak bermanfaat tanpa amal yang pada akibatnya timbul sikap remeh terhadap ilmu pengetahuan dan thalabul ilmi.[2]. Seorang hamba tidak akan bisa mengetahui apa yang di sukai oleh Allah SWT kecuali melalui para rasul, oleh karena itulah Rasulullah menganjurkan seluruh umatnya untuk menuntut ilmu. Rasulullah bersabada :

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلي الجنة[3]

Thariq atau jalan disini memiliki dua pengertian. Pertama; jalan dalam menuntut ilmu diartikan sebagai jalan yang dilewati oleh seorang thalibul ilmi dari rumahnya menuju tempai dimana ia belajar. Kedua; juga biasa diartikan dengan arti lain seperti berfikir, membaca buku, mengadakan riset, diskusi bersama para ulama dan thalalibul ilmi dan sebagainya, semua itu merupakan jalan menuju ilmu.[4]

Didalam hadits lain Rasulullah bersabda :

إِن الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضا بما يصنع [5]

Juga di dalam hadits lain Rasulullah bersabda :

وإن العالم ليستغفر له من فى السموات ومن فى الأرض والحيتان فى جوف الماء وإن فضل العالم على العابد كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب[6]

Enam syarat sukses dalam menuntut ilmu

Seorang penuntut ilmu, apalagi ilmu yang dapat mendekatkannya kepada Allah haruslah  memuliki kemauan yang tinggi. Karena menuntut ilmu tidak akan berhasil kecuali ada beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang thalibul ilmi. Adapun sifat2x itu sebagaimana disebutkan oleh ulama kita adalah:

أخي لن تنال العلم إلا بستةٍ ……….. سأنييك عن تفاصيلها ببيان
ذكاء وحرص وافتقار وغربة ………….. وتلقين أستاذٍ وطول زمان

Enam hal ini jika benar-benar di perhatikan oleh thalabul ilmi insya Allah berhasil. Setiap orang ingin menuntut ilmu, tetapi banyak diantara mereka yang tidak sampai pada ilmu tersebut karena tidak tahu jalan yang harus ia tempuh. Sebagaimana dalam kisah ibnu Mas’ud bersama orang-orang yang bertasbih dengan krikil. Mereka berkata :” wahai abu Abdirrohman, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan”. Ibnu Mas’ud berakata:” dan berapa banyak orang-orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak tercapai”. Karena ia belum berjalan dijalan yang telah ditentukan dan pada manhaj yang telah di tetapkan.

Pada makalah yang singkat ini kita mencoba untuk mengambil pelajaran dari enam sifat yang telah kita sebutkan tadi, yang harus dimiliki oleh seorang thalib al ilmi.

1. Dzakaun (kecerdasan)

    Kecerdasan merupakan syarat pertama yang harus dipenuhi oleh thalibul ilmi. Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa orang yang pintar adalah orang yang mengetahui bahwa ia tidak tahu akan sesuatu dan karenanya dia mau belajar.

    Ilmu itu sangat luas sekali dan ia tidak memiliki akhir.  Imam Ibnu Jarir At Thobary ulama terkenal yang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, baik itu tafsir, hadits, tarikh, fiqh, Qiroat, ilmu lughah, ilmu filsafat, mantiq, dll, ketika ingin menulis tarikh (sejarah) ia berkata kepada sahabat-sahabatnya :” saya ingin menulis tarikh sejak Adam sampai sekarang”. Mereka bertanya :”berapa naskah (waroqoh)?”. Beliau menjawab:”30000”. Mereka berkata:” umur tidak akan cukup untuk itu”. Akhirnya beliau hanya menulis buku tarikh tersebut sebanyak 3000 naskah. Jadi tarikh thabary yang ada saat ini hanya 1/10 dari tarikh yang ingin di tulis oleh imam Thabary. Begitu juga dengan tafsir, ketika Imam Thabary mengungkapkan keinginannya untuk menulis tafsir, sahabat-sahabatnya bertanya:”besarnya seperti apa?” ia menjawab:” 30000 naskah (waroqoh). Mereka berkata:” umur akan habis sebelum ia selesai”. Akhirnya Imam Thabari menulis tafsir secara singkat sebanyak 3000 naskah (waroqot)[7]. Imam besar ini, dengan segudang ilmu yang ia miliki, tatkala sahabat-sahabatnya datang menjenguk disaat ia menghadapi syakarat al maut , mereka berdiskusi tentang sebuah masalah dalam ilmu faroid (mawaris), Imam Thabari meminta pena, tinta dan kertas untuk menulis permasalah tersebut. Salah satu temannya bertanya :” Saat ini?”. Ia menjawab :”Saya meninggal dan mengetahui permasalahan ini lebih baik daripada saya meninggal tanpa mengetahuinya“. Imam besar ini meskipun ilmu yang ia miliki sangat banyak, tetapi tatkala meninggal dunia, banyak permasalahan ilmu pengetahuan yang belum ia ketahui. Begitu juga imam Malik dan ulama-ulama lainnya. Dengan demikian ilmu tidak memiliki akhir, semakin banyak yang kita ketahui maka semakin banyak pula ilmu yang belum kita ketahui. ) “Dan tidaklah diberikan ilmu kepada kamu kecuali sedikit (QS. Al isra : 85)). Maka tidak mungkin permasalahan besar ini diserahkan kepada orang bodoh.

    Dan merupakan salah satu tanda kecerdasan seseorang adalah memulai ilmu-ilmu yang kecil (dasar) sebelum ilmu yang besar (tinggi), karena makanan orang dewasa bisa menjadi racun bagi bayi. Sebagai contoh: daging sangat baik untuk orang dewasa tetapi ia sangat berbahaya jika diberikan kepada seorang bayi, begitu juga dengan orang yang baru belajar ilmu, jika diberikan kepadanya ilmu yang tinggi, ilmu itu bisa  membahayakannya. Oleh karena itu, merupakan tanda kecerdasan seorang thalib ilmi adalah memulai dari ilmu yang kecil dan tentunya memulai dari hal-hal yang wajib ia ketahui terlebih dahulu, seperti masalah aqidah agar terlepas dari syirik dan dan masalah ibadah dan lainnya.

    2. Hirsun (ketamakan)

      Seseorang yang tamak terhadap apa saja, tidak akan pernah membiarkan satu detikpun waktunya lewat dengan sia-sia. Detik demi detik akan terprogram rapi sehingga cita-cita berhasil ia raih dengan sempurna. Maka sebagai seorang thalibul ilmi harus benar-benar menjaga efisiensi waktu, karena waktu adalah umur. Seorang thalib ilmi tidak menyukai sebuah majelis yang tidak seorang pun di antara mereka benar-benar menguasai permasalahan yang sedang dibahas. Sebagai contoh mungkin diadakan sebuah majelis, dan terjadi perdebatan sampai tengah malam tetapi tidak seorangpun yang memahami permasalahan dengan sempurna. Setiap orang hanya berpegang teguh pada qila wa qola , karena ini hanya akan menghilangkan waktu.

      Ulama-ulama kita dahulu termasuk orang-orang yang paling sungguh-sungguh dalam menjaga efisiensi waktu. Kita ambil sebagai contoh, Ibnu Aqil al Hanbaly[8]. Beliau mengarang sebuah buku dengan judul “al Funun” sebanyak 800 jilid dan yang sudah dicetak sebanyak 2 jilid.  Al Hafidz Ad Dzahaby didalam tarikhnya berkata:” belum ada seorangpun didunia ini yang mengarang buku melebihi kitab ini (al funun). Saya telah diberitahukan oleh seseorang (yaitu Ibnu Rajab) bahwa ia pernah melihat buku tersebut diatas jilid yang ke 400”. Abu Hafs Umar bin Ali Al Qozwini  berkata:”  saya mendengar dari syekh-syekh kami, mereka mengatakan:” buku itu 800 jilid”.

      Ibnu Aqil al hanbaly sama dengan orang-orang biasa, ia memiliki isteri, anak, alim di kampungnya, sibuk mengajar para santri-santrinya dan ia juga memiliki kesibukan tersendiri, tetapi meskipun demikian ia berhasil mengarang sebuah buku sebanyak 800 jilid, dan buku ini satu dari sekian banyak bukunya yang beliau karang. Bagaimana ia bisa menulis buku tersebut sebanyak 800 jilid?? Ia berkata:

      إني لا يحل لي أن أضيّع ساعة من عمري ، حتى إذا تعطل لساني عن مذاكرة ومناظرة ، وبصري عن مطالعة ، أعملت فكري في حال راحتي وأنا على الفراش ، فلا أنهض إلا وخطر لي ما أسطره . وإني لأجد من حرص على العلم وأنا في الثمانين من عمري أشد مما كنت أجده وأنا ابن عشرين سنة ، وأنا أقصّر بغاية جهدي أوقات أكلي ، حتى أختار سفّ الكعك وتحسّيه بالماء على الخبز ، لأجل ما بينهما من تفاوت المضغ

      “Tidak boleh bagi saya menyia-nyiakan sedikitpun dari umur saya, hingga tatkala lisanku capek karena belajar dan diskusi, dan mataku lelah karena membaca. Saya berfikir tatkala istirahat diatas tempat tidur. Maka takkala saya berdiri, telah terdetik didalam diri saya apa yang akan saya tulis. Saya merasa bahwa kesungguhan saya dalam menuntut ilmu pada umur 80 tahun melebihi  kesungguhan saya di umur 20 tahun. Dan saya mempersingkat semampu mungkin waktu-waktu makan. Hingga saya memilih ka’ak (kue)  dan saya merasakannya dengan air dari pada Hubz (roti). Hanya karena antara keduanya ada perbedaan waktu ketika mengunyah”.

      Ibnu ‘Akil Al Hanbali sama sekali tidak melalaikan waktu, hingga ia terus mengulur-ulur badannya untuk istirahat hanya untuk mencapai sebuah tujuan mulia yaitu ilmu pengetahuan.

      Ulama-ulama kita dahulu tidak pernah  menyia-nyiakan waktu mereka sedikitpun. Maka tidak heran akhirnya mereka menjadi ulama yang benar-benar ahli di bidangnya. Jika mereka berbicara tentang satu bidang ilmu, mereka benar-benar menguasainya. Sebagai contoh Ibnu Taimiyyah Rohimahullah, seseorang yang bisa membuat setiap orang tercengang, jika kita membaca riwayat hidupnya, tidak akan pernah bosan. Sangat menjaga efisinesi waktu, oleh karena itulah Allah memberikan berkah atas umurnya. Hingga Ibnu Al Qoyyim berkata :” Saya telah melihat darinya sesuatu yang luar biasa. Ia menulis sebuah buku hanya dalam satu malam padahal orang lain mengopinya dalam waktu satu jum’at”. Padahal dalam menulis dibutuhkan ketenangan, kemudian membaca sana-sini, menulis, mendahulukan ini dan mengakhirkan itu dan sebagainya. Tetapi beliau ketika menulis laksana air mengalir.

      3. Iftiqor… (butuh)

        Seorang thalibul ilmi harus terus merasa butuh terhadap ilmu, jika ia merasa telah cukup maka itulah awal kegagalan. Oleh karena itu, ketika thalibul ilmi menguasai sebuah ilmu, maka  tidak boleh merasa bahwa ia telah menguasai sesuatu. Tetapi harus merasa selalu kurang dan terus butuh terhadap ilmu orang lain. Ketika ia merasa sudah tidak butuh orang lain, saat itulah, ia akan mengalami kerugian yang sangat banyak. Shofyan Sauri berkata:

        لا ينبل أحد حتي يكتب عمن فوقه وعمن مثله وعمن دونه

        “seseorang tidaklah dianggap jenius hingga ia belajar dari orang yang diatasnya, sepertinya dan orang yang lebih rendah darinya”.

        Iftiqor ini sangat penting sekali bagi thalibul ilmi, pondasinya adalah tawadu’ dan tidak merasa diri lebih dari orang lain alias sombong atau gengsi.

        4. Gurbatun (asing)

          Gurbah disini memiki dua makna. Pertama; Rihlah fi Tholab al Ilmi. Meninggalkan keluarga, rumah, kampung halaman untuk satu tujuan yaitu menuntut ilmu. Kalau kita membuka lebaran-lembaran sejarah tentang hal ini, kita akan menumukan sesuatu yang sangat mencengangkan dari ulama-ulama hadits. Sebagai contoh. Imam bukhori menulis bukunya As Shahih didalamnya terdapat sekitar 4000 hadits tanpa pengulangan. Berapa lama Imam Bukhori dalam mengumpulkan hadits-hadits ini? Berapa berapa negeri yang harus ia kelilingi? Seberapa besar rasa capek yang beliau rasakan selama mengumpulkan hadits-hadits ini? Imam Bukhori yang hafal 300 ribu hadits mengarang bukunya As Shahih selama 17 tahun. Ketika Imam Bukhori sampai di Bagdad, ada seseorang yang mendengar seseorang mengatakan bahwa Imam Bukhori tidak bisa melaksanakan shalat dengan benar. Orang tersebut kemudian mendatangi imam Bukhori dan berkata :” ada seseorang yang mengatakan bahwa anda tidak bisa shalat dengan benar?”. Imam Bukhori menjawab :” Jika saya mau, saya bisa menyebutkan 10 ribu hadits tentang shalat sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu”. Ia menulis bukunya tersebut selama 17 tahun. Dan ia kumpulkan dari berbagai kota. Contoh lain bisa kita liha pada kisah perjalanan Syu’bah bin Hajjaj dari basrah ke mekah kemudian madinah dan kembali ke basrah hanya untuk mengecek sanad hadits wudhu[9], satu bulan perjalana Jabir bin Abdillah dari Madinah ke Syam hanya untuk mengetahui satu hadits yang pernah didengar oleh Abdullah bin Unais dari Rasulullah[10] dan perjalanan ulama-ulama lainnya.

          Arti kedua adalah tidak bergaul dengan orang lain kecuali dengan orang-orang yang satu tujuan (tholabu al ilmi) dengannya. Dengan kata lain tidak mempergunakan waktu untuk ngobrol dan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Jadi seorang tholibul ilmi merasa asing di suatu daerah yang tidak berpendidikan.

          5. Talqin Ustadz

            Menghadiri muhadarah sang ustadz atau dosen merupakan syarat ke 5 dari enam syarat sukses menuntu ilmu. Yang menghadiri kulliah akan mendapatkan minimal tiga manfaat. Pertama; Mempersingkat waktu, kedua; mengislah pemahaman yang salah, ketiga; Memberika adab. Yang pertama, satu buku yang jika dibaca sendiri membutuhkan waktu satu hari tetapi guru dapat menjelaskan dalam waktu satu pertemuan. kedua, mengislah pemahaman yang salah, sekarang ini kita sering menemukan kesalahan didalam cetakan, mungkin yang paling banyak kelihatannya di dalam buku-buku muqorror. Siapa yang akan membenarkannya?? Tentu Ustadz atau dosen, maka karena itulah ulama kita dulu mengatakan :”

            لا تأخذ العلم من صحفي ولا القرآن من مصحفي[11]

            6. Tuul Az Zaman (waktu yang lama)

              Karena ilmu sangat luas dan tidak memiliki akhir maka sudah barang tentu membutuhkan waktu yang sangat lama. Pepatah Arab mengatakan :”Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”.[12] Tidak ada kata berhenti dalam belajar, semakin tua umur maka semangat untuk belajar juga harus lebih tinggi sebagaimana perkataan Ibnu ‘Aqil Al Hanbali :” Saya merasa bahwa kesungguhan saya dalam menuntut ilmu pada umur 80 tahun melebihi  kesungguhan saya di umur 20 tahun”.

              Buku dan Thalibul Ilmi

              Buku adalah nyawa bagi seorang alim atapun thalibul ilmi. Tanpa buku laksana badan tanpa nyawa. Qadhi Zurjan (Abu Al Hasan Ali Abdul Aziz), menceritaka bagaimana pentingnya buku baginya dan nikmatnya hidup didampingi buku. Ia berkata dalam syairnya:

              ما تطعمت لذة العيش حتي                      صرت للبيت والكتاب جليسا

              ليس شيئ عندي أعز من العلـ                 ـــم فما أبتغي سواه أنيسا

              إنما الذل في مخالطة النا                           س فدعهم وعش عزيزا رئيسا

              Atau dalam bait lain di katakan :

              وخير جليس في الزمان كتاب  *** تسلو به إن خانك الأصحاب

              Banyak diantara ulama-ulama kita yang rela menjual harta yang mereka miliki untuk mendapatkan sebuah buku. Bahkan ada yang bernazar shalat atau puasa jika ia bisa membeli buku yang ia inginkan. Didalam makalah singkat ini penulis akan memberikan salah satu contoh dari mereka. Abdul Fattah Abu Guddah (pengarang buku Shofahat min sobri Al Ulama ‘ala syadaid al ilmi wa at tahsil) yang lahir tahun 1336 H dan wafat tahun 1418 H. bercerita:

              “Ketika saya belajar di kulliyah syari’at Universitas Al Azhar, Syekh saya Al ‘Allamah Al Imam Muhammad Zahid Al Kautsari menasehati saya agar memiliki buku Fathu ALbab Al ‘inayah bi syarhi kitab an Nuqoyah karangan Allamah syakh Ali Al Qori. Saya mengira buku itu di cetak di India. Saya tinggal di Kairo selama 6 tahun (hingga saya berhasil menyelesaikan pendidikan disana). Selama itu saya terus mencari buku tersebut di seluruh maktabah  dan toko buku tetapi selama itu juga saya tidak pernah menemukan buku tersebut.

              Ketika saya kembali ke Halab (di Syiria), saya terus berusaha mencari buku tersebut di setiap kota yang saya kunjungi dan setiap toko buku yang ada. Karena buku tersebut termasuk buku cetakan India, saya berusaha mencari buku-buku yang di cetak di India mudah-mudahan bisa menemukan buku yang selama ini saya cari, tapi tidak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya.

              Kemudian saya bertanya kepada Syekh Hamdi As Saparjalany tentang buku tersebut. Dari beliau saya mengetahui bahwa buku itu di cetak di Qazan Rusia. Dan selama hidupnya ia baru melihat satu eksempalar darinya dan telah dijual kepada Allamah Al Kautsari dengan harga yang tidak masuk akal.

              Pada tahun 1376 H saya berkesempatan haji ke baitullah. Saya keliling di Mekah dan menanyai semua percetakan yang ada tetapi hasilnya nihil. Kemudian saya berkunjung ke salah satu toko buku langka yaitu milik Syekh Al Musthafa bin Muhammad Asy Syanqithi, saya membeli beberapa buku darinya. Dengan nada putus asa saya bertanya kepadanya tentang buku yang selama ini saya cari. Ia menjawab:” seminggu yang lalu buku itu saya beli dari salah seorang ulama Bukhara, dan telah saya jual kepada seseorang dari Bukhara yang merupakan salah seorang ulama di Thasyqand. Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Saya bertanya:” Siapa nama Alim dari Thasyqand yang membeli buku itu darinya. Ia menjawab:” Syekh Inayatullah At Thasyqandy”. Saya bertanya lagi:” dimana ia tinggal? Bagaimana saya menemukannya?”. Ia menjawab :” saya tidak tahu”. Saya semakin putus asa.

              Saya kemudian menemui setiap orang Bukhara yang saya temui baik itu di mesjid al haram atau di pasar, bahkan saya pergi ke luar Mekah untuk mencari syekh tersebut. Tetapi bagaimana mungkin saya menemukannya. Berapa banyak orang Bukhara yang memeiliki nama ‘Inayatullah yang haji di Mekah. Hingga saya bertemu dengan Syekh Abdul Qodir At Thasyqandy di perbatasan Mekah darinya saya mengetahi nama Syekh yang membeli buku tersebut yaitu Syekh Mir ‘Inayah At Thasyqandy. Tetapi ia tidak mengetahi tempatnya.

              Sudah satu minggu saya mencari buku teresebut, hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang saudagar dari Syam di salah satu pintu mesjid Al Haram. Ia memanggil saya ke tokonya setelah melihat bahwa saya orang Syam. Ia kemudian bertanya tentang keadaan Syam dan tentang penduduknya. Saya kemudian bertanya kepadanya tentang Syekh dari Bukhara itu. Ia menjawab:” Toko yang ada didepan saya itu adalah milik suami putrinya, dia lebih tahu”. Wallohi saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya dengar.

              Saya kemudian mendatangi toko milik suami putrinya dan menanyakannya. Ia balik bertanya :”kenapa kamu menanyakannya dan kenapa ingin bertemu dengannya”. Saya menjawab:” saya sudah berminggu-minggu mencarinya, tunjukkan saya tempatnya semonga Allah memberikan balasan buat anda”. Ia kemudian menunjukkan rumahnya kepada saya di Hay Al Misqolah. Saya mendatanginya berkali-kali siang dan malam hingga akhirnya bertemu dan ia menjual bukunya kepada saya dengan harga yang ia inginkan. Hari itu merupakan hari bahagia yang tidak akan saya lupakan seumur hidup”.[13]

              Penutup

              Abu Al Aswad mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih mulia dari ilmu, para raja adalah pemimpin manusia dan ulama adalah pemimpin para raja. Ibnu Abbas juga pernah mengatakan bahwa Allah telah memberikan nabi Sulaiman pilihan antara ilmu, harta dan kekuasaan, dan ia memilih ilmu. Akhirnya Allah memberikan kepadanya ilmu, harta dan kekuasaan.[14]

              Sebagai thalibul ilmu, pencari warisan nabi Muhammad SAW, hendaklah memulai perkerjaan yang mulia ini dengan mengikhlaskan niat karena Allah SWT. Kemudian berjalan sesuai dengan jalan yang telah ditentukan serta mengamalkan apa saja yang telah di pelajari. Karena Rasulullah telah bersabda :” Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu.” Wallohu a’lam

              Referensi:

              1. Al Qur’an
              2. Mauqif As Shabah fi Al Fitnah, Dr. Muhammad Amhazun, Darussalam, Cairo, Mesir tahun 1428 H/2007 M.
              3. Fathu Al Bari, Ibnu Hajar Al ‘Asqolani, Dar At Taqwa li At Turots, Cairo, Mesir tahun 2000
              4. Syarh Muqoddimah Al Jumu’ li Al Imam Abi Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Dar Ibn Al Jauzy Cairo, Mesir.
              5. Shofahat min sobri Al Ulama ‘ala syadaid al ilmi wa at tahsil, Abdul Fattah Abu Guddah, Maktabah Al Batbu’at al Islamiyyah, Cetakan ke 8, Beirut Libanon, tahun 20005.
              6. Ihya Ulum Ad Diin, Abu Hamid Al Ghazali, Maktabah As Shafa, Cairo, Mesir, cetakan pertama 2003

              * Makalah ini disampaikan pada diskusi senat Dirosah Islamiyah wa Al Arabiyah, hari rabu 12 maret 2009.

               

              [1] QS. Muhammad ayat : 19

              [2] Fathu Al Bari, Kitab Al Ilmi bab Al ilmu qobla Al ‘Qowl wa Al ‘Amal juz 1 :194

              [3] Shahih, Diriwayatkan oleh Musim dan Abu Dawud

              [4] Syarh Muqoddimah Al Jumu’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Hal: 50

              [5] Shahih, Diriwayatkan oleh Ahmad didalam Al Musnad, Tirmidzi, An Nasai, Abd Razzak didalam kitab Al  Musonnif, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan At Thabrani.

              [6] Shahih, Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya.

              [7]    تحقيق موقف الصابة في الفتهة من روانات الإمام الطبري والحدثين للدكتور محمد أمحزون,  ص :  121

              [8] Nama aslinya adalah Abu Al Wafa Ali bin Aqil bin Muhammad bin Aqil bin Ahmad Al Bagdadi. Lahir pada bulan jumadal Akhir tahun 431 H.

              [9] Bunyi haditnya adalah:

              قال نصر بن حماد الوراق قال كنا قعودا على باب شعبة نتذاكر قال فقلت حدثنا إسرائيل عن أبي إسحاق عن عبد الله بن عطاء عن عقبة بن عامر قال كنا نتناوب رعاية الإبل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فجئت ذات يوم والنبي صلى الله عليه وسلم جالس وحوله أصحابه فسمعته يقول من توضأ فأحسن الوضوء ثم دخل المسجد فصلى ركعتين واستغفر الله غفر الله له قال فقلت بخ بخ قال فجذبني رجل من خلفي فالتفت فإذا هو عمر بن الخطاب فقال الذي قال قبل أحسن قال من شهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله قيل له ادخل من أي أبواب الجنة شئت

              [10] Sofahat min sobri Al Ulama ‘ala syadaid al ilmi wa at tahsil,  Abdul Fattah Abu Gaddah hal :44

              [11] Suhufy adalah orang yang belajar dari buku tanpa guru atau syekh, dan Mushafy adalah seseorang yang menghafal Al qur’an dari mushaf langsung tanpa syekh.

              [12] ini bukan hadits, melainkan pepatah bangsa Arab, bahkan ada yang mengatakan bahwa ini adalah perkataan Imam Ahmad bin Hanbal, atau jika dikatakan sebagai hadits , maka derajatnya dhoif dengan sanad yang tidak diketahui dari mana asalnya dalam kitab-kitab hadits.

              [13] Shofahat min sobri Al Ulama ‘ala syadaid al ilmi wa at tahsil, Abdul Fattah Abu Guddah hal : 279-281

              [14] Ihya Ulumuddin, Abu Hamid Al Ghazali hal :23

              November 10, 2009

              ADAB BERPUASA

               

              Allah SWT, mewajibkan puasa ramadhan pada bulan sya’ban tahun ke2 H, yaitu dengan turunnya firman Allah SWT yang berbunyi:

              “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah : 183)

              Rasulullah puasa ramadhan sebanyak 9 kali hingga beliau SAW meninggal dunia pada bulan rabi’ul awwal tahun ke 11 H.

              Ayat diatas menjelaskan kepada kita, bahwa Allah mewajibkan puasa ramadhan bagi orang-orang yang beriman dengan tujuan mudah2x mereka menjadi orang-orang yang bertakwa.

              Ulama berbeda pendapat tentang puasa yang di wajibkan atas umat islam sebelum turunnya firman allah dalam     surat al baqoroh ayat 183, pada dua pendapat:

              Pertama: diwajibkan atas umat islam puasa asyura (10 Muharram) setelah itu di hapus dengan turunnya firman Allah surat al  baqoroh:  183

              Kedua: diwajibkan atas umat islam berpuasa 3 hari setiap bulan  (puasa biid) setelah itu di hapus dengan turunnya firman Allah SWT dalam surat al baqoroh: 183

              Yang paling rojih adalah pendapat pertama, dengan dalil hadits shahih yang diriwayatkan dari Mu’awiyyah ra, bahwa Rasulullah naik mimbar kemudian bersabada:

              إن الله فرض عليكم صيام يومكم هذا في ساعتي هذه

              Hikmah Terbesar dalam Puasa

              Diantara hikmah puasa adalah pembiasan diri untuk ikhlas  karena Allah SWT.  Karena seseorang apabila terbiasa dengan sesuatu, maka ia akan terikat dengan apa yang ia biasakan, baik maupun buruk. Kalau ia terbiasa dengan kebaikan maka akan terus berada dalam kebaikan, dan jika terbiasa dengan kejahatan, maka ia akan berjalan pada jalan kesesatan.

              Maka diantara tujuan utama puasa adalah membiasakan manusia bersifat ikhlas kepada Allah SWT, karena puasa adalah ibadah paling rahasia, seseorang bisa berpura-pura puasa di hadapan orang lain, kemudian ia berbuka di dalam rumahnya, ia makan dan minum ketika orang lain tidak ada yang melihat. Dengan demikian puasa mendidik kita untuk selalu ikhlas kepada Allah serta jujur pada diri sendiri, Oleh karena itu, didalam hadits qudsy Allah berfirman:”

              قال رسول لله صلي لله عليه وسلم:” قال الله تعالي:” كل عمل ابن آدم له إلا الصيام, فإنه لي وأنا أجزي به (أخرجة البخاري)

              Fainnahu li… artinya Ikhlas hanya karena allah semata.

              Jika kita ingin melihat seseorang yang kuat, yang sanggup melaksanakan ketaatan kepada Allah, waktu senang ataupun susah, (dengan pertolongan Allah SWT tentunya) maka lihatlah orang menjadikan hawa nafsunya dibawah kendalinya, bukan malah dia yang dikendalikan oleh nafsu. Allah berfirman:

              وأما من خاف مقام ربه ونهي النفس عن الهوي فإن الجنة هي المأوي

               

              Jika kita bisa menaklukkan hawa nafsu dan bisa mengendalikannya sesuai dengan keinginan kita maka sesunggunya kita telah mendapatkan kebaikan. Tetapi jika yang terjadi malah sebaliknya maka itu bener2x sebuah musibah,

              Maka ketika berpuasa, hawa nafsu berada di bawah kendali kita, karena nafsu menginginkan makan, minum, dan lain sebagainya, dengan demikian kekuasaan seseorang bertambah kuat atas hawa nafsunya. Dan ini terjadi pada banyak ibadah

              Sebagai contoh, hawa nafsu ingin tidur, ketika subuh tiba, ia pun bangun dan ia paksa dirinya untuk mendirikan shalat. Jika itu dilakukan dengan terus-menerus insya Allah, subuh tidak akan terasa berat, karena nafsu telah berada dibawah kendali kita. Begitu juga pada ibadah2x lainnya.

              Syahwat Makan, kita taklukkan dengan perintah puasa

              Syahwat Harta, kita taklukkan dengan perintah Zakat

              Syahwat istri dan anak serta keluarga, kita taklukkan dengan kewajiban haji

              Jika manusia dapat mengkontrol hawa nafsunya maka ia akan bisa menyuruh hawa nafsu tersebut kepada kebaikan yang ia inginkan…

              Oleh karena itulah, manusia terbagi pada 3 golongan:

              Pertama: Yaitu orang yang hawa nafsunya di bawah kontrolnya sendiri, mereka ini adalah orang-orang yang berbahagia sebagaimana firman Allah swt :

              وأما من خاف مقام ربه ونهي النفس عن الهوي فإن الجنة هي المأوي

              Kedua: Hawa nafsunya lebih mendominasi dirinya. Allah berfirman tentang golongan ini:

               

              Artinya:” Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Al Jatsiah: 23)

              Maka orang2x pada golongan ini, didunia manapun ia tinggal ia akan hancur dan akan mendapatkan hukuman dari Allah SWT. Maka kita sering milihat orang berbuat dosa, ketika kita larang, ia mengatakan,:”saya tahu ini haram, tetapi saya tidak bisa meninggalkannya”. Itu artinya hawa nafsunya telah menguasai dirinya, dan dirinya sendiri tidak lain adalah budak nafsunya.

              Golongan ketiga adalah golongan yang mencampur aduk amal shaleh dan maksiat, orang2x ini kita serahkan kepada Allah. Mereka itu adalah orang2x yang kadang bisa menguasai hawa nafsunya dan kadang di kuasai oleh hawa nafsunya.

              Puasa mendidik kita untuk bisa mengontrol hawa nafsu, Ulama kita mengatakan, jika seseorang sanggup menahan dirinya dari makan, minum, bercampur dengan istri yang semua itu halal baginya, maka tentu ia lebih sanggup menahan dirinya dari apa-apa yang Allah haramkan untuknya..

              Adab Berpuasa

              Adab saat berpuasa di bagi pada dua macam:

              Pertama: hukumnya wajib

              • Seorang yang berpuasa harus benar-benar mengerjakan kewajibannya sebagai muslim, diantaranya dengan mendirikan shalat, berbakti pada orang tua, jujur dan sebagainya.
              • Menghindari hal-hal yang terlarang seperti berbohong, mengadu-domba, mencaci orang lain, ghibah, dan sebagainya. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

              فعن ابي هريرة رضي الله عنة عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال((من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس

              لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه)) (أخرجة البخاري)

              Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.a dari Rasulullah SAW, Ia bersabda :” Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (bohong) dan beramal dengannya, maka Allah tidak butuh kepada usahanya dalam meninggalkan makan dan minumnya.” (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari: 4/116).

              Juga wajib baginya menghindar dari segala sesuatu yang diharamkan, Tangannya tidak dipergunakan untuk mengambil sesuatu yang haram, kakinya tidak melangkah ketempat yang haram, ia tidak memakan kecuali yang halal.

              Tujuan puasa bukanlah bukanlah menahal lapar dan dahaga, tetapi tujuannya adalah apa yang dihasilkan oleh keduanya, yaitu menaklukkan sahwat dan hawa nafsu. Oleh karena itulah Rasulullah SAW bersabda :

              رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ورب قائم لس له من قيامة إلي السهر (أخرجه أبن ماجة من حديث أبي هريرة)

              Orang yang berpuasa adalah orang perutnya berpuasa dari makanan, panca indranya berpuasa dari dosa, dan lisannya dari kata-kata kotor, matanya dari hal-hal yang haram, pendengarannya dari hal-hal yang haram, kemaluannya dari hal-hal yang terlarang. Maka ketika ia berbicara, ia tidak berbicara dengan sesuatu yang dapat mengurangi nilai puasanya, ketika ia mengerjakan sesuatu, ia tidak mengerjakan sesuatu yang dapat merusak puasanya. Kata-katanya akan selau bermanfaat dan perbuatannya merupakan amal shaleh.

              Kedua: hukumnya sunnah

              * Menyambut ramadhan dengan senang dan gembira. Karena bulan ramadhan adalah merupakan salah satu kurnia yang Allah berikan pada umat ini. Allah SWT berfirman:

              Artinya:” Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“. (QS. Yunus : 58)

              * Berdoa ketika melihat hilal, sebagaimana disebutkan didalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar R.a, bahwa Rasulullah ketika melihat hilal berdoa:

              الله أكـــبر, اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام والتوفيق لما تحب وترضي ربنا وربك الله

              Rasulullah SAW bersabda”Robbuna warobbuka Alloh”. Artinya: Kamu dan saya adalah hamba Allah. Karena Bulan, matahari disembah. Maka Rasulullah SAW ingin memberitahukan kepada manusia bahwa seluruh makhluq adalah ciptaan Allah SWT. Maka Rasululullah mengatakan, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, maka tidak berhak bagi seseorang untuk menyembah selain Allah. Yang menciptakan kamu adalah allah, yang memunculkan kamu adalah Allah, yang menghiasai kamu adalah Allah, Maka sebagaimana saya ini ciptaan Allah, maka kamu juga ciptaan Allah, maka telah sesatlah orang yang menyembahmu dan telah sesatlah orang yang menyembah selain Allah.

              * Memperbanyak Amal Ibadah terutama Membaca Al Qur’an

              Ketika bulan ramadhan tiba, Rasulullah SAW berusaha sekuat tenanga untuk terus berbuat kebaikan, bersedekah, infak, hibah, bahkan pakaian yang ia pakai dan sangat butuhkan, ketika di minta akan diberikan.

              Juga merupakan sunnah yang harus kita ambil pelajaran dari Rasulullah, yaitu kehidupan beliau bersama Al Qur’an. Rasulullah SAW mempelajari Al qur’an ketika bulan ramadhan bersama jibril. Bulan Ramadhan Adalah bulan Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT:

              ãöky­ tb$ŸÒtBu‘ ü“Ï%©!$# tA̓Ré& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# ”W‰èd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3“y‰ßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4

              Artinya:”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

              Bulan ini adalah bulan qur’an, dan perhatian rasulullah SAW terhadap al-quran adalah melebih dari segalanya. Karena Al Qur’an adalah mu’jizat abadi yang Allah turunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Dan pembeda antara yang haq dan yang bathil, yang kekal sampai hari kiamat. Rasulullah bersabda :

              تركت فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا أبدا كتاب الله وسنتي

              Rasulullah menjadikan sebaik2x waktunya di bulan ramadhan untuk Alqur’an, oleh karena itulah ketika Aisyah Ra.ditanya sebagaimana yang di sebutkan didalam hadits muslim…

              كيف كانت خلقه صلي الله عليه وسلم؟ قالت : خلقه القرآن

              Kehidupan rasulullah SAW dengan Al Qur’an bukan hanya membaca, tetapi lebih dari itu, dengan tafakkur, tadabbur, dan kemudian di di laksanakan didalam kehidupan sehari2x.

              Didalam sebuah hadits (disebuktkan oleh banyak mufassirin didalam tafsir mereka) diriwayatkan bahwa Bilal bin Rabah datang kemesjid waktu subuh, ia mendengar Rasulullah membaca firman Allah SWT:

               

              Artinya:” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran : 190-191).

              Kemudian Rasulullah berkata kepada BIlal bin Rabah:” Telah turun kepadaku banyak ayat, celakalah orang-orang yang membacanya sedang ia tidak memikirkannya”.

              Banyak diantara salaf as sholeh, menganggap bahwa ramadhan adalah bulan Al Qur’an, dan tidak bisa di ganggu oleh selainnya meski sebesar apapun derajat ilmu. Imam malik contohnya, ketika ramadhan tiba, beliau berhenti berfatwa, berhenti mengajar . Ia kemudian membaca Al Qur’an dan berkata:” ini adalah bulan al quran”.

              Ibnu Hajar Al Asqolani ketika menulis profil Imam bukhori, ia mengatakan bahwa imam Bukhori menghatamkan al qur’an di bulan ramadhan 60 kali (1 kali di malam hari dan satu kali di siang hari).

              Tetapi apakan ini sunnah? Disana banyak pendapat..

              Tetapi yang jelas, sunnah rasulullah adalah tidak boleh mengkhatamkan al qur’an kurang dari 3 hari, sebagaimana sabda Rasulullah:

              وقال: ” لم يفقه من قرأ القرآن في أقل من ثلاث (أخرجه أبو داود (1394)، والترمذي (2950) من حديث عبد الله بن عمرو، وإسناده صحيح)

              يقول: (اقرؤوا القرآن في سبع ولا تقرؤوه في أقل من ثلاث)[1]

              Saya menyebutkan kisah ini hanya sebagai bukti bahwa salaf as shaleh sangan memperhatikan bacaan al qur’an di bulan ramadhan.

              * Tidak menyia-nyiakan makan sahur[2]. Nabi Muhammad bersabda:

              اَلسَّحُوْرُ كُلُّهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ اْلمُتَسَحِّرِيْنَ

              “Semua makan sahur adalah berkah maka janganlah kalian meninggalkannya sekalipun dengan meneguk air, sesungguhnya Allah dan para malaikatnya berdo’a bagi mereka yang makan sahur”.

              Keberhakahan sahur kembali pada tiga factor:

              1. Menghipkan sunnah Rasulullah dan keberkahan sunnah tidak bisa ditandingi apapun.
              2. Waktu itu adalah waktu turunnya Allah ke langit dunia, Ia kemudian berfirman:” apa kaha ada yang memohon sesuatu niscaya akan aku kabulkan? Apakah ada orang yang minta ampun niscaya aku ampuni? Maka jika kita sahur, berzikir dan mohon ampun kepadanya, niscaya kita akan di ampuni oleh Allah SWT.
              3. Makan sahur akan membantu kita sewaktu puasa di siang hari,

              Di antara keutamaan makan sahur adalah sebagaimana ditegaskan oleh Nabi r dalam sabdanya:

              فَصْلُ مَابَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ اْلِكتَابِ أَكَلَةُ السَّحُوْرِ

              “Perbedaan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur”.

              Bersahur dengan kurma sebagaimana sabda Rasulullah

              نِعْمَ سَحُوْرِ اْلمُؤْمِنِ التَّمْرُ

              “Sebaik-baik sahur seorang mu’min adalah kurma”.

              Juga disunnahkan untuk menterakhirkan sahur sebagaimana sabda Rasululah:

              إنا معشر الأنبياء أمرنا بتعجيل فطرنا وتأخير سحورنا وأن نضع أيماننا علي شمائلنا في الصلاة

              * Menyegerakan berbuka puasa. Sesuai dengan hadits-hadits Rasulullah yang berbunyi:

              لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ (أخرجه البخاري و سلم:من حديث سهل بن سعد رضي الله عنه)

              لاَ تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُوم (أخرجه ابن خزيمة و ابن حبان من حديث سهل بن سعد رضي الله عنه وصححه الألباني في “السلسلة الصحيحة”: وفي صحيح موارد الظمآن: (738)، وصحيح الترغيب: (1074))

              لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الفِطْرَ لأَنَّ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ»(أخرجه أبو داود: (2353)، وابن ماجه: (1698)، وابن خزيمة: (3/275)، وابن حبان: (889) من حديث أبي هريرة رضي الله عنه وحسنه الألباني في صحيح موارد الظمآن: (736)، وفي صحيح الترغيب: (1075)

              إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، -من جهة الشرق-  وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ»(٣٢-  أخرجه البخاري: (1954)، ومسلم: (1100)، من حديث عمر بن الخطاب رضي الله عنه).

              * Shalat malam dan berusaha untuk terus berjama’ah

              Rasulullah bersabda :

              مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

              مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

              إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مع الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ»(٥٢- أخرجه أبو داود: (2/105)، والترمذي: (3/169)، والنسائي: (3/202، 203)، من حديث أبي ذر الغفاري رضي الله عنه، وصححه الألباني في صحيح أبي داود: (1375) وصحيح الترمذي: (806))

               


              [1] ذكره ابن حجر في الفتح 9/ 97 وقال هو عند سعيد ابن منصور بإسناد صحيح

              [2] Sahur di mulai sejak pertengahan malam hingga terbit fajar.

              November 10, 2009

              KAIDAH-KAIDAH USHUL FIQH*

              BAB I

              PENDAHULUAN

              I. Latar Belakang Masalah

              Qawaidul Ushuliyah (kaidah-kaidah Ushul) adalah suatu kebutuhan bagi kita semua khususnya mahasiswa Azhar, calon mujtahid yang akan meneruskan perjuangan pendahulu-pendahulu kita dalam membela dan menegakkan islam dimanapun berada. Banyak dari kita yang kurang mengerti bahkan ada yang belum mengerti sama sekali apa itu Qawaidul ushuliyah. Maka dari itu, kami selaku penyusun mencoba untuk menerangkan tentang kaidah-kaidah ushul, mulai dari pengertian, perkembangan, sumber-sumbernya, dan beberapa urgensi dari kaidah-kaidah ushul.

              II. Rumusan Masalah

              1. Mengerti dan memahami pengertian kaidah ushul.
              2. Menyebutkan sumber-sumber pengambilan kaidah-kaidah ushul.
              3. Menyebutkan rukun serta syarat-syarat kaidah-kaidah ushul.
              4. Mengerti persamaan serta perbedaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqh?
              5. Mengeerti hubungan antara kaidah-kaidah ushul dengan ushul fiqh itu sendiri?
              6. Mengetahui faedah serta kedudukan kaidah-kaidah ushul.
              7. Mengetahui buku-buku yang di karang ulama tentang kaidah-kaidah ushul.

              III. Tujuan Pembahasan

              Makalah ini disusun bertujuan agar kita mengetahui, memahami dan mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan kaidah-kaidah ushul, mulai dari definisi, sumber-sumber, rukun, syarat, perbedaannya dengan kaidah-kaidah fiqh, hubungannya dengan ilmu ushul fiqh dan buku-buku yang menjadi subernya.

              BAB II

              PENGERTIAN

              Sebagai studi ilmu agama pada umumnya, kajian ilmu tentang kaidah-kaidah ushul diawali dengan definisi. Defenisi ilmu tertentu diawali dengan pendekatan kebahasaan. Dalam studi ilmu kaidah ushul fiqh, kita kita akan mencoba menjelaskan beberapa permasalahan mulai dari defenisi kaidah secara bahasa dan istilah, defenisi ushul fiqh secara bahasa dan istilah, defenisi kaidah-kaidah ushuliyyah secara bersamaan. Didalam seluruh defenisi tadi terdapat perbedaan pendapat dalam kalangan ulama, penyusun akan mencoba menulis beberapa defenisi dari kalangan ulama atau hanya sekedar menulis defenisi yang menurut penyusun lebih rajih atau lebih kuat.

              Defenisi kaidah

              Qawaid merupakan bentuk jamak dari qaidah, yang kemudian dalam bahasa indonesia disebut dengan istilah kaidah yang berarti aturan atau patokan. Dalam bahasa arab, kaidah memilik banyak arti diataranya: al-asas (dasar atau pondasi), al-Qanun (peraturan dan kaidah dasar), al-Mabda’ (prinsip), dan al-nasaq (metode atau cara). Al Qi’dah (cara duduk, yang baik atau yang buruk), Qo’id ar rojul (Istrinya), Dzul Qo’dah (nama salah satu bulan qomariyah yang mana orang orab tidak mengadakan perjalanan didalamnya) dan lain sebagainya.

              Dari seluruh arti tadi dapat kita simpulkan bahwa kaidah secara bahasa artinya tidak akan keluar dari dasar atau pondasi dan tempat sesuatu.

              Adapun secara istilah banyak sekali defenisi yang di buat oleh para ulama, tetapi yang paling lengkap dan paling baik menurut penyusun adalah:
              ”Suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagian-bagiannya.

              Defenisi Ushul Fiqh

              Untuk defenisi ushul fiqh sengaja penyusun tidak sebutkan karena sudah ada yang membahasnya..

              Defenisi kaidah-kaidah ushuliyah

              Dr. Jailany mendefinisikan sebagai:” hukum kulli (berifat umum) yang berdiri diatasnya furu’ fiqhiyah yang di bentuk dengan bentuk umum dan akurat”.

              Defenisi ini belum maani’ karena kaidah-kaidah fiqh masih masuk didalamnya.

              Prof. Dr. Muhammad Syabir mendefinisikan sebagai:” ”Suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang dengannya bisa sampai pada pengambilan kesimpulan hukum syar’iyyah al far’iyyah dari dalil-dalilnya yang terperinci”.

              Defenisi yang menurut penyusun lebih akurat adalah:” Hukum kulli (umum) yang dibentuk dengan bentuk yang akurat yang menjadi perantara dalam pengambilan kesimpulan fiqh dari dalil-dalil, dan cara penggunaan dalil serta kondisi pengguna dalil”.

              BAB III

              SUMBER-SUMBER PENGAMBILAN KAIDAH-KAIDAH USHUL

              Secara global, kaidah-kaidah ushul fiqh bersumber dari naql (Al-Qur’an dan Sunnah), ‘Akal (prinsip-prinsip dan nilai-nilai), bahasa (Ushul at tahlil al lughawi), yang secara terperinci kita jelaskan dibawah ini.

              Pertama: Al Qur’an.

              Al Qur’an merupakan firman Allah SAW yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, untuk membebaskan manusia dari kegelapan. Kitab ini adalah kitab undang-undang yang mengatur seluruh kehidupan manusia, firman Allah yang Maha mengetahui apa yang bermanfaat bagi manusia dan apa yang berbahaya, dan merupakan obat bagi ummat dari segalah penyakitnya. Allah berfirman :

              “dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. AL Isra: 82)

              Dan firman Allah:

              “dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS An Nahl: 89)

              Ini adalah kedudukan al Qur’an. Penyusun yakin semua orang tahu itu, maka tidak perlu di perpanjang di sini.

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang di hasilkan dari Al Qur’an adalah:

              1. Sunnah adalah sumber hukum yang di akui, dengan dalil

              وما ينطق عن الهوي  إن هو إلا وحي يوحي

              2. Al Qur’an bisa difahami dari uslub-uslub bahasa arab, dengan dalil

              إنا أنزلناه قرآنا عربيا لعلكم تعقلون

              3. Adat atau kebiasaan di akui sebagai hukum pada permasalahan yang tidak memiliki dalil, dengan dalil

              حذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين

              Kedua: As Sunnah

              Allah memberikan kemuliaan kepada nabi Muhammad SAW dengan mengutusnya sebagai nabi dan rasul terakhir untuk umat manusia dengan tujuan menyampaikan pesan-pesan ilahi kepada umat. Maka nilai kemuliaan Rasulullah bukan dari dirinya sendiri tetapi dari Sang Pengutus yaitu Allah SWT, karena siapapun yang menjadi utusan pasti lebih rendah tingkatannya dari yang mengutus. Allah Berfirman yang artinya:” Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul”. (QS. Ali Imran: 144).

              Jika seluruh perintah Allah telah disampaian oleh Rasulullah kepada umat, selesailah tugasnya dan wajib bagi umat untuk memperhatikan risalah yang di sampaikan oleh rasulullah. Allah berfirman yang artinya:

              “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali Imran: 144)

              Banyak sekali ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa sunnah Rasulullah adalah merupakan salah satu sumber agama islam, diantaranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 53,132,144, 172  juga didalam surat An Nisa ayat: 42, 59, 61, 64, 65, dan masih banyak lagi. Bahkan didalam surat Al Hasyr Allah berfirman:

              “apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari hadits adalah:

              1. Perintah yang mutlak hukumnya wajib (الأمر المطلق يفيد الوجوب)
              2. Ijma’ merupakah hujjah yang di akui secara syar’I (الإجماع حجة معتبرة شرعا)
              3. Jika berkumpul perintah dan larangan maka larangan di dahulukan (إذا اجتمع الآمر والمحرم قدم المحرم)
              4. Qiyas merupakan hujjah yang di akui secara syar’I (القياس حجة معتبرة شرعا)

              Ketiga: Ijma’

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari ijma adalah:

              1. Ijma’ Sahabat bahwa “hukum yang di hasilkan dari hadits ahad dapat di terima”.
              2. Ijma’ Sahabat bahwa “hukum terbagi menjadi 5 macam”.
              3. Ijma’ Sahabat bahwa “syariat nabi Muhammad menghapus seluruh syariat yang sebelumnya”.

              Keempat: Akal

              Akal memiki kedudukan yang tinggi didalam syariat islam, karena kita tidak akan faham islam tanpa akal. Sebagai contoh, Apa dalil yang menunjukkan bahwa Allah itu ada? Jika dijawab Al Qur’an, Apa dalil yang menunjukkan bahwa Al Qur’an benar-benar dari Allah? Jika dijawab I’jaz, apa dalil yang menunjukkan bahwa I’jazul quran sebagai dalil bahwa alqur’an bersumber dari Allah SWT? Dan seterusnya. Dengan demikian dapat kita fahami bahwa islam tidak akan kita fahami tanpa akal, oleh karena itulah akal merupakan syarat taklif dalam islam.

              Meskipun demikian, ada satu hal yang harus di perhatikan dengan seksama, bahwa akal tidak bisa berkerja sendiri tanpa syar’I. Akal hanyalah sarana untuk mengetahui hukum-hukum Allah melalui dalil-dalil al quran dan hadits. Allah lah yang menjadi hakim, dan akal merupakan sarana untuk memahami hukum-hukum Allah tersebut.

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang di hasilkan dari akal adalah:

              1. Al Qur’an merupakan dalil yang di akui.
              2. Baik dan buruk hanya di ketahui melalui syar’I bukan akal.
              3. Yang lebih kuat didahulukan dari yang lemah.

              Kelima: Perkataan Sahabat

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang diambil dari perkataan-perkataan sahabat Rasulullah adalah:

              1. Hadits-hadits Ahad zonniyah
              2. Qiyas adalah hujjah
              3. Hukum yang terakhir menghapus hukum yang terdahulu (naskh)
              4. Orang awam boleh taqlid
              5. Nash lebih di utamakan dari qiyas maupun ijma’

              Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari ilmu-ilmu islam

              1. Ilmu Ushuluddin
              • Baik dan buruk dapat diketahui dengan syar’I bukan dengan akal
              • Rasulullah tidak menetapkan ijtihad yang salah
              • Tidak ada yang ma’sum kecuali nabi
              • Syari’at islam menghapus syari’at sebelumnya
              • Domir goib kadang-kadang kembali pada kalimat yang tidak tertulis, dan itu bisa di ketahui melalui siyaaq kalimat.
              • Kalimat Aina (أين) menunjukkan tempat (syarat ataupun istifham) dan (  متي و أيان) menunjukkan waktu (syarat atupun istifham)
              • Fi’il madi jika menjadi fiil syarat, ia berubah menjadi kaliamat insyaa menurut kesepakatan ahli nahwu.
              • (إلي) menunjukkan akhir sesuatu (waktu maupun tempat)
              • Dan sebagainya.
                • Kaidah  سد الذرائع
                • Kaidah adat dan kebiasaan merupakan dalil yang di akui
                • Kaidah المصالح المرسلة

              2.  Ilmu Bahasa Arab

              • Domir goib kadang-kadang kembali pada kalimat yang tidak tertulis, dan itu bisa di ketahui melalui siyaaq kalimat.
              • Kalimat Aina (أين) menunjukkan tempat (syarat ataupun istifham) dan (  متي و أيان) menunjukkan waktu (syarat atupun istifham)
              • Fi’il madi jika menjadi fiil syarat, ia berubah menjadi kaliamat insyaa menurut kesepakatan ahli nahwu.
              • (إلي) menunjukkan akhir sesuatu (waktu maupun tempat)
              • Dan sebagainya.

              3. Ilmu Fiqih

              • Kaidah  سد الذرائع
              • Kaidah adat dan kebiasaan merupakan dalil yang di akui
              • Kaidah المصالح المرسلة

              BAB IV

              RUKUN DAN SYARAT KAIDAH-KAIDAH USHUL

              Rukun-rukun kaidah Ushuliyyah

              Ketika kita melihat sebuah kaidah ushul, النهي للكرار (larangan menunjukkan pengulangan) umpamanya kita akan menemukan 4 rukun didalamnya:

              Pertama      : Maudu’ (tema) yaitu النهي
              Kedua        : Mahmuul yaitu التكرار
              Ketiga        : Penisbatan antara keduanya yaitu kebergantungan rukun kedua dengan rukun pertama
              Keempat     : Terjadi atau tidaknya rukun ketiga pada keduanya.. (Apakah perintah menunjukkan pengulangan benar-benar terjadi atau tidak?)

              Jika keempat-empatnya adalah tasowwurot dimanakah hukumnya atau at tasdiq ??
              Ahli mantiq ketika berusaha menyelesaikan permasalahan ini berbeda pada 2 pendapat:
              1. Al Falasifah mengatakan bahwa at tasdiq adalah rukun ke empat saja, dengan kata lain menurut falasifah, kaidah-kaidah ushul cukup dengan satu rukun saja yaitu rukun yang keempat.
              2. Imam Ar Razi mengatakan bahwa at tasdiq tidak cukup dengan rukun ke empat saja tetapi gabungan dari keempat rukun tersebut.

              Syarat-syarat kaidah Ushuliyyah

              1. Harus dalam bentuk yang singkat
              2. Merupakan perkara yang sempurna
              3. Maudu’nya (temanya) harus kulli bukan juz’I (umum)
              4. Kaidah-kaidah ushul tersebut tidak bertentangan dengan syari’at dan maqosid syari’ah
              5. Tidak bertentangan dengan kaidah lain (baik itu kaidah ushul ataupun kaidah fiqh) yang sebanding dengannya atau lebih kuat darinya.
              6. Kaidah-kadiah ushul tersebut harus tegas dan tidak ragu-ragu

              BAB V

              HUBUNGAN ANTARA KAIDAH-KAIDAH USHUL DENGAN USHUL FIQH

              Ketika kita melihat defenis dari ushul fiqh dan kaidah-kaidah ushul, akan jelas sekali perbedaan atara keduanya. Tetapi meskipun demikian, keduanya tidak akan bisa dipisahkan karena ilmu kaidah-kaidah ushul merupakan bagian dari ilmu ushul fiqh. Hubungan antara keduanya adalah hubungan atara umum dan khusus (ilmu ushul fiqh lebih umum dari ilmu kaidah-kaidah ushul).

              Adapun perbedaan atara keduanya adalah sebagai berikut:

              • Mayoritas kaidah-kaidah ushul adalah nilai yang di ambil dari ushul fiqh (ushul fiqh jauh lebih luas pembahasannya daripada kaidah-kaidah ushul).
              • Perbedaan dalam segi maudu’ (tema). Tema kaidah-kaidah ushul adalah ushul fiqh itu sendiri adapun tema ushul fiqh adalah al- adillah al ijmaliayah min hautsu dobthi al fiqh.
              • Dari segi Tujuan. Tujuan dari kaidah-kaidah ushul adalah menyempurnakan ushul fiqh dengan cara menyempurnakan nilai-nilai ushul dengal lafaz yang singkat, dan mengembalikan nilai-nilai tersebut kepada nilai yang lebih umum yang menjadi kaidah buat kaidah tersebut.  Dengan demikian tujuan ilmu kaidah-kaidah ushul adalah ingin memberikan bentuk lain untuk ushul fiqh dalam bentuk kaidah yang lebih singkat dan sistematis. Adapun tujuan ushul fiqh adalah pencapaian nilai-nilai yang dapat menyempurnakan ijtihad dalam fiqh.
              • Dari segi histories (Apakah ushul fiqh muncul terlebih dahulu atau kaidah-kaidah ushul?)

              Sahabat-sahabat Rasulullah, tabi’in dan yang mengikuti mereka sejak dahulu telah berijithad dengan memakai kaidah-kaidah ushul.  Kemudian pembahasan semakin luas hingga muncullah ilmu ushul fiqh. Demikian juga ilmu ushul fiqh semakin luas hingga di butuhkan kaidah-kaidah singkat yang dapat dengan mudah diterapkan oleh seorang mujtahid, dan inilah yang menjadi tonggak munculnya ilmu kaidah-kaidah ushul. Dengan demikian kaidah-kaidah ushul lebih dahulu muncul dari ilmu ushul fiqh, dah ilmu ushul fiqh muncul sebelum munculnya ilmu kaidah-kaidah ushul.

              BAB VI

              PERBEDAAN ANTARA KAIDAH-KAIDAH USHULIYYAH DENGAK KAIDAH-KAIDAH FIQHIYYAH

              Persamaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqh terletak pada kesaaman sebagai wasilah pengambilan hukum. Keduanya merupakan prinsip umum yang mencakup masalah-masalah dalam kajian syari’ah. Oleh karena itu, dalam perspetif ini kaidah ushul sangatlah mirip dengan kaidah fiqih.

              Namun, kita pun bisa melihat perbedaan yang signifikan dari kedua kaidah tersebut, secara ringkas perbedaan kedua kaidah tersebut adalah sebagai berikut :

              1. Kaidah ushul pada hakikatnya adalah qa’idah istidlaliyah yang menjadi wasilah para mujtahid dalam istinbath (pengambilan) sebuah hukum syar’iyah amaliah. Kaidah ini menjadi alat yang membantu para mujtahid dalam menentukan suatu hukum. Dengan kata lain, kita bisa memahami, bahwa kaidah ushul bukanlah suatu hukum, ia hanyalah sebuah alat atau wasilah kepada kesimpulan suatu hukum syar’i. Sedangkan, kaidah fiqih adalah suatu susunan lafadz yang mengandung makna hukum syar’iyyah aghlabiyyah yang mencakup di bawahnya banyak furu’. Sehingga kita bisa memahami bahwa kaidah fiqih adalah hukum syar’i. Dan kaidah ini digunakan sebagai istihdhar (menghadirkan) hukum bukan istinbath (mengambil) hukum (layaknya kaidah ushul). Misalnya, kaidah ushul “al-aslu fil amri lil wujub” bahwa asal dalam perintah menunjukan wajib. Kaidah ini tidaklah mengandung suatu hukum syar’i. Tetapi dari kaidah ini kita bisa mengambil hukum, bahwa setiap dalil (baik Qur’an maupun Hadits) yang bermakna perintah menunjukan wajib. Berbeda dengan kaidah fiqih “al-dharar yuzal” bahwa kemudharatan mesti dihilangkan. Dalam kaidah ini mengandung hukum syar’i, bahwa kemudharatan wajib dihilangkan.
              2. Kaidah ushul dalam teksnya tidak mengandung asrarus syar’i (rahasia-rahasia syar’i) tidak pula mengandung hikmah syar’i. Sedangkan kaidah fiqih dari teksnya terkandung kedua hal tersebut.
              3. Kaidah ushul kaidah yang menyeluruh (kaidah kulliyah) dan mencakup seluruh furu’ di bawahnya. Sehingga istitsna’iyyah (pengecualian) hanya ada sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali. Berbeda dengan kaidah fiqih yang banyak terdapat istitsna’iyyah, karena itu kaidahnya kaidah aghlabiyyah (kaidah umum).
              4. Perbedaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqih pun bisa dilihat dari maudhu’nya (objek). Jika Kaidah ushul maudhu’nya dalil-dalil sam’iyyah. Sedangkan kaidah fiqih maudhu’nya perbuatan mukallaf, baik itu pekerjaan atau perkataan. Seperti sholat, zakat dan lain-lain
              5. Kaidah-kaidah ushul jauh lebih sedikit dari kaidah-kaidah fiqh.
              6. Kaidah-kaidah ushul lebih kuat dari kaidah-kaidah fiqh. Seluruh ulama sepakat bahwa kaidah-kaidah ushul adalah hujjah dan mayoritas dibangun diatas dalil yang qot’I. Adapun kaidah-kaidah fiqh ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa kaidah-kaidah fiqh bukan hujjah secara mutlaq, sebagian mengatakan hujjah bagi mujtahid ‘alim dan bukank hujjah bagi selainnya, sebagian yang lain mengatakan bahwa kaidah-kaidah tersebut hujjah secara mutlak.
              7. Kaidah-kaidah ushul lebih umum dari kaidah-kaidah fiqh

              BAB VII


              FAEDAH KAIDAH-KAIDAH USHUL FIQH

              DAN KEDUDUKANNYA DIANTARA ILMU-ILMU SYARA’

              1. Faedah Kaidah-Kaidah Ushul Fiqh

              Manfaat sesuatu bisa dilihat dari buah atau nilai yang di hasilkannya, begitu juga dengan kaidah-kaidah ushul. Jika kita ingin mengetahui manfaat serta kedudukannya maka hendaklah kita melihat kepada nilai atau buah yang dihasilkan oleh kaidah-kaidah ushul fiqh itu sendiri.. Setiap manusia berbuat sesuai dengan kemaslahatannya, jika tidak ada maslahat (minimal dalam pandangannya), ia tidak akan melaksanakannya. Maslahat dibagi dua, dunia dan akhirat. Sebagai muslim tentu berkeyakinan bahwa maslahat dunia adalah sarana untuk mencapat kebahagiaan utama di akhirat nanti.

              Setelah ilmu aqidah, ilmu yang membahas tentang hukum-hukum praktis merupakan ilmu yang paling penting dan harus dikuasai. Hukum-hukum ini bisa di ketahui, baik dengan cara taqlid atau ijtihad. Beribadah atas dasar taqlid tidak sama derajatnya jika dibandingkan dengan beribadah atas dasar ijitihad. Imam Ghazali berkata:” Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang menggabungkan antara akal dan as-sam’ (Al-Qur’an dan Sunnah) dan yang menyertakan pendapat dan syara’”.

              Abu Bakar Al-Qoffal As-Syasyi berkata dalam bukunya “al-ushul”:” Ketahuilah bahwa Nash yang mencakup segala kejadian tidak ada, dan hukum-hukum memiliki ushul dan furu’ , dan furu’ tidak bisa diketahui kecuali dengan ushul, dan nilai-nilai itu tidak dapat di ketahui kecuali dengan ilmu fiqh dan ushul fiqh. Ilmu ini diambil dari syara’ dan akal yang suci secara bersamaan. Ia tidak menolak syara’ tidak pula menolak akal. Karena keutamaan ilmu ini lah, banyak orang yang mempelajarinya. Ulama yang faham ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya adalah ulama yang tinggi derajatnya, tinggi wibawanya ,memiliki banyak pengikut dan murid. Maka hendaklah memulai dengan ushul untuk mengetahui hukum-hukum furu“.

              Diantara faedah kaidah-kaidah ushul fiqh adalah:

              1. Dapat mengangkat derajat seseorang dari taqlid menjadi yaqin. Allah berfirman yang artinya:” niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (QS. Al-Mujadalah: 11)
              2. Kaidah-kaidah ushul merupakan asas dan pondasi seluruh ilmu-ilmu islam lainnya. Maka ilmu fiqh, tafsir, hadits dan ilmu kalam tidak akan sempurna tanpanya. Kaidah-kaidah ushul menjadikan pemahaman terhadap al-quran dan sunnah dan sumber-sumber islam lainnya menjadi akurat.
              3. Dengan memahami kaidah-kaidah ushul, seseorang dapat dengan mudah mengambil kesimpulan-kesimpulan hukum syari’ah al-far’iyyah dari dalil-dalilnya langsung dan terus melaksanakannya. Karena kaidah-kaidah ushul merupakan sarana yang menghantarkan seseorang pada hukum-hukum fiqh.
              4. kaidah-kaidah ushul berusaha membentuk kembali ilmu ushul fiqh dalam bentuk yang baru, lebih singkat dan akurat yang dapat membantu seorang mujtahid dalam pengambilan hukum.
              5. Seorang yang faham ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya akan dapat dengan mudah mengcounter pemikiran-pemikiran yang berusaha menyerang hukum-hukum islam yang telah mapan seperti wajibnya rajam, hudud dan lain sebagainya.
              6. Tujuan akhir adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

              2. Kedudukan Kaidah-Kaidah Ushul Fiqh

              Kedudukan dan keutamaan sebuah ilmu tidak lepas dari tema, objek, tujuan, apa yang di bahas, besar kebutuhan, kekuatan dalilnya serta maslahat yang dihasilkannya. Semakin besar faedahnya semakin tinggi pula kedudukannya. Kaidah-kaidah ushul memiliki kedudukan tinggi, yaitu berada pada urutan pertama setelah ilmu akidah.

              Penjelasannya:

              1. Dari segi faedah dan buah yang di hasilkan oleh kaidah-kaidah ushul, penyusun telah jelaskan pada penjelasan faedah-faedah ushul fiqh diatas.
              2. Dari segi objeknya, penyusun telah jelaskan bahwa objek kaidah-kaidah ushul adalah ushul fiqh itu sendiri dari segi keakuratannya. Juga membahas nilai-nilai ushul fiqh untuk di undang-undangkan. Jika ilmu ushul fiqh memiliki kedudukan tinggi dalam islam, bagaimanakah kedudukan sebuah ilmu yang bertugas menambah keakuratan ushul fiqh?
              3. Dari segi tujuannya, tujuannya adalah pengambilan hukum syara’ yang praktis dari dalil-dali syara’ dan memperjuangkannya serta memberikan keakuratan dalam berijtihad dan kondisi mujtahid.  Usaha untuk mengetahui hukum-hukum Allah adalah merupakan kewajiban terpenting dan merupakan tujuan penciptaan kita di dalam kehidupan ini. Ilmu apapun yang memiliki tujuan ini adalah ilmu yang memiliki kedudukan tinggi.
              4. Dari segi kebutuhan. Tidak ada kebahagiaan didunia maupun di akhirat tanpa syari’at Allah. Dan syariat Allah tidak akan dapat diketahui tanpa kaidah-kaidah ushul. Ma la yatimmu al-fadil illa bihi fahuwa faadhil.

              BAB VIII

              BUKU-BUKU KARANGAN ULAMA TENTANG KAIDAH-KAIDAH USHUL

              Sebenarnya banyak sekali buku-buku tentang kaidah-kaidah ushul yang dikarang para ulama sejak dahulu hingga awal abad 20 dan dari awal abad 20 hingga sekarang, tetapi pada bab ini penyusun hanya akan menyebutkan nama-nama buku yang membahas tentang kaidah-kaidah ushul yang merupakan referensi utama dalam masalah ini. Bagi yang ingin mengetahui lebih, bisa membaca buku Nadzoriyah at taq’id al Ushuly karya Dr. Aiman Abdul Hamid Al-Badaroin atau buku-buku lainnya.

              Diantara buku-buku itu adalah:

              1. Ta’sis An Nazor karya Ubaidillah bin Umar bin Isa Ad Dabusy (364-430 H)
              2. Takhrijul Al-Furu’ Ala Al-Ushul karya Mahmud bin Ahmad bin Mahmud Abu Al Manqib Al Jinzani (573-656 H)
              3. Miftah Al-Wusul ila takhrij al-furu’ ala al-Ushul karya Syarif At Tilmisany (710-771 H)
              4. At Tamhid fi at-takhrij al-furu’ ala al-ushul karya Al Isnawi (7.4-772 H)
              5. Al-Qowaid wa al-Fawaid Al-Ushuliyah wa ma yata’allaqu biha min al-Ahkam al-far’iyyah karya Ibn Al-Liham Al Hanbaly ( wafat tahun 803 H)
              6. Al-Wusul ila Qowaid al-ushul karya imam Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Al Hanafy ( wafat tahun 1007 H)
              7. At-Tahrir karya Kamal bin Al Hamam (matan)
              8. At-Tanqih karya Ibnu Mas’ud Al-Hanafi (matan)
              9. Mu’tasar al-muntaha al-ushuly karya Ibnu Al-Hajib (matan)
              10. Al-Waroqot fi Ushul Al-Fiqh karya Al-Juwaini
              11. Minhaj Al-Ushul ila ilmi al-ushul karya Al-Baidawy
              12. Raudhatunnazir wa jannatul muanzir karya Ibnu Qudamah
              13. Al-Ihkam fi Ushul al-ahkam karya Al-Amadi
              14. Al-Irsyad wa at-taqrib karya Abu Bakar Al-Baqillani
              15. Ushul Fiqh karya Syekh Al-Hadary (wafat tahun 1927 M)
              16. Ilmu Ushul fiqh karya Syekh Abdul Wahab Khalaf (1888 – 1956 M)
              17. Taqnin Ushul Fiqh karya Dr. Muhammad Zaki Abdul Bar

              BAB IX

              PENUTUP

              Kesimpulan

              1. Kaidah-kaidah ushul fiqh adalah ilmu yang mandiri. Seluruh ulama sepakat bahwa perbedaan antara ilmu dengan ilmu yang lain disebabkan oleh faktor tema atau objek serta tujuan dari ilmu itu sendiri. Ilmu Kaidah-kaidah ushul fiqh memiliki objek dan tujuan yang berbeda dengan ilmu lainnya bahkan berbeda dengan objek serta tujuan ilmu Ushul fiqh. Itu artinya ilmu kaidah-kaidah ushul fiqh adalah ilmu yang berdiri sendiri.
              2. Kaidah-kaidah ushul, apakah merupakan dalil atau tidak dapat dikategorikan pada dua kategori yaitu: Pertama: Kaidah-kaidah ushul yang berdiri sendiri yaitu yang berpatokan pada sumber-sumber islam seperti Al qur’an adalah hujjah, begitu juga dengan sunnah, ijma’ qiyas, masholih mursalah, saddu ad dzaroi’ dan Istishab. Diantara kaidah ini ada yang disepakati oleh ulama sebagai hujjah dan ada yang masih dalam perdebatan dikalangan ulama.  Kedua: Kaidah-kaidah yang tidak berdiri sendiri tetapi hanya sebuah alat. Kaidah-kaidah itu adalah  yang diambil dari bahasa arab dan lainnya. Yang kedua ini bukan merupakan dalil yang mandiri tetapi hanya berfungsi sebagai sarana.
              3. Ilmu kaidah-kaidah ushul fiqh tidak bisa dipisahkan dari ilmu ushul fiqh itu sendiri. Karena ilmu ini merupakan bagian dari ilmu ushul fiqh. Hubuangan antara keduanya adalah hubungan antara umum dan khusus.

              Saran

              Penyusun makalah ini hanya manusia yang dangkal ilmunya, yang hanya mengandalkan sedikit buku referensi. Maka dari itu penyusun menyarankan agar para pembaca yang ingin mendalami masalah Qawaidul Ushuliyah, agar setelah membaca makalah ini, membaca sumber-sumber lain yang lebih komplit, seperti buku-buku yang penyusun tulis dalam bab VIII atau buku-buku lain yang tidak kalah pentingnya dari buku-buku tersebut.

              DAFTAR PUSTAKA

              Dr. Aiman Abdul Hamid Al-Badrain, 2005, Nadzoriyyah At-Taq’id Al-Ushuly, Kairo: Dar Ibn Hajm

              Dr. Muhammad Dzuhaily, 2004, Al-Qowaid Al-Fiqhiyyah ala Al-Madzhab Al-Hanafy wa As-Safi’I, Kuwait: Majlis Al-Nasr Al-’Ilmy

              Dr. Abdul Karim Zaidan, 2006, Al-Wajiz fi Syarhi Al-Qowaid Al-Fiqhiyah fi As-Syari’ah Al-Islamiyah, Beirut-Libanon: Muassasah Ar Risalah Nasyirun

              Muhammad bin Muhammad Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Mustashfa fi ilm Al-Ushul, Beirut : Dar El-Kutub El-Ilmiyah, cetakan tahun 1413 H

              Al-Jailany Al-Marini, Al-Qowaid Al-Ushuliyah wa tatbiqotiha ‘inda Ibn Quddamah fi kitab Al-Mugni, Kairo : Dar Ibn Affan, cetakan pertama tahun 2002 M

              Syabir, Muhammad Utsman, Al-Qowaid al-Kulliyah wa ad-Dhowabit Al-Fiqhiyah, Yordania : Dar El-Furqon, cetakan pertama, tahun 2000


              * Makalah disampaikan dalam kajian fakultatif di Bagas Godang KPTS, hari kamis tanggal 15 Oktober 2009 pukul 18.00 waktu Kairo.

               

              Maret 21, 2009

              Kultum Mesjid Ar Rahmah Madrasah (Syukurilah Nikmat Tuhanmu!)

              Allah berfirman yang Artinya:

              “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim :7)

              Ayat di atas menjelaskan kepada kita, bahwa Allah SWT memerintahkan seluruh hambaNya untuk bersyukur kepadaNya, jika ia bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat untuknya tetapi jika ia mengingkari, maka azab pedihlah yang akan ia terima. Apa sebenarnya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita???

              Allah SWT memberikan tiga macam nikmat kepada hambanya yang beriman (kaum muslimin). Nikmat pertama adalah nikmat penciptakan, kita belum ada kemudian diciptakan oleh Allah SWT. Kedua adalah nikmat Imdad (perbekalan). Artinya Allah memberikan bekal kepada kita agar dapat bertahan hidup. Nikmat kedua ini mencakup panca indera seperti mata untuk melihat, tangan untuk meraba, telinga untuk mendengar, otak untuk berfikir, semua itu diciptakan agar manusia bisa mempergunakannya dalam kehidupan di dunia. Kemudian Allah menciptakan Langit dan bumi beserta isinya untuk manusia. Agar dapat hidup dengan bahagia sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

              “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”.

              Nikmat terakhir dan paling besar adalah nikmat Agama. Agama di turunkan oleh Allah untuk mengatur hidup manusia. Didalam agama ada aturan-aturan, ada perintah dan ada pula larangan. Jika manusia berpegang pada peraturan-peraturan agama maka hidup mereka akan aman, damai dan bahagia, tetapi kebanyakan dari manusia tidak mengetahuinya.

              Secara jujur, jika seorang manusia mau sejenak untuk merenung, memikirkan nikmat yang telah Allah berikan padanya, maka ia akan sadar bahwa ibadah yang ia lakukan seumur hidup tidak akan dapat membayar nikmat Allah yang paling kecil. Renungkanlah! Apakah masa sakit yang kita rasakan lebih banyak dari masa sehat? Apakah rasa lapar lebih lama dari pada rasa kenyang? Apakah sedih lebih banyak dari senang? Ternyata, sehat, kenyang, senang jauh lebih banyak daripada sakit, lapar dan sedih. Oleh karena itulah Allah sekali-kali memberikan cobaan kepada manusia berupa rasa sakit, lapar, sedih dan sebagainya agar ia ingat bahwa ia adalah manusia lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa, dan Agar ia bersyukur. Maka sungguh sangat tepat sekali jika Allah memberikan azab yang pedih bagi mereka yang lupa diri dan ingkar nikmat sebagaimana firman Allah yang artinya :

              “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim :7) Wallohua’lam

              Februari 27, 2009

              Saatnya Indonesia bayar hutang dukungan ke Palestina

              File sejarah ini saya dapat dari blog sebelah.  Dan saya pikir, sejarah ini adalah salah satu dari sejarah yang mayoritas kita tidak tahu dan tentunya sangat penting untuk kita ketahui bersama.

              *****

              Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?

              Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari.

              Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.

              Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

              Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

              M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

              Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:

              “.., pada 6 September 1944 [sic!], Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut- turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.

              Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..” (Padahal Palestina ketika itu juga berada di masa-masa sulit, karena masa-masa perang melawan Penjajah Inggris dan Yahudi)

              Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.

              Dukungan Mengalir Setelah Itu

              Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

              Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur- Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.

              Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.

              Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih – tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

              Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:

              “Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”

              Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

              Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita..(Ada bukti foto bung Hatta, Hj Agus Salim, Mufti Palestina, dan pemimpin Mesir supaya kita kenal wajah wajah dari tokoh pembela Indonesia ini)

              Statement Tokoh dalam buku ini:

              Dr. Moh. Hatta

              “Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.”

              A.H. Nasution

              “Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ‘45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

              “Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur.” (HR Bukhari)

              *****

              aminhusaini_panitiapusatkemerdekaan-ind

              Mufti Besar Palestina M. Amin Husaini dengan Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia (Panitia yang menjadi cikal bakal Kedutaan Indonesia di Mesir)

              resepsipengakuankemerdekaan

              Resepsi pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Mesir, 9 Juni 1947, a.l. dihadiri oleh H. Agus Salim, Raja Saudi, dan Mufti Palestina.

              Allahu Akbar…!!!

              Februari 13, 2009

              Keistimewaan Palestina dalam persepsi islam

              Tanah Palestina memiliki status yang cukup istimewa dalam persepsi Islam, status yang membuatnya menjadi pusat perhatian kaum muslimin dan menjadi tambatan hati mereka. Berikut kami isyaratkan beberapa point yang menjadikan Palestina memiliki status istimewa dalam Islam.

              1. Di Palestina ada Masjid al Aqsha al Mubarak.

              Masjid al Aqsha merupakan qiblat pertama kaum muslimin dalam shalat mereka. Selain itu, al Aqsha dianggap sebagai masjid ketiga baik status maupun kedudukanya setelah masjidil Haram dan masjid Nabawi. Disunnahkan untuk pergi dan mengunjunginya, shalat di dalamnya dilipatgandakan sampai 500 kali shalat di masjid lain. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh memaksakan perjalanan kecuali pergi ke tiga masjid: al Masjidil Haram, masjid saya ini (masjid Nabawi – petj.) dan al Masjidil Aqsha.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat di Masjidil Haram sebanding dengan 100 ribu kali shalat, dan shalat di masjid saya sebanding dengan 1000 kali shalat, dan shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha) sebanding dengan 500 kali shalat.” Diriwayatkan dari al Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pertama kali tiba di Madinah adalah mengunjungi kerabatnya (keluarga ibunya, pent) dari Anshar, bahwasanya beliau shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis.”

              Imam Thabari dalam kita tarikhnya meriwayatkan dari Qatadah berkata, “Mereka (kaum muslimin Madinah) shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis, sedang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam waktu itu berada di Mekah belum hijrah. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah beliau shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 16 bulan, kemudia setelah itu kiblat berubah ke arah Ka’bah Baitul Haram.”

              Diriwayatkan dari Abu Dzar al Ghifari radhiyallahu ‘anhu berkata, saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masjid yang pertama kali dibangun di atas bumi, beliau bersabda, “al Masjidul Haram.” Saya bertanya, kemudian apa lagi?, beliau menjawab, “al Masjidul Aqsha.” Dan dari Maimunah (hamba sahaya yang dimerdekakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) radhiyallahu ‘anhu berkata, wahai Rasulullah berikan fatwa kepada kami mengenai Baitul Maqdis. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Datangilah ia dan shalatlah kalian didalamnya. Sekiranya kalian tidak bisa datang dan shalat di sana maka kirimlah minyak untuk pelita-pelitanya.”

              Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa memulai haji atau umrah dari Masjidil Aqsha sampai ke Masjidil Haram, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang,” atau dalam riwayat lain, “Dia berhak mendapatkan surga.” Kemudian beliau bersabda, “Allah merahmati orang yang berihram dari Baitul Maqdis (yakni ke Mekah).” Juga diriwayatkan oleh al Baihaqi dan Ibnu Hibban di dalam kitab shahihnya yang lafadznya, saya mendegar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa memulai umrah dari Masjidil Aqsha, diapuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.” Dikatakan, kemudian Ummu Hakim berangkat ke Baitul Maqdis dan memulai umrah dari sana.

              2. Palestina adalah tanah yang diberkati Allah subhanahu wa ta’ala.

              Hal ini sesuai dengan apa yang ditegaskan dalam al Quran al Karim,

              سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَآ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

              Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

              Allah berfirman,

              وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى اْلأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

              “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.”

              Ibnu Katsir berkata, maksudnya adalah negeri Syam.

              Allah berfirman,

              وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى اْلأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَكُنَّا بِكُلِّ شَىْءٍ عَالِمِينَ

              Artinya: “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.”
              Ibnu Katsir Berkata: maksudnya adalah negeri Syam.

              Allah berfirman,

              وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِىَ وَأَيَّامًا ءَامِنِينَ

              Artinya: “Dan kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan.Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.”

              Ibnu Abbas berkata, maksud dari al qura allati barakna fiha (antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya ) adalah Baitul Maqdis. Berkah di sini bisa berarti secara fisik dan maknawi; berupa buah-buahan yang dihasilkan maupun kekayaan alamnya, atau kekhususan status dan kedudukannya juga karena Palestina merupakan tempat diutusnya para nabi dan tempat turunnya para malaikat.

              3. Palestina adalah tanah suci.

              Ini berdasarkan nash al Quran, di mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman lewat lisan Nabi Musa ‘alaihis salam,

              يَاقَوْمِ ادْخُلُوا اْلأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَلاَ تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنقَلِبُوا خَاسِرِينَ

              Artinya: “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.”

              Az Zajjaj berkata, yang dimaksud dengan ardhul muqaddasah adalah tanah suci (at thahirah). Konon dinamakan muqaddasah karena bersih dari kesyirikan dan dijadikan tempa tinggal bagi para nabi dan orang-orang beriman. Al Kalabi berkata, yang dimaksud ardhul muqaddasah adalah Damaskus, Palestina dan sebagian Yordania. Qatadah berkata, yang dimaksud adalah seluruh negeri Syam.
              4. Palestina adalah tanah para nabi dan tempat diutusnya mereka.

              Di antara para nabi dan rasul yang pernah hidup di Palestina, seperti disebutkan dalam al Quran al Karim, adalah Ibrahim dan Ismail, Ishak, Ya’qub, Yusuf dan Luth, Dawud, Sulaiman, Shaleh, Yakariya, Yahya dan Isa ‘alaihimus salam. Dan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mengunjunginya. Juga telah tinggal di Palestina nabi-nabi Bani Israel; kaum yang memang banyak dihiasi oleh nabi-nabi, setiap kali nabi wafat Allah utus nabi baru. Dan di antara nabi mereka yang tersebut di dalam hadits shahih adalah Nabi Yusha’ ‘alaihis salam. Oleh karena itu, mana kala kaum muslimun membaca al Quran al Karim mereka merasakan adanya ikatan yang agung antara diri mereka dengan tanah suci Palestina ini, karena pertarungan antara yang hak dan yang bathil terpusat di tanah ini. Karena mereka juga meyakini bahwa mereka adalah pengusung warisan para nabi dan yang mengangkat panji-panji mereka.

              Di Palestina banyak pemakaman, peninggalan, dan penziarahan para anbiya’. Semua itu mengabadikan kenangan tinggal dan kunjungan mereka di tempat-tempat ini. Ibrahim yang merupakan bapak para nabi, namanya diabadikan untuk sebutan sebuah kota terpenting di Palestina, yaitu al Khalil (Hebron). Petilasannya ada di kota ini di dalam al Haram al Ibrahimi. Untuk nabi Shaleh, ada tujuh tempat yang mengabadikan kenangan bahwa dia pernah tinggal di Palestina, salah satunya ada di Ramelah, di sini ada musim ziarah tahunan yang amat terkenal yaitu pada bulan April setiap tahun. Ada sebuah desa di pinggiran kota Tulkarm bernama Ertah, secara estafet dari generasi ke generasi orang menyebut bahwa nabi Ya’kub pernah beristirahat (Irtaha) di sana.

              Di Palestina ada lebih dari satu maqam (petilasan) Nabi Syu’aib. Ada tempat yang sangat terkenal petilasan Nabi Musa ‘alaihis salam dekat Jericho (Ariha). Di al Quds ada makam Nabi Dawud ‘alaihis salam. Sementara Nabi Isa ‘alaihis salam memiliki lebih dari satu tempat yang mengabdikan kenangannya di al Quds, Bethelehem, Nashira dan yang lainnya.

              5. Palestina adalah tempat isra’nya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

              Allah subhanahu wa ta’ala telah memilih Palestina sebagai tempat isra’nya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Dari sini pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermi’raj ke langit. Dengan peristiwa ini Allah memuliakan dan mengagungkan Masjidil Aqsha dan tanah Palestina, dengan menjadikan Baitul Maqdis sebagai pintu menuju langit. Di Masjidil Aqsha Allah kumpulkan para nabi bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat berjama’ah yang diimami oleh beliau. Semua itu adalah bukti-bukti kelangsungan risalah tauhid yang dibawa oleh para nabi, juga berpindahnya imamah, kepemimpinan dan tanggungjawab risalah (misi) kepada umat Islam.

              Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya diberi Buraq kemudian saya tunggangi hingga sampai di Baitul Maqdis terus saya ikat dengan rantai yang biasa digunakan para nabi untuk mengikat. Kemudia saya masuk masjid dan shalat dua rakaat. Selanjutnya saya dibawa mi’raj menuju langit.”

              Kaum muslimin berkeyakinan bahwa ziarah rasulullah ke Baitul Maqdis yang saat itu dibawah penjajahan Romawi ketika isra’ dan mi’raj memiliki arti tersendiri. Ini merupakan isyarat dari Allah SWT terhadap nabinya untuk bangkit dan membebaskan Palestina dari penjajahan Romawi serta menegakkan syariat islam di sana. Oleh karena itulah, Rasulullah kemudian mengirim pasukan ke Mut’ah (yang terkenal dengan Gazwah Mut’ah) bahkan Rasulullah memimpin langsung tentara islam pada perang Tabuk. Kemudia beliau juga mepersiapkan tentara dibawah pimpinan Usamah bin Dzaid bin Tsabit sebelum ia dipangil oleh Allah SWT. Setelah Rasulullah meninggal dunia, khalifah Abu Bakar langsung mengirimkan tentara yang telah dipersiapkan oleh Rasulullah, bahkan Khalifah mengirimkan empat pasukan besar untuk membebaskan Baitul Maqdis hingga berhasil di bebaskan setelah 700 tahun dibawah penjajahan Romawi.

              6. Para Malaikat mengepakkan sayapnya di atas tanah Palestina.
              Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Duhai, beruntungnya negeri Syam. Duhai, beruntungnya negeri Syam.” Kemudian para shahabat bertanya, kenapa bisa begitu wahai Rasulullah? Beliau bersabda, “Mereka para malaikat Allah mengepakkan sayapnya di atas negeri Syam.” Dan Palestina adalah bagian dari negeri Syam.

              7. Palestina adalah tanah Mahsyar dan Mansyar (tempat dikumpulkan dan disebarkan) manusia.

              Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad dari Maimunah binti Sa’d radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Wahai Nabi Allah, fatwakan kepada kami mengenai Baitul Maqdis. Beliau bersabada, “Tanah Mahsyar dan Mansyar.”

              8. Palestina adalah rumah negeri Islam saat terjadi cobaan dan fitnah begitu dahsyat.

              Dari Salamah bin Nufail berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rumah negeri Islam adalah di Syam.” Dan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Saya melihat tiang-tiang al Kitab (al Quran) tercerabut dari bawah bantalku. Maka saya lihat ketika tiba-tiba ada cahaya yang berkilauan menyangga menuju Syam, ketahuilah iman itu ada di Syam ketika terjadi fitnah.”

              9. Orang yang tinggal di Palestina dinilai layaknya mujahid dan murabith (penjaga keamanan dari serangan musuh) di jalan Allah.

              Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Penduduk Syam beserta istri-istri, keluarga, hamba sahaya mereka baik yang laki-laki mapun perempuan, sampai ujung pulau adalah para murabith di jalan Allah. Maka barang siapa menduduki salah satu kota dari kota-kotanya maka dia sedang murabith, dan barang siapa menduduki satu benteng kota maka dia dalam jihad.”

              10. Banyak hadits yang saling menjelaskan dan menguatkan bahwa thaifah manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan) yang konsisten dalam kebenaran (al haq) ada di Syam, khususnya di Baitul Maqdis dan sekitarnya.

              Diriwayatkan dari Abu Umamah, secara marfu’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Akan tetap ada sekelompok umatku berada dalam kebenaran, tak terkalahkan oleh musuh-musuhnya sampai datangnya putusan Allah sedang mereka tetap demikian.” Kemudian ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, dimanakah mereka?” Beliau bersabda, “Baitul Maqdis dan daerah sekitarnya.”   wallohua’lam

              Februari 1, 2009

              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam 1871-1935

              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam lahir di sebuah daerah bernama Jableh di Syiria pada tahun 1871 M/1288 H dari keluarga arab muslim. Kemudian mengecam pendidikan di Al-Azhar Kairo sejak berumur 14 tahun dan di tetapkan sebagai staf pengajar di Mesjid Jami’ Jableh di Syiria.

              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam merupakan salah seorang ulama islam yang berkeyakinan bahwa hanya jihad dan peranglah satu-satunya jalan untuk melawan musuh yang telah menjajah tanah air dan mengotori tempat-tempat suci. Dan tidak ada kemulian pada seorang muslim yang tunduk pada musuh atau berteman dengan mereka atau mencintai mereka, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:


              “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

              http://fc01.deviantart.com/fs30/f/2008/139/b/1/AlQassam_Wallpaper_by_artstuck.png Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam pindah ke Palestina setelah pemberontakan yang di pimpin oleh Muhammad Al Baithar di Syiria berhasil di padamkan oleh Penjajah Prancis. Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam tinggal di sebuah desa dekat dengan Haifa bersama Shaikh Muhammad Al Hanafy dan Ali Al Hajj Ubaid. Dilahan jihad yang baru ini Shaikh Al Qassam menjadi staf pengajar di salah satu madrasah Haifa. Beliau juga bergabung dengan Jam’yyah As Syubban al Muslimin dan terpilih menjadi ketua umum pada tahun 1928. semua ini beliau lakukan untuk menutupi gerakan jihad yang ia rintis dari pengetahuan penjajah Inggris dan agar dapat berhubungan langsung dengan seluruh lapisan masyarakat.

              Gerakan jihad yang dipelopori oleh Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam dimulai dengan mendidik pemuda-pemuda islam dengan pendidikan islami, menanamkan akidah islam pada jiwa mereka, menyelesaiakan perselisihan-perselisihan yang ada dan menjelaskan kepada umat islam bahaya hijrah Yahudi ke Palestian dan bahaya diakibatkan oleh penjualan tanah kepada yahudi serta menjelaskan kejahatan-kejahatan yang di lakukan oleh penjajah Inggris di Palestina. Semua itu beliau lakukan disaat-saat mengajar di madrasah, disaat khutbah di mesjid dan pelajaran-pelajaran lain yang beliau adakan di mesjid-mesjid. Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam juga mengadakan sekolah malam untuk mengajar orang-orang yang buta huruf serta berkumpul bersama sahabat-sahabatnya untuk membicarakan ide-ide jihad fi sabilillah.

              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam juga mengkritik ulama-ulama islam di masa itu yang mengabaikan atau tidak bersungguh-sungguh dalam menyerukan jihad fisabilillah melawan penjajah. Menurut beliau para ulama islam termasuk orang yang sangat bertanggungjawab atas penjajahan Inggris di palestina karena mereka tidak menyerukan kepada jihad untuk melawan penjajah Inggris dan Yahudi Internasional, padahal mereka jelas-jelas berusaha menghancurkan islam, memisahkan antara agama dan politik dan berusaha untuk menjadikan agama laksana tengkorak yang tidak bernyawa.

              http://fc01.deviantart.com/fs30/f/2008/139/b/1/AlQassam_Wallpaper_by_artstuck.png

              Semakin lama, gerakan Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam ini mulai tercium oleh penjajah Inggris. Inggris kemudian mengirim mata-mata untuk mengawasi gerakan Shaikh Al Qossam, hingga pimpinan militer Inggris di Haifa mengirim surat kepada Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam yang isinya :

              “Shaikh…! Kenapa Anda bergerak untuk melawan kami?”
              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam kemudian mengeluarkan mushaf dari saku jubahnya dan berkata :”kitab inilah yang menyuruh kami untuk berjihad dan kami sekali-kali tidak akan melanggarnya”.

              Dakwah Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam akhirnya membuahkan hasil. Banyak diantara pemuda-pemuda palestina yang ikut bergabung. Perang pun berkobar sejak awal tahun 1935 H. Janin, Nablus dan Tulkarem Palestina menjadi saksi bisu atas penculikan-penculikan tentara-tertara Inggris oleh para pejuang, peledakan kereta api, penyerangan terhadap tentara Inggris serta pembunuhan terhadap penghianat-penghianat yang bekeja untuk kepentingan penjajah. Semua ini dilakuan di kegelapan malam dengan sangat rapi dan terorganisir yang menyebabkan kerugian besar di pihak penjajah.

              Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam adalah salah seorang ulama yang sangat dihormati, jujur serta berakidah yang lurus. Beliau bukan tipe orang orang berdakwah kepada jihad tetapi tidak ikut berjihad atau tipe orang yang membiarkan santri-santrinya berperang tetapi ia tidak ikut berperang sebagai mana yang dilakukan oleh kebanyakan orang saat ini. Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam sendiri terjun langsung ke medan pertempuran bersama pejuang-pejuang lainnya untuk melawan penjajah Inggris dan Yahudi Internasional.

              Penjajah inggris akhirnya berhasil mengepung Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam bersama sahabat-sahabat serta santri-santrinya yang mengakibatkan terjadinya pertempuran dahsyat antar tentara yang memperjuangkan kebenaran dan tentara yang memperjuangkan kebathilan di Janin Palestian. Perang berakhir pada tanggal 25 november 1935 M1354 H. Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam dan sebagain sahabat-sahabatnya gugur sebagai syahid dan sisanya di tahan oleh tentara penjajah inggris serta disiksa didalam tahanan dalam waktu yang lama.

              Dari kisah perjuangan Shaikh As Syahid Izzuddin Al Qassam kita bisa mengambil pelajaran bahwa perjuangan dengan mengangkat senjata adalah satu-satunya jalan menuju Bait al Maqdis, hanya jihad (perang) lah yang dapat menggoncang musuh bersama para penghianat-penghianat lainnya. Adolf Hitler mengirim surat kepada rakyat jerman pada tahun 1936 M yang isinya :

              “Wahai rakyat jerman! Jadikanlah arab Palestina sebagai contoh bagi kalian. Mereka berjuang melawan Inggris dan yahudi internasional dengan semangat yang membara padahal tidak seorangpun yang ikut menolong mereka. Adapun kalian, sungguh dunia ada dibekanmu”.

              Juga Wilson (salah seorang komandan militer inggris di beberapa medan pertempuran melawan rakyat Palestina) berkata:”sungguh 500 orang arab Palestina yang mengobarkan perang gerilya, tidak akan bisa dikalahkan hanya dengan satu divisi (satuan militer yang terdiri dari 3 sampai 5 brigade yang jumlah anggotanya 10.000 sampai 15.000 orang) yang bersenjata lengkap”.

              Jika semua pemimpin-pemimpin Islam membaca sejarah dan mengambil pelajaran dari sejarah tentu Israel tidak akan berani mengambil satu jengkal pun tanah Palestina apalagi sampai membunuh lebih dari 1330 syuhada dan mencederai lebih dari 6000 orang palestina. Kita berdoa semoga Allah membangkitkan pejuang-pejuang yang mencintai Allah dan Rasulnya serta dicintai oleh Allah dan rasulnya yang akan membebaskan Palestina dari cengkeraman musuh.

              Referensi

              القرآن الكريم

              ثورة عز الدين القسام وأثرها في الكفاح الفلسطيني, عوفي العبيدي, مكتبة المنار, الأردن

              الإسلام بين العلماء والحكام, عبد العزيز البدوي

              جهاد شعب فلسطين خلال نصف القرن, صالح مسعود أبو بصير, دار الفتح للطباعة والنصر, بيروت

              الطريق إلي بيت المقدس, جمال عبد الهادي محمد مسعود ووفاء محمد رفعت جمعمة, دار التوزيع والنشر الإسلامية, القاهرة

              www.ar.wikipedia.org

              Januari 31, 2009

              Duhai Pemuda Islam Bangkitlah! (2)

              Musibah yang paling berbahaya wahai saudara-saudaraku sekalian, bahwa kita melawan mereka tanpa strategi dan tanpa hidayah. Rakyat Vietnam telah berperang melawan Amerika ketika Amerika menjajah tanah air mereka. Rakyat Vietnam yang tidak percaya kepada tuhan melawan Amerika dengan tombak, panah, kampak dan apa saja yang mereka miliki hingga mereka berhasil mengusir penjajah Amerika. Tetapi rakyat Vietnam tetap dalam kekafiran, kebodohan dan kesesetan. Maka siapa saja yang mati dari mereka sebelum Amerika menjadi penduduk neraka, yang mati di antara mereka ditangan penjajahan Amerika menjadi penduduk neraka dan yang mati diantara mereka setelah penjajahan Amerika juga menjadi penduduk neraka.

              Maka yang menjadi permasalahan bukanlah permasalahan perang saja, tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah kamu berperang untuk apa? Apa yang menjadi pendorongmu? Apakah yang mendorong kamu untuk berperang emosi, fanatisme, balas dendam ataukah dasar-dasar agama atau kaidah-kaidah islam atau masyru’ robbany qur’any?

              Perang adalah permasalah yang paling ringan dari seluruh permasalahan saat ini. Karena orang-orang kafir adalah pengecut dan penakut. Mereka tidak akan kuat berhadapan dengan umat islam di medan pertempuaran, Kalaulah bukan karena peralatan dan amunisi yang mereka miliki, persenjataan-persenjataan yang ada pada mereka dan roket2x yang mereka tembakkan dari jauh, bom tandan dan persenjataan-persenjataan modern lainnya, demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia anak kecil dari anak-anak kita dapat mengalahkan battalion-batallion mereka. Karena mereka adalah pengecut dan takut berhadapan langsung dengan kaum mujahidin.

              Perang adalah permasalah yang paling ringan dari seluruh permasalahan saat ini, kalaulah bukan karena tembok tinggi yang mereka berlindung di belakangnya, dan tank-tank yang mereka duduk diatasnya, dan pesawat-pesawat yang tidak bisa dijangkau oleh senjata-senjata kita, dan kalaulah bukan karena meriam-meriam yang menyerang kita dari laut, dan roket-roket yang ditembakkan kepada kita dari jarang ratusan kilometer, mereka tidak akan sanggup melawan kita selamanya.

              Perang adalah permasalah yang paling ringan dari seluruh permasalahan yang ada. Mereka tidak menyerang kita satu lawan satu tetapi mereka menyerang orang banyak dengan senjata-senjata modern dari jarak jauh. Kalau bukan karena itu, silahkan datang seluruh tentara Amerika, eropa dan silahkan ikut bersama mereka semua tentara kafir , demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, tentara-tentara Badar (313 orang) cukup untuk melawan tentara besar tersebut. Sesungguhnya satu kali takbir takbir dari kaum mislim yaitu dengan mengucapkan Allohu Akbar dapat melumpuhkan satu battalion musuh. Rasulullah bersabda “Nusirtu bi arro’bi masirota syahr” (Saya di tolong oleh Allah dengan rasa takut (di hati musuh) satu bulan sebelum berhadapan).

              Saudara-saudara sekalian! perang adalah permasalah yang paling ringan dari seluruh permasalahan yang ada. Sekarang saya ingin duduk bersama kamu beberepa menit dalam keterus-terangan, saling terbuka, hingga apabila kita berdiri, kita berdiri dengan hidayah dan jika kita bergerak, kita bergerak sesuai dengan hidayah, dan jika kita berperang kita berperang atas petunjuk agama, dan jika kita meninggal, kita meninggal sesuai hidayah islam. Hingga apabila kita tidak syahid, kemudian pulang ke kampung halaman, kita pulang dan terus berada di jalan yang benar. Kita tidak kembali pada zaman jahiliyyah.

              Yang saya inginkan dari kamu wahai saudara-saudaraku, mulailah introspeksi-lah dirimu. Kamu seorang pemuda islam, didalam dirimu terkandung banyak kebaikan, dan tidak ada yang menggerakkan kamu kecuali karena marah untuk membela agamamu, tanah airmu, harkat dan martabatmu dan saudara-saudaramu. Jadi yang menggerakkan kamu adalah islam.

              Kita tegaskan kalau orang-orang jepang (bom atom di Hirosima dan Nagasaki) mati maka tidak ada hubungannya dengan kita. Apakah kalian mau mengadakan revolusi (pemberontakan) untuk itu? Tentu tidak… Negara jepang adalah Negara kafir yang berperang melawan Negara kafir (Amerika), seperti perang antara Korea Selatan dan Korea Utara contohnya, atau jika terjadi perang antara Amerika dan Korea Selatan contohnya. Sebagai kaum musimin kita katakan:” ini tidak ada manfaatnya untuk kami”. Meskipun kita membenci kedzoliman dan ketidakadilan yang terjadi pada siapapun juga. Tetapi kita tidak akan menumpahkan darah kita untuk mereka, saya tidak akan mengorbankan darah dan nyawa saya untuk orang kafir, saya tidak akan mengorbankan darah dan nyawa saya untuk seorang musyrik. Barang siapa yang berperang atas dasar kabilah dan meninggal dunia maka ia meninggal dalam keadaan jahiiyyah. Bendera kabilah ialah bendera yang tidak bertujuan untuk meninggikan bendara islam dan tidak mengumandangkan islam dan tidak menyeru kepada islam dan tidak berperang untuk islam. (bersambung).

              November 22, 2008

              Hanya Islam yang memerdekakan Negeri ini

              baca : Mengapa Inggris Membom Surabaya??

              Oleh : Wildan Hasan *
              “Kalaulah suatu penduduk Negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah, niscaya kami akan membuka kan berkah buat mereka dari langit dan dari bumi…” (Al-A’raf : 96)

              Setiap tanggal 10 November rakyat Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan Nasional. 10 November sebuah tanggal yang monumental buah perjuangan arek-arek Suroboyo di bawah pimpinan pejuang besar kemerdekaan, Bung Tomo. Namun naas, karena sejarah milik penguasa. Nasib Bung Tomo tiada ubahnya bak pesakitan dan pengkhianat bangsa. Ia di penjara oleh rezim yang berkuasa. Namun pula akhir sejarah Allah yang menentukan, Bung Karno kena tulah dari ucapannya yang terkenal “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya”.

              Ia terjungkal dari kekuasaan dengan cara yang mengenaskan dan jadi pesakitan yang sebenarnya. Hal yang sama terjadi kepada penggantinya, Soeharto.

              Bung Tomo Jum’at 7 November lalu akhirnya ditetapkan oleh pemerintah sebagai pahlawan Nasional bersama Dr. Mohammad Natsir dan KH. Abdul Halim. Ketiga Mujahid pejuang kemerdekaan ini-seandainya masih hidup-mungkin akan bergumam “ah, malu aku. Hanya seperti inikah kemampuan pelanjutku dalam menghargai perjuangan yang berdarah-darah itu?” Bukan berarti mereka mengharapkan penghargaan. Terlintas di pikiran pun tentunya tidak.

              Dr. Mohammad Natsir seorang Ulama besar yang diakui dunia, da’i, pendidik dan politisi ulung yang mempersatukan negara-negara boneka buatan kolonial Belanda dengan mosinya yang terkenal, Mosi Integral Natsir menjadi Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI). Mosi yang disebut-sebut sebagai proklamasi kemerdekaan Indonesia yang kedua setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Akhirnya dipercaya menjadi Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan di tiga kabinet yang berbeda masa Soekarno. Dimana menurut pengakuan Bung Hatta, Bung Karno tidak pernah mau menandatangani surat-surat pemerintah jika tidak disusun oleh Natsir.

              KH. Abdul Halim Ulama kharismatik asal Majalengka Jawa Barat – penulis sendiri lahir dan besar di kota yang sama merasakan kharisma beliau yang begitu kuat pada masyarakat setempat – melahirkan banyak para pejuang kemerdekaan dengan metode pendidikannya yang khas.


              Inggris tidak bisa membendung kegigihan Arek Arek Soeroboyo, akhirnya mengeluarkan pengumuman “Genjatan Saja. baca : Lihat Galeri “Battle of Surabaya”

              Mari kita kembali ke awal. Lalu apa pentingnya gelar pahlawan Nasional tersebut? Buat mereka bertiga tentu sangat tidak penting.Karena mereka adalah pahlawan dalam arti yang sebenarnya yakni yang berjuang ikhlas hanya berharap pahala dari Allah swt (pahala-wan). Karena faktor keikhlasan itulah setelah kemerdekaan diraih para kyai, ulama dan santri itu kembali melanjutkan amal mereka di sawah, lading, pesantren dan lain-lain. Sementara pemerintahan akhirnya diisi oleh mereka yang tidak ikut berjuang atau ikut berjuang tapi tidak cinta Islam

              Para pejuang kemerdekaan berjuang atas motivasi mempertahankan aqidah dan memperjuangkan agama Allah di bumi ini. Maka ketika adanya penjajahan yang otomatis akan merusak aqidah, umat Islam bangkit melawan. Jelas benar bahwa pejuang kemerdekaan seluruhnya adalah kaum muslimin tidak yang lain. Hanya umat Islamlah yang memerdekakan Negeri ini dari penjajahan. Karena buat kaum muslimin saat itu perjuangan kemerdekaan adalah jihad fi sabilillah. Mereka sangat menyadari bahwa akan tetapi hidup di sisi Allah sekalipun syahid di medan perang. Allah swt berfirman, “Laa tahsabanna ladziina qutiluu fii sabiilillahi amwaatan bal ahyaaun ‘inda Robbihim yurzaquun…” (Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Rab mereka dengan diberi rezeki…)

              Maka tidak lain dan tidak bukan, Islamlah yang memerdekakan Negeri ini. Seluruh pejuang kemerdekaan beragama Islam. Menurut penelitian Guru Besar Sejarah UNPAD Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara; tokoh pejuang kemerdekaan asal wilayah timur Nusantara Thomas Mattulesy ternyata bernama Muhammad atau Ahmad Lesy seorang muslim. Kenapa demikian, karena wilayah timur Indonesia dari dulu sampai saat ini komposisi muslim dan non-muslim seimbang bahkan pada awalnya hanya ada Islam. Tidak benar jika dikatakan bahwa wilayah timur mayoritas non muslim. Bahkan Islamlah yang pertama kali menapakkan kaki di wilayah tersebut. Kata ‘Maluku’ sendiri diambil dari bahasa muluk (Raja-Raja), wilayah maluku saat ini dan Papua awalnya dikuasai dan diperintah oleh para Raja Islam (Sultan) sebelum akhirnya datang misionaris-misionaris Kristen yang mempertahankan adat dan tradisi jahiliyyah di wilayah tersebut. Sehingga upacara-upacara kemusyrikan dan pakaian yang tidak syar’i dipertahankan dengan dalih pelestarian budaya.


              Kegiatan Dakwah “Majelis Muslim Papua”


              Prosesi massal “Syahadat” para Mualaf

              Tragisnya ternyata hal itu dilanjutkan secara legal oleh pemerintah kita hingga detik ini. Padahal, menurut para Da’i Dewan Da’wah yang bertugas di sana termasuk Ustadz Fadhlan Garamatan seorang Da’i putra asli daerah, warga Papua-contohnya-sebenarnya malu dan tidak ingin lagi memakai koteka. Namun demi pelestarian budaya daerah, pemerintah tetap mantap dalam pembodohan struktural terhadap rakyatnya tersebut. Ustadz Fadhlan menggambarkan betapa warga pedalaman Papua begitu senang bisa mandi menggunakan sabun sebelum mereka di syahadat-kan. Sebelumnya mereka mandi dengan melumuri badannya dengan minyak babi atas petunjuk para misionaris Kristen.

              Raja Sisinga Mangaraja juga adalah muslim yang taat. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, tidak benar kalau raja Sisinga Mangaraja adalah penganut agama leluhur tapi dia adalah seorang muslim yang taat. Termasuk para pejuang Nasional yang kita kenal, mereka semuanya muslim. Pangeran Diponegoro adalah Ustadznya Istana dan para penasihatnya adalah para Kyai. Imam Bonjol, Cut Nyak Dien dan lain-lain semuanya adalah para ulama dan santri.

              Konsekuensinya umat-umat yang lain khususnya umat Kristiani tidak punya andil sama sekali dalam perjuangan kemerdekaan. Umat Kristiani tidak mungkin akan bangkit berjuang melawan penjajah. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi sementara agama yang dianutnya dengan agama para penjajahnya sama? Akankah mereka akan membunuh saudara seimannya? Lebih-lebih kita tahu Kristen disebarkan melalui penjajahan. Bagi yang mengerti sejarah hal ini adalah fakta yang teramat jelas. Jadi sungguh mengherankan ketika mereka menuntut lebih bahkan sedikitpun sebenarnya mereka tidak berhak, ketika faktanya mereka tidak punya saham apapun dalam perjuangan kemerdekaan.

              Katakan dulu di BPUPKI dalam persiapan kemerdekaan Indonesia tercantum nama Maramis dan Latuharhary dua orang perwakilan umat Kristiani, sungguh faktanya masih buram. Jika benar mereka ada (bukan fiktif), apakah mereka tidak malu mengaku-ngaku tapi tidak memiliki kemerdekaan, atau menurut beberapa sumber mereka sengaja mendompleng atau didomplengkan oleh Soekarno agar terlihat bahwa umat Kristiani juga punya peran dalam kemerdekaan Republik ini. Fakta selanjutnya, mereka termasuk yang menolak Piagam Jakarta.

              Begitu besarnya peran umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan, dalam bukunya ‘Menemukan Sejarah’ Ahmad Mansur Suryanegara menuliskan beberapa data di antaranya :

              1. Pengakuan George Mc Turner Kahin seorang Indonesianis (Nationalism and revolution Indonesia) bahwa ada 3 faktor terpenting yang mempengaruhi terwujudnya integritas Nasional; 1) Agama Islam dianut mayoritas rakyat Indonesia, 2) Agama Islam tidak hanya mengajari berjama’ah, tapi juga menanamkan gerakan anti penjajah, 3) Islam menjadikan bahasa Melayu sebagai senjata pembangkit kejiwaan yang sangat ampuh dalam melahirkan aspirasi perjuangan Nasionalnya.
              2. Bahwa pelopor gerakan Nasional bukan Budi Utomo tetapi Syarekat Islam (SI) yang memasyarakatkan istilah Nasional dan bahasa Melayu ke seluruh Nusantara, anggotanya beragam dan terbuka. Sementara Budi Utomo; menolak persatuan Indonesia, memakai bahasa Jawa dan Belanda dalam pergaulannya, bersikap eklusif di luar pergerakan Nasional dan keanggotaannya hanya untuk kalangan Priyayi (Bangsawan/ningrat) saja.
              3. Pelopor pembaharuan sistem pendidikan Nasional adalah Muhammadiyah (1912) 10 tahun lebih awal dari taman Siswa (1922). Muhammadiyah sudah memakai bahasa Melayu sementara Taman Siswa berbahasa Jawa dan Belanda.
              4. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dipelopori oleh para pemuda Islam atas prakarsa para ulama dalam rapat Nasional PSII di Kediri pada 27-30 September 1928. Dan masih banyak lagi-lagi fakta-fakta lain yang belum terungkap…

              Pada hakikatnya dan seharusnya Negeri ini adalah Negeri Islam. Karena salah satu sumber hukum positif di Negeri ini adalah Syariat Islam. Dicantumkannya Piagam Jakarta dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sebagai menjiwai UUD 1945 oleh Soekarno menjadi dasar sahih keharusan Negeri ini diatur oleh syari’at Islam selain faktor histories yang sudak dikemukakan di atas. Maka sebelumnya, saat ini dan seterusnya seluruh produk perundang-undangan yang lahir harus mengandung nilai-nilai syari’at.

              Dengan dasar tersebut sungguh tidak logis dan inkonstitusional jika ada sebagian kalangan yang menggugat perda-perda bernuansa Syariah termasuk UU Pornografi yang juga sebenarnya belum murni syari’ah. Tanpa malu-malu mereka bisanya hanya mengancam akan berpisah dari NKRI, seolah-olah NKRI membutuhkan mereka. Mereka harus berpisah diri-diri mereka saja, karena wilayah timur atau wilayah manapun di Negeri ini adalah milik umat Islam.

              Negeri ini lahir atas buah karya keikhlasan para mujahid pejuang kemerdekaan atas Berkat Rahmat Allah. Sebagaimana tercantum dengan tegas dalam Pembukaan UUD 1945 “Atas Berkat Rahmat Allah swt….” Karena jika tidak atas Berkat Rahmat Allah swt tidak mungkin bambu runcing dapat menang melawan senjata-senjata otomatis penjajah.

              Para muarrikhin (sejarawan) mengatakan “sejarah selalu milik penguasa”. Perjuangan seorang Mohammad Natsir dan kawan-kawan yang berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan dan mempersatukan Indonesia dalam NKRI banyak tidak diketahui oleh para pewarisnya (rakyat Indonesia), karena Natsir memperjuangkan Islam sebagai dasar Negara sementara para penguasa tidak menginginkannya.

              Sebagian besar dari kita atau anak-anak kita di sekolah tidak mengenal sosok para mujahid tersebut. Dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional maka sudah menjadi keharusan materi sejarah diluruskan di buku-buku sejarah anak-anak kita. Hal yang sebenarnya paling ditakuti oleh penguasa dimana pemikiran dan perjuangan sosok-sosok itu dibaca dan akan membangkitkan ruh jihad di dada-dada generasi Islam. Sehingga gelar pahlawan yang secara otomatis pengakuan konstitusional senantiasa diulur-ulur.

              Mereka khawatir jika saat keluar dari kelas para siswa akan memekikkan takbir Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar !!!

              * Forum Kajian Muhammad Natsir For World Civilization

              November 18, 2008

              HADITS TENTANG 4 HAL YANG TELAH DITENTUKAN OLEH ALLAH SWT

              Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits shahih yang berbunyi:

              عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ الله ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ .

              Diriwayatkan dari bapak Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Mas’ud ra. Katanya: Telah menceriterakan kepada kami Rasulullah saw ( orang yang selalu benar dan dibenar kan) :”sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat pulah hari berupa air mani. Kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari. Lalu diutus seorang malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkan ruh kepadanya dan malaikat tersebut diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu: menulis rizkinya, batas umur-nya, pekerjaannya dan kecelakaan atau kebahagiaan hidupnya”.

              Hadits di atas ini adalah berita dari Allah swt. kepada seluruh manusia lewat Rasulullah saw yang menerangkan bahwa hakekat dari rizki, umur, pekerjaan dan kebahagiaan atau kecelakaan termasuk jodoh telah ditentukan oleh Allah SWT sebelum seseorang lahir ke dunia. Apapun yang telah Allah ketahui dan tetapkan pada setiap manusia maka tidak akan pernah berubah, dan hanya Allah lah yang mengetahui apa yang telah terjadi dan yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Tetapi meskipun demikian bukan berarti kita hanya tinggal menunggu, malas-malasan dengan alasan sudah ditentukan. Karena hanya Allahlah yang tahu hakikatnya. Oleh karena itulah Allah dan Rasulnya menyuruh setiap orang untuk terus berikhtiar, berusaha serta melakukan pekejaan yang dapat mengantarkan dirinya kepada cita-citanya, setiap orang muslim harus berpegangan kepada rahmat Allah yang sangat luas yang dengan rahmat tersebut Allah Maha Kuasa untuk mengabulkan dan menuruti keinginannya. Kemudian setelah orang muslim tersebut berusaha dan cita-citanya belum tercapai, baru dia ber-sandar kepada hakekat, agar jiwanya tidak stres.

              DAPATKAH KETENTUAN ITU DIUBAH.

              Mungkin terdetik didalam pikiran kita sebuah pertanyaan, apakah hal-hal yang telah ditentukan oleh Allah SWT bisa diubah atau tidak? Sebagai contoh apakah umur kita bisa bertambah panjang atau tidak?

              Rasulullah SAW bersabda:

              عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (من سره أن يبسط له في رزقه أو ينسأ له في آثره فليصل رحمه) رواه البخاري(

              Kira-kira artinya Diriwayatkan dari Anas bin Malik R.A ia berkata:” saya mendengar Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang ingin di lancarkan rezkinya atau dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi”. (HR. Bukhori)

              Dari hadits ini kita bisa pahami bahwa orang yang menyambung silaturrahmi akan Allah lancarkan rezkinya dan akan dipanjangkan umurnya. Artinya rezki dan umur bisa berubah dengan menyambung tali silaturrahmi.

              Secara sekilas kalau kita perhatikan hadits ini bertentangan dengan ayat-ayat alquran dan hadits2x Rasulullah yang menjelaskan bahwa azal, rizki dan lainnya tidak bisa dirubah, seperti firman Allah SWT:

              فإذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون

              Ayat ini dengan tegas menjelaskan bahwa tatkala azal tiba maka tak seorang pun yang bisa mengundurkan untuk sesaat maupun mempercepatnya.

              Sebenarnya hadits dan ayat tersebut tidak bertentangan. Karena kita bisa mengambil titik temu antara keduanya. Dalam hal ini sedikitnya ada dua kemungkinan:

              · Pertama, maksud tambahan umur didalam hadits tersebut dalam arti kinayah yang maksudnya berkah, artinya umurnya akan bertambah berkah karena ketaatan kepada Allah SWT termasuk didalamnya menyambung silaturrahmi. Menyambung silaturrahmi adalah salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan orang yang menyambung silaturrahmi namanya akan harum dan diingat orang lain meskipun ia telah meniggal dunia. Sama seperti orang yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain, orang yang bersedekah jariyah, dan orang yang memiliki keturunan yang shaleh yang mendoakannya.

              · Kedua, mungkin juga maksud dari tambahan dalam hadits diatas adalah dalam arti yang sesungguhnya, artinya rizki dan umurnya bertambah. Tetapi penambahan disini dalam ruang lingkup pengetahuan malaikat. Adapun ayat diatas dalam ruang lingkup pengetahuan Allah. Jadi seakan-akan Allah berkata kepada malaikat:” umur sifulan 100 tahun jika ia menyambung silaturrahmi dan 60 tahun jika tidak menyambung silaturrahmi. Padahal Allah telah mengetahui sebelumnya apakah sifulan nanti menyambung silaturrahmi atau tidak. Jadi penambahan dan pengurangan hanya terjadi dalam ruang lingkup pengetahuan malaikat saja. (Fathu Al Baari juz 11 halaman 473). Pendapat pertama kelihatannya lebih tepat untuk hadits diatas.

              Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin ketika menjelaskan hadits diatas dalam salah satu fatwanya ia mengatakan :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermaksud menganjurkan umat ini untuk melakukan sesuatu yang mengandung kebaikan. Seperti kita mengatakan ; siapa yang ingin memiliki anak, hendaklah ia menikah. Nikah telah ditetapkan, demikian pula anak telah ditetapkan. maka apabila Allah menghendaki anda memiliki anak, berarti Dia menghendaki anda menikah. Demikian pula rizki telah ditetapkan sejak azali dan juga telah ditetapkan bahwa anda akan menyambung tali silaturahim. Akan tetapi anda tidak mengetahui tentang persoalan ini, maka Nabi memotivasi dirimu. Dan Nabi menjelaskan apabila anda menyambung tali silaturahim maka Allah akan melapangkan rizki anda dan memanjangkan umur anda pula”.

              Rezki, umur, pekerjaan, kebahagiaan termasuk jodoh memang telah Allah tetapkan dan ketetapan Allah tidak akan pernah berubah. Tetapi siapa yang tahu isi ketetapan tersebut? Oleh karena itulah kita diperintahkan untuk terus berusaha, berdoa dan bertawakkal kepadaNya. Carilah rezki sebanyak-banyaknya, bekerjalah semampumu, cari jodoh yang sebaik-baiknya tapi ingat semua itu harus berada dalam ruang lingkup syari’at islam. Bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya, dan beribadahlah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok pagi. Wallohua’lam.

              November 18, 2008

              Pahala Puasa Tanpa Batas

              Pertanyaan:

              Apa makud dari “”semua amal bani adam utkny sndri keculi shaum,sesungguhny ia utk-Ku…”” dari hadits:

              Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: Allah berfirman, “Setiap amal anak Adam itu untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila salah seorang diantara kalian berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata keji dan jangan berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci makinya atau menyerangnya maka hendaklah ia mengatakan, “Sesungguhnya saya sedang berpuasa”. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh bau mulutnya orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum dari pada bau kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya, yaitu apabila ia berbuka, bergembira karena bukanya, dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, bergembira karena puasanya”. (HR Bukhari)

              Jawaban:

              Ada perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang maksud hadis ini.“Setiap amal anak Adam itu untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya”. Karena pada hakikatnya hanya Allah lah yang membalas seluruh amal ibadah hambaNya. Diantara pendapat para ulama tersebut adalah:

              Pendapat pertama: Allah mengkhususkan Puasa disini karena puasa tidak terjangkiti penyakit riya seperti ibadah lainnya. Karena puasa bukan ibadah Af’al (dalam bentuk perbuatan) tetapi ia adalah urusan hati (niat). Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Rasulullah yang artinya :”tidak ada riya didalam puasa”. Hadits ini juga riwayatkan oleh Bahihaqy dari Az Zuhry dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, Cuma isnadnya Dho’if. Jika seandainya hadits ini shohih tentu tidak ada perbedaan lagi.

              Ada yang mengatakan bahwa puasa juga bisa terjangkiti penyakit riya, yakni jika seseorang mengatakan kepada orang lain:”saya puasa”. Pernyataan ini dijawab oleh imam Ibnu Hajar Al Asqolani didalam bukunya Fathu Al Baary jilid ke 4 halaman 134 bahwa memang ia juga bisa dijangkiti penyakit riya (pamer Ibadah) tapi hanya dari jalur pemberitahuan (ia memberitahukan kepada orang lain) saja. Berbeda dengan amal ibadah lain yang bisa terkena riya dari pemberitahuan dan perbuatannya.

              Pendapat kedua: Pendapat imam Al Qurthuby, bahwa Allah SWT menjelaskan kepada kita bahwa amal ibadah apapun yang kita lakukan akan dilipat gandakan oleh Allah dari 10 kali lipat hingga 700 kali lipat sampai seterusnya (sesuai dengan kehendak Allah) kecuali puasa, Allah memberikan pahala puasa tanpa batas.

              Sebagai contoh: Rasulullah menjelaskan bahwa barang siapa membaca satu huruf al Qur’an maka ia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi 10 kali lipat. (Bahkan Rasulullah bersabda yang artinya:” Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf tetapi ALif satu huruf, Mim satu huruf dan Lam satu huruf).

              Adapun yang sampai 700 kali lipat adalah seperti firman Allah yang artinya:

              “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (AL Baqoroh : 261)

              Adapun puasa, tidak ada ketentuan khusus alias Semua diserahkan kepada Allah. Allah memberikan pahala dengan tanpa batas. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadits qudsy yang artinya :” Setiap amal ibadah anak Adam dilipat gandakan, satu kebaikan dari 10 kali lipat sampai 700 kali lipat dan seterusnya (sesuai dengan kehendak Allah) kecuali puasa (firman Allah), sesungguhnya dia adalah milikku dan Aku yang memberi balasannya”.

              Juga karena puasa disamakan dengan sabar. Puasa pada hakikatnya adalah sabar menahan hawa nafsu. Allah berfirman yang artinya :”

              ” Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az Zumar : 10)

              Wallohua’lam.

              November 12, 2008

              M. Natsir Pemimpin Islam Sejati

              M. Natsir adalah tipologi pemimpin Islam yang berpegang teguh terhadap prinsip dan cita-citanya. Tak pernah lekang oleh apapun. Sesudah Indonesia merdeka, ia berbeda pendapat dengan Presiden Soekarno, yang tak pernah mau kompromi. Sampai Partai Masyumi dibubarkan, di tahun 1960.

              Sesudah Soekarno jatuh, dan digantikan Presiden Soeharto, tak lama M. Natsir, akhirnya berbeda pendapat dengan pemimpin Orde Baru itu, sampai akhirnya ia dikucilkan oleh Soeharto sampai meninggalnya. M.Natsir dapat menjadi suri tauladan, terutama bagi generasi baru Indonesia, yang mendambakan keluhuran budi pekerti.

              Sesudah Pemilu 1955, M. Natsir membawa Partai Masyumi, yang merupakan gabungan partai-partai Islam di Konstituante, yang secara sungguh-sungguh memperjuangkan Islam sebagai dasar negara. Mereka adalah para pemimpin Islam, yang memiliki karakter dan kepribadian yang utuh, serta organisator dan pemimpin politik yang ulung. Dalam berpolitik mereka berprinsip. Dengan prinsip-prinsip Islam yang mereka yakini. Dan, mereka memperjuangkan dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Mereka tak pernah bergeser atau ‘berpirau’ dengan prinsip-prinsip politik, yang menjadi khittah perjuangan mereka.

              Waktu terjadi perdebatan di Konstituante masing-masing pemimpin partai memperjuangkan ide dan gagasannya masing-masing. M. Natsir waktu itu, menjelaskan perbedaan pokok antara sekulerisme dengan Islam. Menurut Natsir, sekulerisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan dan sikap yang hanya di dalam batas keduniaan. “Seorang sekuleris tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah ataupun oleh bekas-bekas kehewanan manusia, semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang belaka”,ujar M. Natsir.

              Selanjutnya, dalam pandangannya, yang disampaikan di depan para anggaota Konstituante, M. Natsir, menegaskan: “Jika dibandingkan dengan sekulerisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekulerisme, tidak melebihi konsep dari apa disebut humanity (perikemanusiaan).”, tegas Natsir. Lalu, ia menambahkan : “Di mana sumber perikemanusiaan itu?”.

              Para pemimpin Masyumi adalah orang-orang yang berlatarbelakang pendidikan Barat (Belanda), tapi mereka yang paling teguh dalam memegang prinsip dan cita-cita Islam. Mereka bukan pemimpin yang berasal dari sekolah agama (pesantren), tapi tak mengurangi penghargaan mereka terhadap Islam. Justru mereka yang paling gigih memperjuangkan Islam. Sesudah Partai Masyumi dibubarkan, mereka tak lantas menjadi oportunis dan pragmantis. Ketika, pergantian kekuasaan , mereka ingin tetap mendirikan Partai Masyumi. Dan, ketika gagal menghidupkan kembali, mak mereka mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Inilah tempat berkhidmat para pemimin Islam, Partai Masyumi, sampai akhair hayat mereka, termasuk M. Natsir.

              M. Natsir yang lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, tahun l908, dan meninggal,di tahun 1993, pernah menjadi Perdana Menteri di tahun l950, sesudah ‘mosi integral’, yang menyatukan Indonesia menjadi negara kesatuan. Atas jasa-jasanya yang tak terhingga, Presiden SBY, melalui Keputusan Presiden Nomor 41/TK/Tahun 2008, menetapkan M. Natsir sebagai Pahlawan Nasional. Padahal, usulan itu sudah pernah disampaikan oleh Menteri Sosial, Mintardja, diawal tahun 1970, namun Keppres itu, baru lahir bersamaan dengan peringatan 100 tahun M. Natsir.

              M. Natsir terkenal sangat bersahaja,misalnya, waktu ia menjadi Menteri Penerangan, menggunakan baju tambalan, bahkan rumahnya di Jalan Cokroaminoto, tak lain adalah hadiah Pak Idit Djunaedi, karena melihat Natsir, yang tinggal disebuah gang, dan tak layak ditempati seorang perdana menteri. Ia juga menolak hadiah mobil Chevy Impala dari cukong. Dan, satu-satunya pejabat pemerintah, yang pulang dari Istana yang membonceng sepeda sopirnya, sesudah menyerahkan jabatan perdana menteri kepada Presiden Soekarno.

              Namun, Natsir telah meletakkan tonggak-tonggak yang dipancangkan secara kokoh, tanpa siapapun dapat melupakannya. Adalah Kabinet M.Natsir yang memperjuangkan Indonesia menjadi anggota PBB. Dia memahatkan politik luar negeri ‘bebas aktif’ sejak awal Indonesia merdeka. Tidak pemimpin politik Indonesia yang memiliki pandangan yang jauh ke depan dibandingkan dengan Natsir. Putra dari Alahan Panjang ini pula, yang meletakkan ekonomi ‘Benteng’, yang menghasilkan konglomerat pribumi, seperti Hasjim Ning, Dasaat, Rahman Tamin, Ayub Rais, dan Achmad Bakri dan lain-lain. Tokoh Masyumi ini pula yang membangun konsep Negara berkesejahteraan dalam rangka pembangunan yang diperuntukkan bagi rakyat kecil.

              M.Natsir mempunyai sikap yang tegas, dan tidak mau kompromi dengan Soekarno, dan menolak pengaruh komunisme. Ia ingin menegakkan Islam melalui prinsip-prinsip demokrasi. Meskipun, perjuangan ini menjadi gagal. Tapi, tokoh-tokoh Masyumi telah melakukan ‘sesuatu’ yang berharga bagi masa depan Islam. Mereka tak pernah bergeser dari cita-citanya sampai akhir hayat.
              Tidak salah bila M.Natsir diberikan gelar pahlawan oleh pemerintah. Karena jasa-jasanya yang besar, ketika awal-awal kemerdekaan. Mereka telah memberikan sumbangannya yang berharga, dan sangat penting bagi masa depan Islam dan Indonesia. Patut diteladani oleh siapapun, yang masih mempunyai prinsip dan cita-cita. Wallahu ‘alam

              November 12, 2008

              Yusuf Thala’at, Tukang Kayu Berjihad ke Palestina

              Pekerjaannya tukang kayu dan jual beli hasil-hasil pertanian di Mesir, tabiatnya sangat pemberani, cerdas, sabar dan memiliki jiwa yang sangat tenang, memiliki kepedulian dan semangat untuk membela kaum muslimin, membela saudara-saudaranya di Palestina yang dizalimi penjajah Zionis Yahudi.

              Tukang kayu tersebut bernama Yusuf Thala’at, lengkapnya Yusuf Izzuddin Muhammad Thala’at, lahir pada bulan Agustus 1914 M di kota Ismailiyah, Mesir.

              Setelah berkenalan dengan Imam Hasan Al Banna, Mursyid Am Al Ikhwan Al Muslimin pada tahun 1936, Yusuf Thala’at termotivasi untuk berjuang membela, menolong kaum muslimin, khususnya kaum muslimin di Palestina yang sedang berjuang melawan penjajah Inggris yang didukung Zionis Internasional saat itu.

              Perjuangan menyokong dan membela Palestina dilakukan Yusuf Thala’at dengan berbagai macam cara, mulai dari meyebarkan brosur, mengadakan pelatihan/training tentang membela Palestina, khutbah, ceramah hingga demonstrasi.

              Sepak terjang dan aksi Yusuf Thala’at bersama Jama’ah Al Ikhwan Al Muslimin dalam demonstrasi solidaritas untuk Palestina diliput media masa Mesir. Surat kabar Al Ahram, Mesir yang terbit 13 Juli 1938 menjelaskan, “ Jamaah Al Ikhwan Al Muslimin di kota Ismailiyah mengadakan demonstrasi dari masjid Jami’ Al Abasi menuju kantor Al Ikhwan Al Muslimin untuk memperlihatkan perasaan dan kecintaan mereka pada Palestina. Polisi menangkap sejumlah demonstran. Setelah selesai melakukan penyidikan terhadap mereka, komisaris Ismailiyah mengambil keputusan menahan Hasan Al Banna, Yusuf Thal’at, dan tokoh-tokoh Ikhwan lain. Mereka ditahan selama empat hari demi keperluan penyidikan”.

              Pada tahun 1948, Imam Hasan Al Banna, mengerahkan 10.000 orang pasukan Al Ikhwan Al Muslimin dari Mesir, Suriah dan negara Arab lainnya untuk berjihad ke Palestina melawan penjajah Zionis Yahudi yang mendapat sokongan dari Inggris.

              Yusuf Thala’at termasuk diantara pasukan Al Ikhwan Al Muslimin yang berjumlah 10.000 orang tersebut. Ia merupakan orang yang pertama kali bergegas berangkat jihad ke Palestina bersama sejumlah ikhwan dari Ismailiyah.

              Dengan semangat juang yang tinggi dan tidak ada perasaan takut sedikitpun kecuali kepada Allah swt, Yusuf Thala’at memimpin perang di Dirul Balah melawan tentara Zionis Yahudi. Dalam peperangan itu, 12 orang mujahidin Al Ikhwan Al Muslimin gugur sebagai syuhada.

              Ketika diadakan gencatan senjata untuk menyerahkan jenazah para korban. Panglima perang Inggris tercengang saat melihat mujahidin Al Ikhwan Al Muslimin yang gugur, semua dadanya terkena tembakan peluru. Sehingga peristiwa ini menjadi perbincangan diantara pasukan musuh, mereka mengetahui sikap pejuang yang sejati, pejuang yang tidak mau lari dari medan laga, pejuang yang tidak takut mati, pejuang yang siap menyongsong lawan untuk mendapatkan syahid di jalan Allah.

              وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

              “dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.” (QS: An Nur/24: 52).

              وَلَقَدْ كُنتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِن قَبْلِ أَن تَلْقَوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ

              “Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya”. (QS: Ali Imran/3 : 143)

              Pada tanggal 8 Desember 1954, Koran Bari Matish terbitan Perancis mewartakan bahwa:

              “Pada jam enam pagi tanggal 7/12/1954, bendera hitam dikerek di penjara Kairo dan orang-orang yang divonis hukuman mati digiring, dengan telanjang kaki dan memakai pakaian eksekusi mati berwarna merah.

              Pada jam delapan, dimulailah eksekusi hukuman mati terhadap enam orang Al Ikhwan Al Muslimin: Mahmud Abdul Latif, Yusuf Thala’at, Handawi Dawir, Ibrahim Ath Thayyib, Muhammad Farghali dan Abdul Qadir Audah. Keenam orang ini berjalan ketiang gantungan, dengan keberanian luar biasa dan memuji Allah karena mendapat kemuliaan syahid”.

              وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ

              “dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS: Al Baqarah/2 : 154).

              وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

              “janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS: Ali Imran/3 169).

              مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

              “di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya),” (QS: Al Ahzab/33:23).

              Sahabat Yusuf Thal’at, Syekh Abdul Qadir Audah, seorang hakim yang ahli fikih dan pakar undang-undang, sebelum dieksekusi mati berdoa kepada Allah, “Darahku akan menjadi laknat atas pemimpin-pemimpin Revolusi”.

              Allah mengabulkan doa orang yang terzalimi, darahnya menjadi laknat bagi penguasa yang terlibat dalam eksekusi terhadap para ulama dan pejuang Palestina. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang zalim itu selamat dari sanksi Allah di dunia. Mereka mengalami kehidupan yang sangat tragis.

              Jamal Salim, ketua Mahkamah, menderita penyakit syaraf. Saudara Jamal Salim, Shalah Salim, ginjalnya tidak berfungsi, hinga air kencingnya tertahan dan mati keracunan. Syamsu Badran dijatuhi hukuman seumur hidup. Konselor Abdul Hakim Amir mati bunuh diri atau diracun. Hamzah Basyuni tertabrak truk, hingga tubuhnya terkoyak dan bertebaran di atas tanah. Al Askari Ghunaim ditemukan tewas di tengah kebun. Ash Shaul Yasin diserang untanya dan tulang lehernya retak hingga mati. Abdun Nashir seluruh hidupnya dipenuhi rasa ketakutan dan keresahan, baik dalam keadaan terjaga maupun tidur. Bahkan kuburnya digenangi aliran air.

              Semoga Allah mengumpulkan pejuang-pejuang yang gugur di jalan-Nya bersama Rasulullah saw di dalam surga-Nya yang mulia. Amin.

              Maret 20, 2008

              Duhai Pemuda Islam Bangkitlah!

              Kita masih berada didalam sebuah zaman dimana umat islam berada didalam masa kelemahan. Umat islam yang begitu banyak masih terlena dengan tidur yang berkepanjangan. Pembunuhan, pembantaian yang dilakukan oleh musuh-musuh islam terhadap umat Islam dimana-mana belum cukup untuk membangunkan kita dari tidur yang berkempanjangan tersebut. Mudah-mudahan Allah menjadikan penjajahan Amerika terhadap irak dan seluruh rentetan kejadian-kejadian yang terjadi disana menjadi sebab bangunnya kembali umat Islam. Dan sebab dimana manusia mulai mencari cara yang dapat mereka lakukan untuk membela agama mereka (islam), membela sanak saudara mereka dan membela Negara yang mereka cintai.

              Kita sangat rindu dengan datangnya suatu masa dimana umat islam mulai bangkit dengan zihad nya , dan kita berharap umat islam mulai menjadi berhati-hati dari kelalaian dan mengetahui kehacuran yang diakibatkan oleh musuh-musuh islam yang mengotori tanah, melecehkan harga diri, dan yang mengotori Baitul Maqdis (Masjidil Aqso), dan yang melakukan apa yang ia lakukan terhadap anak-anak umat islam.

              Kita juga mengawal umat mudah-mudahan kita melihat kemajuan muncul dari mereka, dengan munculnya gerakan-gerakan islam, setelah tidur yang berkepanjangan. Dan mereka bangun dan Imlakul islam bangun kembali dari tangan-tangan pemuda islam.

              Dengan bangunnya kembali Imlakul islam , musuh-musuh islam mulai memberikan peringatan untuk berhati-hati. Mereka akan berjuang sekuat tenaga untuk menidurkan kembali umat islam dengan segala daya dan upaya, atau mengalihkan umat islam kepada jalur lain yang bukan tujuan sebenarnya. Karena mereka sangat takut dengan kebangkitan umat islam. Para pemimpin dan pembesar-pembesar musuh islam sudah memperingatkan sejak lama dengan mengatakan:” Umat islam sekarang ini sedang tidur, ketika ia merasakan kekuatannya dan bangun dari tidurnya serta mereka bersatu maka timur dan barat akan berada didalam genggamannya.

              Mereka pada masa-masa yang panjang ini di mana kita berada didalam keterbelakangan, kemunduran, kehinaan berusaha sekuat tenaga dengan segala cara menjaga agar Imlakul islam tetap tidur dan jangan sampai bangun. Siapa sebenarnya Imlakul islam tersebut ? Imlakul islam tersebut adalah pemuda-pemuda islam. Kalian semua wahai para pemuda !. Serang ini musuh-musuh islam sedang melancarkan serangan terhadap pemuda, agar mereka jangan sampai bangun untuk membela agama islam dengan berbagai cara yaitu dengan memisahkan pemuda-pemuda islam dari agama islam sehingga mereka tida peduli dengan apa yang terjadi dengan umat islam. Itu semua mereka lakukan dengan cara mengumbar nafsu syahwat, subhat dan lain sebagainya.

              Mereka berusaha sekuat tenaga agar pemuda-pemuda umat islam tidak sempat mengetahui identitas dirinya, dan tidak kembali kepada qodratnya.

              Mereka berusaha sekuat tenaga untuk meracuni pemikiran-pemikiran pemuda-pemuda islam.

              Mereka berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan para pemuda islam antara mereka dengan kitab suci Al-Qur’an, dan agar mereka mengganti al-Qur’an dengan Koran dan majalah, iklan-iklan yang tidak bermoral.

              Mereka berusaha sekuat tenaga agar kamu semua meninggalkan Bukhori dan Muslim dengan pemikiran-pemikiran barat yang sengaja di mereka ciptakan untuk menghancuran islam.

              Mereka berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara kamu wahai muslim dengan Aqidah islam yang besar.

              Mereka menginginkan pengganti siwak yang ada dimulut kamu dengan rokok yang sangat membahayakan diri kamu sendiri.

              Dan pengganti dari Masjidil Aqso keinginan dan luka yang dalam yang harus ditangisi dengan pacar kamu yang selalu kamu tangisi.

              Mereka menginginkan agar kamu jangan sampai memasuki masjid dan supaya kamu pergi ke Sinema, Film, Dan diskotik.

              Mereka menginginkan dalam jangka waktu yang panjang ini menciptakan perasaan kurang didalam jiwamu, sehingga kamu merasakan bahwa kamu lebih hina dari mereka, seperti sebuah kaum yang datang dari Barat kemudian membawa apa yang ada dibarat dari kebudayaan, ciptaan dan penemuan.

              Mereka menggambarkan Barat seakan-akan surga yang menghijau dan kehidupan yang bahagia.

              Berapa banyak dari pemuda-pemuda islam yang meninggalkan Negara islam dengan harapan bisa tinggal dinegara kafir (barat (Eropa dan Amerika)) dan hidup ditempat yang menyenangkan yang menipu dan dengan kesenanagan-kesenangannya, syahwatnya serta keserba-bolehannya.

              Permasalahannya sekarang ! (Saya harap kalian semua memahami apa yang akan saya sampaikan kepada kalian dan tidak akan ada orang yang mengatakan ini selain saya kepada kalian. Permasalahannya sekarang wahai para pemuda bukan kita Jihad atau Tidak Jihad, Ini adalah cabang dari Al-Asl. Pemasalahan sekarang lebih besar dari medan jihad dan lebih luas. Permasalahan sekarang adalah keislaman kamu (Hubungan kamu dengan agama islam), Pada kartu identitasmu, Apa disana benderamu bendera Islam atau bendera Jahiliyah?.

              Siapa Kamu? Apa Ikatan kamu (hubungan kamu) dengan kitabulloh (al-Qur’an)? Dan apa ikatan kamu dengan sunnah Nabi Muhammad SAW? Wahai kekasihku yang mulia (Muhammad SAW)! Saya beritahukan kepadamu bahwa saya sangat kagum kepadamu..! Tetapi apa yang kamu ketahui tentang kekasihmu Muhammad Saw? Kalaulah saya ingin sekarang mengadakan ujian terhadap sebagaian besar pemuda-pemuda islam sekarang ini, maka saya akan bertanya 10 pertanyaan saja tentang Muhammad, Rasul mereka, Imam mereka, Panutan mereka, nabi mereka, yang akan memberikan syafa’at kepada mereka, yang menyelamatkan mereka, pemimpin mereka. Kita akan mengetahui bahwa kita ternyata sangat bodoh dengan kartu identitas Nabi kita Muhammad Saw.

              Saudara-saudaraku. Ketahui dan yakinlah! Bahwa musuh kita dan seluruh persenjataan mereka bukan bahaya yang sebenarnya. Karena kita akan berhadapan dengan mereka. Kita akan melawan mereka. Meraka hanyalah kumpulan orang-orang pengecut. Ketika mereka masuk wilayah islam, mereka telah masuk ke kandang singa, mereka telah yakin bahwa mereka hanya datang untuk menjemput kuburan (kematian).

              Ketika kita berjihad melawan orang kafir, dan kita menghadapi tentara dan persenjataan mereka. Maka saat itu kita hanya dihadapkan pada dua kemungkinan dan tidak akan ada kemungkinat yang ketiga. Yaitu antara kita akan membunuh mereka atau mereka akan membunuh kita. Kalau kita membunuh mereka, inilah kemenangan. Sedangkan kalau mereka membunuh kita inilah yang di sebut Syahid yang selalu kita cari-cari. Dari sini, perang bukanlah bahaya yang sebenarnya. Bukanlah bahaya bagi seorang muslim untuk dibunuh jasadnya, bukan pula disobek-sobek, atau juga bukan dengan ruh meninggalkan jasad ini.

              Tidak………………….! Saya melihat kematian adalah tujuan dari setiap yang hidup.

              Kamu mati dengan pedang atau kamu mati dengan selainnya. Banyak sebab-sebab kematian tetapi pada dasarnya kematian itu hanyalah satu. Maka kita tidak takut mati dan tidak takut tentara mereka, senjata mereka, rudal mereka, bom mereka dan juga kita tidak takut dengan nuklir mereka.

              Seluruh persenjataan mereka kemungkinan besar hanya bisa menyobek-nyobek tubuh kita, dan kematian ini adalah Syahid. Yang dicari-cari oleh orang yang shaleh.

              Ini semua bukanlah bahaya. Apakah kalian tahu bahaya yang sebenarnya? Bahaya yang sebenarnya adalah Anda terteriak Jihad…..! Jihad…….! Padahal jihad hanyalah cabang dari agama sedangkan anda tidak tau apapun tentang agama islam.

              Kamu berteriak,:” jihad…! Jihad..! Atas dasar apa kamu berjihad? Apa tujuan jihadmu? Dan kamu buta terhadap semua ini.

              Yang bahaya wahai saudara-saudaraku sekalian. Adalah ketika musuh meninggalkan kita (setelah perang), mundur dengan kekalahan. Sedangkan kita tetap berada dalam kebutaan terhadap agama, jauh dari islam, jauh dari Al-Qur’an dan jauh dari Muhammad Saw.

              Musibah yang paling berbahaya adalah ketika pertempuran sudah selesai dan musuh meninggalkan Irak, kemudian kita kembali pada kehidupan yang tidak memiliki cita-cita, tidak punya tujuan, tidak ada risalah dan tidak ada syari’at.

              Musibah yang paling berbahaya wahai saudara-saudaraku sekalian, bahwa musuh membunuh ruh kita (Kotlan Ma’nawiyyan). Apakah kalian tahu apa itu” pembunuhan terhadap ruh?” Yaitu mereka membunuh islam kita, mereka membunuh kecenderungan kita kepada kitabulloh Al-Qur’an. Mereka membunuh ikatan kita terhadap nabi kita Muhammad Saw, mereka membunuh hubungan kita dengan sejarah kita, mereka membunuh syari’at kita (Syari’at islam), tujuan kita yang islamy. Mereka membunuh gerakan kita, optimisme kita, iman kita, kekhusyukan kita, keyakinan kita. (bersambung)

              Maret 20, 2008

              Hakikat Tauhid

              Judul buku                              : Hakikat Tauhid

              Pengarang                             : Dr. Yusuf Qordhowi

              Penerbit                                 : Wahbah Kairo

              Jumlah Halaman                   : 96

              IMAN

              Iman kepada Allah yang diapresiasikan dengan ketaatan dan ibadah kepadanya merupakankan ruh agama-agama samawi yang juga merupakan ruh agama islam serta sumber dari pada seluruh akidah yang ada didalamnya sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur’an dan hadits nabi Muhammad SAW.

              Ketika Al-Quran berbicara tentang rukun-rukun iman dan hal-hal yang berhubungan dengannya, Allah meletakkan Iman kepadanya berada pada urutan pertama, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

              Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Qs. Albaqoroh)

              Didalam buku ini Penulis menjelaskan bahwa Islam tidak menjadikan keimanan terhadap adanya Allah sebagai pokus perhatian utama tetapi mentauhidkan Allah adalah focus utama. Yang paling utama adalah menjelaskan bahwa seluruh makhluk langit dan bumi memiliki pencipta, yang mengatur segalanya, yang memberikan rezki. Dialah Allah, satu-satunya yang berhak untuk sembah. Sebagaiman firman Allah yang artinya :

               102.  (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu.

              103.  Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan dialah yang Maha halus lagi Maha Mengetahui.

               Perhatian yang luar biasa terhadap tauhid memiliki alasan yang kuat. Itu dikarenakan Bangsa Arab dan Bangsa lain baik itu Yahudi maupun Nasrani tidak mengingkari adanya Allah tetapi mereka menjadikan makhluk ciptaan Allah sebagai tuhan yang mereka sembah sebagaimana mereka menyembah Allah. Arab Menyembah Berhala sebagai perantara kepada Allah, Yahudi menjadikan ‘Uzair sebagai anak Allah yang mereka sembah, Nasrani mengangkat Nabi Isa bin Maryam sebagai tuhan dan lain sebagainya.

                           Kemudain untuk membuktikan keEsaan Allah, Dr, Yusuf Qordhowi didalam buku ini memberikan 3 dalil pembuktian. Pertama : Dalil Fitrah, karena secara fitrah manusian mengakui keEsaan Allah. Kedua: dalil Akal yaitu dengan mengamati seluruh ciptaan Allah dilangit maupun bumi. Dan ketiga adalah: dalil Naql yang diambil dari nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad.

               PEMBAGIAN TAUHID

              Tauhid dibagi menjadi 2 bagian dan keduanya tidak bisa dipisah-pisahkan :

              1. Tauhid I’tiqody ‘Ilmy atau dalam Istilah Al-Mutaakhirin disebut tauhid Ar-Rabubuyyah. Yaitu Keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta dan penguasa alam semesta, pengatur segalanya, pemberi rizki, pemberi manfaat dan mudharat. Tak seorang pun yang menolak tauhid rabubiyyah kecuali komunisme dan agama lain yang memang tidak mengakui adanya tuhan. Sikap tidak mengingkarai nin dijelaskan oleh Allah sebagaimana firman Allah di dalam Surat Al- Ankabut: 61, surat Al-’Ankabut: 63, dan surat Al-Mukminun: 83-89.
              2. Tauhid ‘Amaliy Suluky atau dalam istilah Al-Mutaakhirin disebut tauhid Uluhiyyah. Yaitu keyakinan bahwa Allah Adalah satu-satunya tuhan yang berhak disembah, tidak ada sesuatu yang berhak disembah selain Allah baik dibumi maupun di langit. Keyakinan inilah yang di tentang mati-matian oleh Bangsa Arab penyembah berhala, Nasrani, Yahudi, Majusi dan penyembah berhala lainnya.

               Dengan apakah Tauhid ini bisa terwujid ?

              Tauhid ini bisa terwujud dengan tiga hal:
              a.    Ikhlas hanya beribadah kepada Allah.

              b. Ingkar terhadap thagut dan membebaskan diri dari para pengikut dan penyembahnya ( Thagut diambil dari kata Thugyan artinya melampaui batas. Ulama salaf berbeda pendapat terhadap penafsiran Thagut. Pertama: menurut Umar bin Khattab thagut adalah Syaithon. Kedua: menurut Jabir adalah Para dukun karena ayat ini turun terhadap mereka. Ketiga: pendapat Imam Malik bahwa Thagut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah. Ibnu Qoyyum menjelaskan bahwa Thagut adalah ketaatan yang berlebihan dan menyebah kepada selain Allah).

              c.   Menjauhkan diri dari Syirik serta berhati-hati terhadapnya.

               SYIRIK

              Defenisi Syirik adalah menjadikan sesuatu sekutu bagi Allah dalam hal-hal yang merupakan hak prerogative Allah. Seperti menyembahnya, menaaatinya atau meminta perlindungan kepadanya dan sebagainya yang ksusus milik Allah semata.

              Inilah yang disebut dengan syirik akbar, amal ibadah pelakunya tidak akan diterima oleh Allah sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

              Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.(QS. Al-Kahfi :110)

               Allah juga tidak akan mengampuni dosanya, sebagaimana firman Allah SWT

               Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar (QS. Al-Baqoroh).

               Dan Allah mengharamkan surga atasnya dan tempatnya adalah di neraka, sebagaimana firman Allah SWT :

              Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun (QS. Al-Maidah: 72).

               PEMBAGIAN SYIRIK

                          Dalam bab ini Dr. Yusuf Qordhowi membagi syirik menjadi dua bagian yaitu syirik akbar dan syirik asghor. Kemudian syirik akbar  dibagi lagi menjadi dua yaitu jelas (Jaliyyun) dan tersembunyi (Khofiyun). Diantara contoh Syirik akbar tetapi tersembunyi adalah berdoa kepada mait, meminta bantuan pada kuburan dan lain sebagainya.

                          Syirik ini di tersembunyi disebabkan oleh dua perkara:

              1. Karena manusia tidak memasukkan berdoa pada kuburan, meminta sesuatu pada mayit atau minta pertolongan kepadanya masuk dalam kategori ibadah. Karena ibadah menurut mereka hanyalah sujud, ruku’, sholat dan puasa saja padahal inti dari pada ibadah itu adalah berdoa.
              2. Mereka mengatakan:” kami tidak menyembah mereka tetapi kami hanya menjadikan mereka sebagai wasilah (perantara) antara kami dan allah”. Padahal Arab jahiliyyah dulu juga menyembah berhala adalah sebagai perantara antara mereka dan Allah. Sebagaimana firman Allah didalam surat Az-Zumar Ayat : 3). Terus apa bedanya antar mereka dan para penyembah berhala?.

              Dan diatara contoh syirik akbar adalah menjadikan selain allah sebagai musyri’. Atau dalam ungkapan lain, memberikan wewenang kepada seseorang atau sebuah kelompok untuk membuat hukum dan perundang-undangan, mereka yang menentukan yang halal dan yang haram dan membuat metode serta pemikiran yang kesemuanya itu dengan tanpa seizin Allah sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Allah berfirman :

              Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(QS. Qt Taubah :31)

              Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

              Rasulullah SAW telah menafsirkan ayat ini kepada ‘Ady bin Hatim At-Thoi yang ketika jahiliyyah beragama nasrani. Tatkala ia memeluk islam Rasulullah membacakan ayat ini kepadanya. Ia bertanya:” Tetapi mereka tedak menyembah mereka (para rahib)?. Rasulullah menjawab:” Bener! Tetapi mereka (para rahib) mengharamkan bagi mereka yang halal dan menghalalkan bagi mereka yang haram. Kemudian mereka mengikutinya. Itulah bentuk dari ibadah mereka terhadap para rahib.


              Syirik Asghor

                          Selain syirik Akbar ternyata ada juga syirik Asghor. Meskipun syirik asghor ini tidak sampai derajatpada pada kekafiran tetapi posisinya diatas dari pada dosa-dosa besar seperti mencuri, berzina dan lain sebagainya.

              Diantara bentuk-bentuk syirik asghor adalah bersumpah atas nama makhluk, menggantungkan azimat, Ruqyah kecuali ruqyah syar’iyyah. Ulama sepakat bahwa ruqyah syar’iyyah adalah ruqyah yang memenuhi tiga syarat yaitu pertama: ruqyah dengan kalamullah, atau dengan nama serta sifat-sifat Allah, kedua: ruqyah dengan bahasa arab yang bisa di fahami, ketiga: Tidak boleh ada keyakinan bahwa ruqyah memiliki pengaruh tetapi pengaruh hanya datang dari Allah. Contoh lain dari Syirik Asghor adalah praktek  sihir, Tanzim, pelet, pedukunan, bernazar atas nama selain Allah, penyembelihan atas nama selain Allah dan lain sebagainnya.

               

              ISLAM MENUTUP SEMUA SARANA YANG MENJURUS KEPADA SYIRIK

                          Islam datang dengan membawa risalah tauhid serta memerangi syirik akbar maupun syirik asghor, bahkan menutup seluruh pintu maupun sarana yang dapat menjerumuskan seseornag kepada kesyirikan diantaranya:

              1. Larangan mengagungkan rasululah secara berlebihan.
              2. Larangan mengagungkan As Sholihin secara berlebihan.
              3. Larangan mengagungkan kuburan baik itu menjadikannya mesjid, sholat diatasnya, membangun bangunan diatasnya, menulis sesuatau diatasnya, meninggikannya, atau menjadikannya tempat hari raya. (maksudnya menjadikannya tempat berkumpul maupun duduk bersama).
              4. Larangan meminta berkah pada pohon, batu dan lain sebagainya karena berkah hanya datang dari Allah SWT.

               

              PENGARUH TAUHID DAN SYIRIK DIDALAM KEHIDUPAN

              Pengaruh Tauhid

              Pada bab terakhir dari buku ini penulis menjelaskan bebeapa pengaruh tauhid yang ikhlas kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya:

              1.            Tauhid membebaskan manusia, artinya Tauhid membebaskan manusia dari penyembahan terhadap sesuatu yang tidak berhak untuk disembah, membebaskan akal dari khurofat-khurofat, membebaskan kehidupannya dari belenggu Fir’aun dan antek-anteknya yang tidak berhak disembah.

              2.   Tauhid merupakan sumber keamanan bagi diri manusia. Sesorang yang benar-benar memiliki tauhid yang benar maka ia akan terbebas dari ketakutan-ketakutan dunia yang dialami oleh orang-orang musyik dan kafir seperti takut tidak mendapatkan rizki, takut terhadap kematian, takut kehilangan keluarga dan anak-anak, takut terhadap manusia, takut terhadap jin dan takut akan kehidupan setelah mati. Orang mukmin yang  memiliki tauhid yang benar yakin bahwa semua itu adalah datang dari Allah sehingga ia akan tenang dan tidak merasakan ketakutan sama sekali. Karena ketakutan hanyalah terhadap Allah pencipta alam semesta.

              Pengaruh Syirik

                          Adapun bahasa serta pengaruh syirik didalam kehidupan adalah sebagai berikut:

              1.        Syirik adalah penodaan terhadap kemanusian. Karena Allah SWT telah menciptakan manusia sebaik-baik ciptaan serta memuliakannya, mengajarkannya seluruh nama-nama, menciptakan untuknya apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi, memberikan kepadanya akal agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta menjadikannya berkuasa atas makhluk ciptan lainnya. Maka menyembah batu, matahari, bulan dan makhluk alinnya merendahkan martabat kemanusiaan.

              2.        Syirik adalah sarang dari pada kebathilan dan khurofat. Karena ia berkeyakinan bahwa ada tuhan selain Allah seperti planet, jin dan lain sebagainya. Yang kemudian tersebarlah praktek perdukunan, sihir, tanzim dan mereka semua mengaku mengetahui yang ghaib.

              3.        Syirik adalah kedzaliman yang besar.

              4.        Syirik adalah sumber dari pada ketakutan sebagaimana firman Allah didalam surat Ali Imran Ayat : 151).

              5.        Syirik akan mengantarkan seseorang kepada kehidupan yang kekal abadi di dalam neraka sebagai mana sabda Rasulullah SAW:” Barang siapa yang bertemu Allah (meninggal dunia) Dalam keadaan menyekutukan Allah (maka ia akan) masuk neraka. Wallohu A’lam.


               

              Februari 13, 2008

              ILMU ITU BERADA DIDALAM DADA BUKAN DIDALAM TUMPUKAN BUKU

              العلم في الصدور لا في الستور

               Tahun  2007 saya mengunjungi pameran buku internasional di Kairo. Pameran buku ini dilaksanakan dua minggu setiap tahunnya (satu minggu terakhir bulan januari sampai satu minggu diawal februari). Setelah membayar karcis masuk 1 LE, saya memasuki salah satu percetakan besar dan mengambil sebuah buku seraya menanyakan isi buku tersebut kepada palayan. Dengan jujur ia menjawab :” saya tidak tahu”.

              Pengalaman ini hampir sama dengan apa yang di alami oleh Dr. ‘Aid al-Qorny dalam kunjunjungannya kepepustakaan kongres Amerika tahun 1410 H. Pengarang buku best seller “La-Tahzan” ini menemukan buku yang luar biasa banyaknya diberbagai bidang Ilmu pengetahuan. Kemudian ia menanyakan sebuah  buku yang tidak popular kepada salah seorang karyawan perpustakaan yang kebetulan berkebangsaan Mesir. Setelah menekan tombol di Keyboard komuputer, karyawan tersebut memberitahukan dimana buku tersebut berada. Disana Dr. ‘Aid Al-Qorny menemukan ratusan ribu examplar buku, tetapi ia menemukan sebuah keanehan. Mengapa buku yang banyak tersebut belum menunjuki bangsa Amerika kepada agama Allah (Islam), dan belum menunjuki mereka kejalan yang benar.  Mungkin inilah rahasia dari firman Allah SWT yang berbunyi:

              يعملون ظاهرا في الحياة الدنيا وهم عن الآخرة هم غافلون

                           Jika kamu melihat seseorang yang memiliki perpustakaan dengan ratusan ribu bahkan jutaan examplar buku, tidak usah heran dan kaget sebelum mengetahui kadar keilmuan pemiliknya. Karena seseorang dikatakan berilmu bukan karena ia memiliki koleksi buku tetapi bagaimana ia membaca, memahami dan mengamalkan ilmu yang ia miliki. Karena ilmu sebenarnya bukan yang ada didalam tumpukan buku tetapi yang ada didalam dada kita. Didalam surat al-Jum’ah Allah berfirman:

              Artinya:
              “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, Kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim”.
              (QS. Al-Jum’ah ayat )

              Atau seperti perkataan seorang penyair Arab:

              كالعير في الصخراء يقتله الطما          والماء فوق ظهورها محمول

              Laksana kafilan onta yang hampir mati kehausan

              Padahal ia membawa air diatas punggungnya

              Maka bagi saya seorang yang memiliki sebuah mushaf kemudian ia membaca, merenungkannya serta mengamalkannya jauh lebih bermanfaat daripada seseorang yang memiliki koleksi jutaan examplar buku tetapi tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

                          Dalam perjalanan pulang kekampung halaman setelah menuntut ilmu di Thurs, Imam Ghazali beserta rombongannya dicegat oleh para perampok. Mereka merampas seluruh harta kekayaan yang dibawa rombongan termasuk milik Imam Ghazali. Kemudian Imam Ghazali mengikuti para perampot tersebut hingga sampai kemarkas mereka. Tatkala melihat imam Ghazali, salah seorang perampok berteriak:”Kembalilah! Jika tida kamu akan mati!”. Imam Ghazali menjawab:” Demi zat yang kamu harapkan keselamatan darinya, tolong kembalikanlah milikku. Itu sama sekali hanya sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu”.  Ia bertanya:” Apa isinya?”. Imam Ghazali menjawab:” Ia hanya sebuah buku, saya sengaja pergi ke Thurs untuk mendengakannya dari penulis, menulis isinya dan mengetahui ilmunya”. Perampok itu ketawa seraya berkata:” Bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa kamu mengetahui ilmunya padahal kami telah mengambil bukumu dan sekarang kamu sudat tidak memiliki ilmu lagi?”. Perampok tersebut kemudian menyuruh salah seorang temannya untuk mengembalikan buku Imam Ghazali. Imam Ghazali kemudian berkata:” Allah sengaja membimbingnya untuk mengucapkan ucapan tadi untuk menunjuki saya padanya. Setelah kembali kekampung halaman saya langsung menghafal seluruh ilmu yang saya pelajari sehingga jika senadainya saya di cegat perampok lagi maka saya tidak akan kehilangan ilmu”.

                          Ini semua memberikan pelajaran kepada siapa saja yang mau berfikir bahwa ilmu tidaklah cukuk diatas tumpukan kertas,  tetapi harus dipelajari dan diamalkan sehingga bermanfaat didunia maupun di akhirat kelak. Ilmu tanpa diamalkan laksana pohon tanpa buah atau dengan bahasa Al-Qur’an laksana sekor keledai yang membawa tumpukan buku. Na’udzu billahi min Dzailk. Wallohu A’lam  

              Februari 13, 2008

              HOMOSEKSUAL MENURUT PANDANGAN ISLAM

              Homoseksual bisa kita defenisikan sebagai hubungan seksual antara dua orang laki-laki. Perbuatan tak terpuji ini telah terjadi jauh sebelum Allah SWT mengutus Rasulullah sebagai rahmat bagi sekalian alam, yaitu pada kaum nabi Luth A.S. Allah mengutus nabi Luth A.S kepada kaumnya untuk mengajak mereka kejalan yang benar dan agar mereka meninggalkan perbuatan homoseksual ini. Tetapi mereka menolak sehingga Allah memusnahkan mereka dari muka bumi. Kisah nabi Luth A.S ini bisa kita temukan di beberapa surat didalam al-Qur’an.

              Allah kemudian mengutus nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul untuk melengkapi risalah-risalah para nabi dan rasul sebelumnya. Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah secara jelas telah mengharamkan praktek homoseksual dan mengancam pelakunya dengan hukuman yang sangat berat. Dan ini juga telah diyakini oleh sahabat-sahabatnya dan seluruh kaum muslimin selama berabad-abad.

              Setelah kaum nabi Luth A.S musnah dari muka bumi berabad-abad yang lalu, pada saat ini muncul generasi penerus mereka yang secara mati-matian memperjuangkan praktek homoseksual. Amerika dan Eropa berdiri di barisan terdepan, maka tidak heran jika perkawinan ala homoseksual menjadi perkawinan yang sah yang di akui oleh Negara dibeberapa Negara Eropa dan Amerika. Kita patut prihatin, tetapi yang lebih memprihatinkan adalah sikap beberapa cendekiawan muslim yang malah ikut-ikutan membelah praktek ini. Entah itu merupakan keyakian mereka atau memang pengaruh faham liberalisme barat yang sekarang ini sedang menggrogoti umat islam. Hal ini tentu menarik perhatian kita untuk membahas pandangan agama islam terhadap homoseksual.

              Seluruh umat islam sepakat bahwa homoseksual termasuk dosa besar. Oleh karena perbuatan yang menjijikkan inilah Allah kemudian memusnahkan kaum nabi Luth A.S dengan cara yang sangat mengerikan. Allah SWT berfirman:

              Artinya:
              Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, Dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas” (QS. As-Syu’ra : 165-166)

              Bahkan Homoseksual jauh lebih menjijikkan dan hina daripada perzinahan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

              أقتلوا الفاعل والمفعول به (حديث صحيح أخرجه أبو داود والترمذي)

              Artinya:

              Bunuhlah fa’il dan maf’ulnya (kedua-duanya) (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

              Oleh karena itulah ancaman hukuman terhadap pelaku homoseksual jauh lebih berat dibandingkan dengan hukuman bagi pelaku pezina. Didalam perzinahan, hukuman dibagi menjadi dua yaitu bagi yang sudah menikah dihukum rajam, sedangkan bagi yang belum menikah di cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Adapaun dalam praktek homoseksual tidak ada pembagian tersebut. Asalkan sudah dewasa dan berakal (bukan gila) maka hukumannya sama saja (tidak ada perbedaan hukuman bagi yang sudah menikah atau yang belum menikah).

              Sebenarnya ulama-ulama fiqh bebeda pendapat mengenai hukuman bagi pelaku homoseksual. Diantara pendapat para ulama tersebut adalah:

              1. Fuqoha Madzhaf Hanbali: Mereka sepakat bahwa hukuman bagi pelaku homoseksual sama persis dengan hukuman bagi pelaku perzinahan. Yang sudah menikah di rajam dan yang belum menikah dicambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun. Adapun dalil yang mereka pergunakan adalah Qiyas. Karena defenisi Homoseksual (Liwath) menurut mereka adalah menyetubuhi sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah. Maka mereka menyimpulkan bahwa hukuman bagi pelakunya adalah sama persis dengan hukuman bagi pelaku perzinahan. Tetapi qiyas yang mereka lakukan adalah qiyas ma’a al-fariq (mengqiyaskan sesuatu yang berbeda) karena liwath (homoseksual) jauh lebih mejijikkan dari pada perzinahan.
              2. Pendapat yang benar adalah pendapat kedua yang mengatakan bahwa hukuman bagi pelaku homoseksual adalah hukuman mati. Karena virus ini kalau saja tersebar dimasyarakat maka ia akan menghancukan masyarakat tersebut.

              Syekh Ibnu Taymiyah mengatakan bahwa seluruh sahabat Rasulullah SAW sepakat bahwa hukuman bagi keduanya adalah hukuman mati. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

              من وجدتموه يعمل عمل قوم لوط فاقتلوا الفاعل والمفعول به

              Artinya:
              “Barangsiapa kamu temui melakukan perbuatan kaum Luth (Homoseksual), maka bunuhlah al-fail dan al-maf’ul bi (kedua-duanya)”.

              Hanya saja para sahabat berbeda pendapat tentang cara ekskusinya. Sebagian sahabat mengatakan bahwa kedua-duanya harus dibakar hidup-hidup, sehingga menjadi pelajaran bagi yang lain. Pendapat ini diriwayatkan dari khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq. Sahabat yang lain berpendapat bahwa cara ekskusinya sama persis dengan hukuman bagi pezina yang sudah menikah (rajam). Adapun pendapat yang ketiga adalah keduanya dibawa kepuncak yang tertinggi di negeri itu kemudian diterjunkan dari atas dan dihujani dengan batu. Karena dengan demikianlah kaum nabi Luth A.S dihukum oleh Allah SWT.

              Yang terpenting keduanya harus dihukum mati, karena ini adalah penyakit yang sangat berbahaya dan sulit di deteksi. Jika seorang laki-laki berjalan berduaan dengan seorang perempuan mungkin seseorang akan bertanya:”Siapa perempuan itu?”. Tetapi ketika seseorang laki-laki berjalan dengan laki-laki lain akan sulit di deteksi karena setiap laki-laki berjalan dengan laki-laki lain. Tetapi tentunya tidak semua orang bisa menjatuhkan hukuman mati, hanya hakim atau wakilnyalah yang berhak, sehingga tidak terjadi perpecahan dan kezaliman yang malah menyebabkan munculnya perpecahan yang lebih dahsyat. Wallohu A’lam.

              Februari 3, 2008

              Sang Raksasaku, Bangkitlah!

              Hari rabu 28 November 2007, setelah pulang kulliyah saya duduk di depan computer sekedar melepas penat (capek) sambil membaca berita. Saya sangat kaget ketika membaca email dari seorang teman dari Damaskus yang menceritakan tentang keadaan TKW/TKI disana serta penghinaan bangsa lain terhadap warga Negara Indonesia.

              Damaskus (Syiria), Negara kecil yang berbatasan dengan Negara Israel, Palestian dan Iran tersebut ternyata telah menampung lebih dari 45.000 tenaga kerja Indonesia. Belum lagi tenaga kerja yang berada di Malaysia, Jepang, Korea dan lain sebagainya yang keseluruhannya mencapai 200 ribu orang. Karena tenaga kerja inilah muncul anggapan dari bangsa lain bahwa Indonesia adalah Negara yang sangat miskin. Tapi benarkan Indonesia Negara miskin?

              Kalau kita telusuri ternyata Indonesia bukanlah Negara yang miskin. Sumber daya alam yang tak terhingga jumlahnya, petambangan yang luar biasa seperti: minyak, emas, perak, batubara, alumunium dan sebagainya, laut yang terbentang luas dengan jutaan bahkan milyaran kekayaan alam yang terkandung didalamnya, tanah subur yang memungkinkan Indonesia menjadi Negara pertanian terbesar dunia. Sehingga tidak salah kalau kemudian mendapat gelar raksasa tidur. Terus kenapa di Negara kita yang tercinta masih banyak penganguran yang sampai-sampai lebih dari 200 ribu rakyatnya harus terlunta-lunta sebagai tenaga kerja diluar negeri?

              Sekali-kali cobalah lihat Indonesia dari kesehariannya, seperti sepeda motor misalnya. Fenomena ini berbicara banyak bagi seorang ilmuan. Disitu tergurat karakter manusia Indonesia yang tidak sabar, senang jalan pintas, enggan meminta maaf, tidak mau mengalah dan mendahulukan kepentingan pribadi. Pengendara sepeda motor ini tidak segan-segan melaju diatas trotoar menyingkirkan pejalan kaki dan masuk ke jalan cepat (busway) ditambah lagi rasa gengsi yang berlebihan.

              Maka tidak heran (dengan sifat-sifat tadi) lahan-lahan pertanian kosong, warung-warung kopi penuh, mall-mall penuh meskipun pada jam kerja, sumber kekayaan tidak diolah dengan baik. Disisi lain jalan pintas menuju kaya pun menjadi pilihan, menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri meskipun tanpa skill menjadi idaman, korupsi uang rakyat menjadi alternative. Sehingga tidak heran jika Indonesia menjadi Negara terkorup ke-147 dari 179 negara menurut data Transparency International tahun 2007.

              Bagi Mahasiswa diluar negeri sering sekali diejek dengan pertanyaan :”Apakah ada mobil di Indonesia?”  yang seakan-akan Indonesia adalah Negara miskin yang tidak sanggup membeli mobil.

              Tidak usah kita bandingkan Indonesia dengan Negara lain yang sudah maju. Cukuplah kita bandingkan dengan Negara Mesir yang terkenal dengan Negara miskin. DiMesir harga bensih hanya 1 Pound (Rp 1700)per liter padahal harga air minum aqua saja sekarang 1.5 Pounds per liternya. Coba bandingkan dengan Indonesia yang harga bensin sudah melebihi Rp 5000. Contoh lain dalam segi pertanian. Meski lebih dari 2/3 wilayah mesir adalah padang pasing yang tandus, tetapi mereka berhasil mengolah sektor pertanian di sepanjang sungai Nill dengan baik yang menghantarkan Mesir menjadi negera arab terbaik dalam sektor pertanian. Sampai-sampai pada tahun 2005 menarik perhatian anggota DPR RI untuk mengadakan penelitian. Sangat aneh, Bukankah mesir yang seharusnya datang keIndonesia dan bukan sebaliknya.

              Negara kaya seperti Indonesia, rakyatnya tidak akan sengsara kalau bukan karena kezaliman penguasanya dan kejauhan penduduknya dari Sang pencipta. Bukankah Allah telah berfirman yang artinya:”

              Dan Allah telah membuat sebuah perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat. Tetapi penduduknya mengingkari nikmat Allah. Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat”.

              Sekaranglah saatnya kita berbenah diri. Berkaca 10% kebelakang dan berfikir 90% kedepan. Dengan harapan Indonesia bisa bangun dan bangkit dari tidur yang telah berkepanjangan.

               

              Cairo, 03-02-2008

              Desember 9, 2007

              Kisah Kemal Attaturk

              Buat renungan, selamilah semoga dapat iktibar Teladan Dari Kisah Hidup Mustafa Kamal Attatuk. Seorang yang begitu diagung agung Barat sekuler ternyata akhir hidupnya sungguh mengerikan. Pelajaran bagi musuh musuh Islam.

              IDEOLOGI KAMAL ATARTUK DI TURKI

              1. Membolehkan perempuan memakai jilbab dengan syarat pakai skirt/ROK.
              2. Membolehkan lelaki memakai celana panjang dengan syarat pakai tie dan topi (sesuai dengan kehendak barat)
              3. Menyuruh wanita dan lelaki menari di khalayak ramai. Beliau sendiri pernah menari dengan seorang wanita di sebuah pesta umum yang pertama di Ankara.
              4. Beliau pernah menegaskan bahwa “negara tidak akan maju kalau rakyatnya tidak cenderung kepada pakaian modern”
              5. Menggalakkan minum arak secara terbuka.
              6. Mengarahkan Al-Quran dicetak dalam bahasa Turki
              7. Menukar azan ke dalam bahasa Turki. Bahasa Turki sendiri diubah dengan membuang unsur-unsur Arab dan Parsi.
              8. Mengambil arsitek-arsitek dari luar negara untuk memodernkan Turki. Hakikatnya mereka diarah mengukir patung-patung dan tugu-tugunya diseluruh bandar Turki.
              9. Satu ucapan beliau di bandar Belikesir di mana beliau dengan terang-terangannya mengatakan bahawa agama harus dipisahkan dengan urusan harian dan perlu dihapuskan untuk kemajuan.
              10. Agama Islam juga di buang sebagai Agama resmi negara.
              11. Menyerang Islam secara terbuka dan terang-terangan
              12. Mengubah undang-undang perkahwinan berdaftar berdasarkan undang-undang barat.
              13. Menukar Masjid Ayasophia kepada museum, ada sebagian masjid dijadikan gereja.
              14. Menutup masjid serta melarang dari bersembahyang berjemaah.
              15. Menghapuskan Kementerian Wakaf dan membiarkan anak-anak yatim dan fakir miskin.
              16. Membatalkan undang-undang waris,faraid secara Islam
              17. Menghapus penggunaan kalendar Islam dan menukarkan huruf Arab kepada huruf Latin.
              18. Mengganggap dirinya tuhan sama seperti firaun.

              Suatu ketika salah seorang tentaranya ditanya oleh Kamal Attaturk “siapa tuhan dan dimana tuhan tinggal?” oleh kerana takut, askar tersebut menjawab ‘Kamal Atartuk adalah tuhan” beliau tersenyum dan bangga dengan jawapan yang diberikan oleh askar itu.

              KEMATIAN KAMAL ATTARTURK YANG MENYIKSAKAN

              Di saat kematiannya, Allah telah datangkan beberapa penyakit kepada beliau sehingga beliau rasa tersiksa dan tak dapat menanggung siksaan dan azab yang Allah berikan di dunia. Antaranya ialah:

              1. Didatangkan penyakit kulit hingga ke kaki di mana beliau merasa gatal-gatal seluruh badan.
              2. Sakit jantung
              3. Penyakit darah tinggi
              4. Panas sepanjang masa, tidak pernah merasa sejuk sehingga terpaksa diarahkan kepada pemadam kebakaran untuk menyiram rumahnya 24 jam. Pembantu-pembantunya juga diarahkan untuk meletak bongkahan es di dalam selimut untuk menyejukkan beliau. Maha suci Allah, apa pun dibuat rasa panas tak hilang-hilang.

              Oleh kerana tidak tahan dengan kepanasan yang ditanggung, beliau menjerit sehingga seluruh istana mendengar jeritan itu. Oleh kerana tidak tahan mendengar jeritan, mereka-mereka yang bertanggung jawab telah menghantar beliau ke tengah lautan dan diletakkan dalam bot dengan harapan beliau akan merasa sejuk.

              Allah itu Maha Besar, panasnya tak juga hilang! Pada 26 september 1938, beliau pingsan selama 48 jam disebabkan terlalu panas dan sedar selepas itu tetapi beliau hilang ingatan. Pada 9 November 1938, beliau pingsan sekali lagi selama 36 jam dan akhirnya meninggal dunia. Sewaktu beliau meninggal, tidak seorang pun yang memandi, mengkafan dan menyembahyangkan mayat beliau.

              Mayat ini diawetkan selama 9 hari 9 malam, sehingga adik perempuan beliau datang meminta ulama-ulama Turki memandikan, mengkafankan dan menyembahyangkannya. Tidak cukup dari itu, Allah tunjukkan lagi balasan azab ketika mayatnya di bawa ke tanah perkuburan. Bila mayatnya hendak dikubur, tanah tidak menerimanya. Disebabkan putus asa, mayatnya diawetkan sekali lagi dan dimasukkan ke alam museum yang diberi nama EtnaGrafi di Ankara selama 15 tahun (sehingga tahun 1953).

              Selepas 15 tahun mayatnya hendak dikubur semula, tapi Allah Maha Agung, bumi sekali lagi tak menerimanya. Akhirnya mayat dibawa ke satu bukit ditanam dalam satu binaan marmar beratnya 44 ton. Mayat ditanam di celah-celah batu marmar itu.

              Apa yang menyedihkan, ulama-ulama sezaman dengan Kamal Atartuk telah mengatakan bahwa “jangan kata bumi Turki, seluruh bumi Allah ini tidak menerima Kamal Atartuk!” Hanya Allah sahaja yang Maha Mengetahui.

              Renung dan fikirkanlah! Wallahua’lam

              Desember 8, 2007

              Abdullah bin Abbas: Muda Usianya, Luas Ilmunya

              “Ya Ghulam, maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?” tanya Rasulullah suatu ketika pada seorang pemuda cilik.

              “Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah maka engkau akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu.”

              Pemuda cilik itu termangu di depan Rasulullah. Ia memusatkan konsentrasi pada setiap patah kata yang keluar dari bibir manusia paling mulia itu. “Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila engkau meminta, mintalah pada-Nya. Jika engkau butuh pertolongan, memohonlah pada-Nya. Semua hal telah selesai ditulis.”

              Pemuda yang beruntung itu adalah Abdullah bin Abbas. Ibnu Abbas, begitu ia biasa dipanggil. Dalam sehari itu ia menerima banyak ilmu. Bak pepatah sekali dayung tiga empat pula terlam-paui, wejangan Rasulullah saat itu telah memenuhi rasa ingin tahunya. Pelajaran aqidah, ilmu, dan amal sekaligus ia terima dalam sekali pertemuan.

              Keakrabannya dengan Rasulullah sejak kecil membuat Ibnu Abbas tumbuh menjadi seorang lelaki berkepribadian luar biasa. Keikhla-sannya seluas padang pasir tempatnya tinggal. Keberanian dan gairah jihadnya sepanas sinar matahari gurun. Kasihnya seperti oase di tengah sahara.

              Hidup bersama dengan Rasulullah benar-benar telah membentuk karakter dan sifatnya. Sebuah kisah menarik melukiskan bagaimana Ibnu Abbas ingin selalu dekat dengan dan belajar dari Rasulullah. Suatu ketika, benaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar ten-tang bagaimana cara Rasulullah shalat. Malam itu, sengaja ia menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Alharits, istri Rasulullah.

              Sepanjang malam ia berjaga, sampai terdengar olehnya Rasulul-lah bangun untuk menunaikan shalat. Segera ia mengambil air untuk bekal wudhu Rasulullah. Di tengah malam buta itu, betapa terkejutnya Rasulullah menemukan Abdullah bin Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudhu untuknya.

              Rasa bangga dan kagum membuncah dalam dada Rasulullah. Beliau menghampiri Ibnu Abbas, dan dengan lembut dielusnya kepala bocah belia itu. “Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu,” demikian do’a Rasulullah malam itu.
              Setelah berwudhu, Rasul kembali masuk ke rumah untuk menunai-kan shalat malam bersama istrinya. Tak tinggal diam, Ibnu Abbas pun ikut menjadi makmumnya. Awalnya ia berdiri sedikit di belakang Rasulullah, kemudian tangan Rasulullah menariknya untuk maju dan hampir sejajar dengan beliau. Tapi kemudian ia mundur ke belakang, kembali ke tempatnya semula.

              Usai shalat, Rasulullah bertanya pada Ibnu Abbas, kenapa ia melakukan hal itu. “Wahai kekasih Allah dan manusia, tak pantas kiranya aku berdiri sejajar dengan utusan Allah,” jawabnya. Di luar dugaan, Rasulullah tidaklah marah atau menunjukkan raut muka tidak suka. Beliau justru tersenyum ramah menyejukkan hati siapa saja yang melihatnya. Bahkan beliau mengulangi doa yang dipanjatkan saat Ibnu Abbas membawa air untuk berwudhu tadi.

              Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hij-rah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, 13 tahun umurnya. Semasa hidupnya Rasulullah benar-benar akrab dengan mereka yang hampir seusia dengan Abdullah bin Abbas. Ada Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan sahabat-sahabat kecil lainnya.

              Kerap kali Rasulullah meluangkan waktu dan bercanda bersama mereka. Tapi tak jarang pula Rasulullah menasehati mereka.
              Saat Rasulullah wafat, Ibnu Abbas benar-benar merasa kehilangan. Sosok yang sejak mula menjadi panutannya, kini telah tiada. Siapa lagi yang menghibur kepedihan di malam dingin dan gelap dengan senyum dan doa yang sejuk tiada tara. Siapa lagi yang menanam semangat saat jiwa layu dan hati lusuh tertutup debu.

              Tapi keadaan seperti itu tak berlama-lama mengharu-biru pera-saannya. Ibnu Abbas segera bangkit dari kesedihannya, iman tak boleh dibiarkan terus menjadi layu. Meski Rasulullah telah berpu-lang, semangat jihad tak boleh berkurang. Maka Ibnu Abbas pun mulai melakukan perburuan ilmu.

              Didatanginya sahabat-sahabat senior, ia bertanya tentang apa saja yang mesti ditimbanya. Tak hanya itu, ia juga mengajak sahabat-sahabat lain yang seusianya untuk belajar pula. Tapi sayang, tak banyak yang mengikuti jejak Ibnu Abbas. Sahabat-sahabat Ibnu Abbas merasa tak yakin, apakah sehabat-shabat senior mau memperhatikan mereka yang masih anak-anak ini. Meski demi-kian, hal ini tak membuat Ibnu Abbas patah semangat. Apa saja yang menurutnya belum dipahami, ia tanyakan pada sahabat-sahabat yang lebih tahu.

              Ia ketuk satu pintu dan berpindah ke satu pintu rumah saha-bat-sahabat Rasulullah. Tak jarang ia harus tidur di depan pintu para sahabat, karena mereka sedang istirahat di dalam rumahnya. Tapi betapa terkejutnya mereka tatkala menemui Ibnu Abbas sedang tidur di depan pintu rumahnya.

              “Wahai keponakan Rasulullah, kenapa tak kami saja yang mene-mui Anda,” kata para sahabat yang menemukan Ibnu Abbas tertidur di depan pintu rumahnya beralaskan selembar baju yang ia bawa.

              “Tidak, akulah yang mesti mendatangi Anda,” kata Ibnu Abbas tegas. Demikiankan kehidupan Ibnu Abbas, sampai kelak ia benar-benar menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Saking tingginya dan tak berimbang dengan usianya, ada orang yang bertanya tentangnya.

              “Bagaimana Anda mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?”
              “Dengan lidah dan gemar bertanya, dengan akal yang suka berpikir,” demikian jawabnya.

              Karena ketinggian ilmunya itulah ia kerap menjadi kawan dan lawan berdiskusi para sahabat senior lainnya. Umar bin Khattab misalnya, selalu memanggil Ibnu Abbas untuk duduk bersama dalam sebuah musyawarah. Pendapat-pendapatnya selalu didengar karena keilmuannya. Sampai-sampai Amirul Mukminin kedua itu memberikan julukan kepada Ibnu Abbas sebagai “pemuda tua”.

              Do’a Rasulullah yang meminta kepada Allah agar menjadikan Ibnu Abbas sebagai seorang yang mengerti perkara agama telah terwujud kiranya. Ibnu Abbas adalah tempat bertanya karena kege-marannya bertanya. Ibnu Abbas tempat mencari ilmu karena kesukaannya mencari ilmu.

              Salah seorang sahabat utama, Sa’ad bin Abi Waqash pernah berkata tentang Ibnu Abbas. “Tak seorang pun yang kutemui lebih cepat mengerti dan lebih tajam berpikirnya seperti Ibnu Abbas. Ia juga adalah orang yang banyak menyerap ilmu dan luas sifat santunnya. Sungguh telah kulihat, Umar telah memanggilnya saat menghadapi masalah-masalah pelik. Padahal di sekelilingnya masih banyak sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Lalu majulah Ibnu Abbas menyampaikan pendapatnya, dan Umar tidak hendak berbuat melebihi apa yang dikatakan Ibnu Abbas.”

              Pada masa Khalifah Utsman, Ibnu Abbas mendapat tugas untuk pergi berjihad ke Afrika Utara. Bersama pasukan dalam pimpinan Abdullah bin Abi Sarh, ia berangkat sebagai mujahid dan juru dakwah. Di masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, ia pun menawarkan diri sebagai utusan yang akan berdialog dengan kaum khawarij dan berdakwah pada mereka. Sampai-sampai lebih dari 15.000 orang memenuhi seruan Allah untuk kembali pada jalan yang benar.

              Di usianya yang ke 71 tahun, Allah memanggilnya. Saat itu umat Islam benar-benar kehilangan seorang dengan kemampuan dan pengetahuan yang luar biasa. “Hari ini telah wafat ulama umat,” kata Abu Hurairah menggambarkan rasa kehilangannya. Semoga Allah memberikan satu lagi penggantin